Vesper 10
Screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp

Kita dapat tumbuh dan menghasilkan buah hanya jika kita tetap bersatu dengan Yesus, dan persatuan yang tak terpisahkan terdiri dari tiga lingkaran konsentris seperti yang ada pada batang pohon, demikian inti renungan Paus Fransiskus menjelang akhir Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen.

Karena serangan linu panggul yang menyakitkan, Paus Fransiskus sendiri tidak hadir memimpin  Vesper ekumenis yang diikuti para pemimpin berbagai gereja Kristen serta komunitas-komunitas gerejawi untuk menutup pekan doa itu di tempat biasa Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, tempat Rasul Agung itu dimakamkan.

Renungan Paus tentang “persatuan yang sangat diperlukan” yang datang dari tinggal di dalam Yesus itu dibacakan oleh Presiden Dewan Kepausan untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen Kardinal Kurt Koch dalam Vesper di hari Pesta Bertobatnya Santo Paulus Rasul, 25 Januari, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News.

Tingkat persatuan pertama, menurut Paus, adalah berdiam di dalam Yesus, “titik awal perjalanan setiap orang menuju persatuan.” Tinggal bersama Yesus dimulai dengan doa, yang memungkinkan kita mengalami kasih-Nya. “Inilah persatuan pertama,” kata Paus, “integritas pribadi, karya kasih karunia yang kita terima dengan tinggal di dalam Yesus.”

Persatuan di antara umat Kristen adalah lingkaran kedua. “Kita semua adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang sama,” kata Paus seraya menegaskan, yang dilakukan setiap orang mempengaruhi orang lain. Di sini sekali lagi, doa sangat penting, karena menuntun kita untuk saling mencintai. Ini tidak mudah, kata Paus, maka kita harus minta kepada Tuhan “untuk memangkas prasangka kita terhadap orang lain, dan keterikatan duniawi yang menghalangi persatuan penuh dengan semua anak-Nya.”

Lingkaran terbesar mencapai segenap umat manusia. Di sinilah, kata Paus, “kita bisa renungkan pekerjaan Roh Kudus.” Roh Kudus menuntun kita untuk mencintai tidak hanya orang-orang yang mencintai kita, “tetapi untuk mencintai semua orang, seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.” Seperti Orang Samaria yang Baik Hati, kita dipanggil menjadi sesama bagi semua orang, untuk mencintai bahkan orang yang tidak membalas cinta kita.

Bersatu melayani sesama bisa membantu kita “untuk menyadari sekali lagi bahwa kita bersaudara,” dan menuntun kita “untuk tumbuh dalam persatuan.” Demikian pula, kata Paus, Roh Kudus dapat mengilhami kita untuk “merawat rumah kita bersama, membuat pilihan yang berani” tentang cara menjalani hidup.

Menurut Paus, Roh Kudus adalah “arsitek perjalanan ekumenis,” yang mengilhami doa bersama di Basilika Santo Paulus itu. Paus berterima kasih kepada “semua orang yang dalam proses Minggu ini, telah berdoa dan terus berdoa untuk persatuan umat Kristen,” dan menyambut perwakilan Gereja dan komunitas-komunitas gerejawi yang mengambil bagian dalam upacara itu, baik secara langsung atau secara virtual karena pandemi.

“Saudara dan saudari terkasih, semoga kita tetap bersatu dalam Kristus,” kata Paus seraya berdoa, “Semoga Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita membuat kita merasa bahwa kita adalah anak-anak Bapa, saling bersaudara, bersaudara alam satu keluarga manusia kita” dan “Semoga Tritunggal Mahakudus, persekutuan cinta, membuat kita tumbuh dalam persatuan.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Screenshot/pcp
Screenshot/pcp

Tinggalkan Pesan