Prince of Peace

Kita pasti pernah mendengar dan mungkin juga setuju dengan ungkapan yang berbunyi, “Rumahku adalah Istanaku.” Dulu, ketika Ama saya masih ada, setiap kali ia habis pergi jalan-jalan bersama anaknya entah keluar negri atau keluar kota, saya sering bertanya, “Ama, gimana jalan-jalannya, senang ga?” Dengan tersenyum, ia selalu menjawab, “Ya … senang, namanya juga jalan-jalan. Tapi, lebih enak di rumah sendiri, walau kecil tapi bebas mau melakukan apapun.”

Dan memang benar adanya, karena berapa pun lamanya Ama saya tinggal di luar negeri, tinggal di hotel atau di rumah anaknya yang lain, toh akhirnya ia tetap kembali dan merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri.

Kini, bagaimana dengan kita, di masa pandemi ini banyak di antara kita terutama para lansia harus ‘stay at home’ dan tidak bisa keluar rumah dengan bebas seperti dulu. Karenanya, “sudahkah kita menjadikan rumah kita sebagai ‘istana’ yang membuat kita merasa kerasan dan nyaman tinggal di dalamnya?”

Sahabat terkasih, kita semua pasti mengerti bahwa yang membuat rumah kita menjadi seperti ‘istana’, itu bukan perkara seberapa megahnya rumah kita dan mewahnya barang-barang atau perabot yang ada di dalamnya, tetapi sesungguhnya yang terpenting adalah adakah damai di dalam rumah kita. Dalam hal ini, kedamaian adalah sesuatu yang gratis, tetapi perlu usaha untuk mewujudkannya.

Oleh karena itu, jika boleh kita renungkan sejenak, “apakah usaha yang telah kita lakukan untuk menghadirkan damai di dalam rumah kita?”

Bacaan Injil hari ini (Lukas 10: 1-9), mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya, dan berkata kepada mereka, “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”

Meski kata-kata ini merupakan perintah Yesus kepada murid-murid-Nya, tetapi syukur kepada Allah, sebab Tuhan Yesus adalah Sang Guru yang baik yang juga melakukan apa yang Ia ajarkan atau katakan. Hal yang sama pasti akan Ia lakukan apabila Ia berkenan hadir di rumah (hati) kita pribadi lepas pribadi, yaitu membawa damai sejahtera sebab Yesus adalah Sang Raja Damai.

Sehingga, pertanyaan sekarang adalah, “apa yang menjadikan kita layak untuk menerima damai sejahtera tersebut?” Semoga, semua ini dapat menginspirasi kita semua agar kita pun mau selalu mengundang Yesus untuk tinggal di dalam rumah dan hati kita. Hal ini perlu, supaya rumah kita sungguh dapat menjadi ‘istana’ bagi kita dan seluruh keluarga kita dimana ada damai sejahtera di dalamnya.

Dan, berdasarkan kata ‘DAMAI’, ada 5 tips atau hal yang kiranya perlu kita lakukan supaya kita layak menerima damai sejahtera dari Allah, yaitu:

D = ‘Doa’, sungguh hanya di dalam doa, hati kita akan merasa tenang,
A = ‘Amin’, yang artinya kita mau selalu percaya bahwa doa yang kita panjatkan pasti akan terkabul,
M = ‘Maaf’, sebab dengan mengampuni dan diampuni hati kita pun akan terlepas dari beban yg selama ini membelenggu kita,
A = ‘Asa’ atau tidak mudah putus asa, karena di dalam pengharapan akan Tuhan, tidak ada lagi kekuatiran dan rasa takut, sebab kita tahu ada tangan Tuhan yang senantiasa menopang kita,
I = ‘Iman’, dalam hal ini beriman tidak hanya cukup dengan kata-kata saja, tetapi juga lewat perbuatan kasih.

(Frater Agustinus Hermawan OP)

Tinggalkan Pesan