Pastor Nicanor Austriaco OP (Screenshot dari Youtube Seminari Santo Carolus Borromeus)
Pastor Nicanor Austriaco OP (Screenshot dari Youtube Seminari Santo Carolus Borromeus)

Seorang imam Dominikan Filipina dan profesor biologi mendorong orang di media sosial untuk menerima vaksin virus corona, dan menekankan kepercayaannya pada pengobatan modern dan keahlian biologi.

Pastor Nicanor Austriaco OP, penulis dan profesor biologi untuk Providence College di Rhode Island, mengeluarkan postingan Facebook 10 Januari yang menekankan keyakinan pada vaksin Covid-19 dan manfaatnya bagi masyarakat.

“Jelasnya, segera setelah vaksin Covid-19 tersedia dan saya memenuhi syarat, baik di AS atau di sini di Filipina, saya berniat untuk divaksinasi. Juga, begitu vaksin itu tersedia untuk ibu saya di sini di Filipina, saya akan dorong dia untuk divaksinasi,” kata imam itu.

Vaksin Covid-19, itu, kata imam itu, akan bantu selamatkan nyawa dan memperlambat gangguan sosial dan lockdown, yang akan membantu masyarakat kembali ke tingkat normal. Berkenaan dengan keprihatinan tentang vaksinasi itu dan perkembangannya yang cepat, imam itu mengatakan vaksin itu dikembangkan dalam waktu singkat karena para ilmuwan memiliki dana tak terbatas dari “pemerintah yang putus asa” yang berusaha menyelesaikan pandemi global dan efek negatifnya pada perekonomian setiap negara.

Puluhan ribu orang, kata Pastor Austriaco, telah melalui uji klinis dan menunjukkan riwayat singkat penelitian virus corona dan vaksin itu. Vaksin mRNA, yang digunakan untuk obati virus ini, jelas imam itu, ditemukan lebih dari 50 tahun lalu, dan virus-virus RNA, termasuk subkelas virus corona, telah dipelajari selama beberapa dekade.

“Saya percaya proses ilmiah yang telah menyelidiki pengembangan dan pengujian vaksin ini,” kata imam itu. “Vaksin ini bergantung pada beberapa dekade penelitian. Tidak seperti para ilmuwan yang baru bangun di suatu pagi di awal pandemi dan mulai dari seadanya,” kata imam itu, yang juga membahas beberapa kemungkinan masalah, seperti efek samping ringan, reaksi alergi besar, rumor medis, dan kekhawatiran spiritual.

Vaksin itu, kata imam itu, memiliki efek samping kecil seperti demam ringan dan rasa lelah, tetapi mencatat bahwa itu semua adalah tanda bahwa proses itu bekerja dan vaksin itu meningkatkan sistem kekebalan. “Sebagai seorang Kristen, saya diajari bahwa dunia yang rusak hanya dapat ditebus dengan pengorbanan. Inilah arti Salib. Dalam pandangan saya, beberapa hari rasa tidak enak dan ketidaknyamanan yang saya kira akan dialami setelah setiap dosis vaksin Covid-19 akan jadi sumbangan saya pada pengorbanan yang menyembuhkan dunia (lih. Kol 1:24).”

Pastor itu mengakui, mungkin akan ada reaksi alergi dan mungkin terjadi pada sekelompok kecil individu. Dari 1.893.360 vaksinasi, jelas imam itu, tercatat 21 kasus respons alergi parah dalam dua minggu pertama kampanye vaksin AS. Dikatakan, semua individu yang mengalami efek samping yang parah punya riwayat reaksi alergi yang buruk. Lebih lanjut imam itu menambahkan bahwa EpiPen bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ini.

Imam itu menyebut banyak rumor tentang vaksin itu, seperti keterkaitan tak benar dengan kemandulan, kematian, dan perubahan DNA individu. Walau ada orang meninggal setelah menerima vaksin itu, kata imam itu, tak ada bukti bahwa vaksinasi itu penyebab kematian. Klaim bahwa vaksin itu menyebabkan kemandulan atau perubahan DNA juga tidak masuk akal dan tidak didukung oleh ilmu pengetahuan, lanjut biarawan Dominikan itu.

Pastor Austriaco juga mengomentari keprihatinan moral di balik vaksin itu. Beberapa vaksin Covid-19, katanya, diproduksi oleh fetal cell lines yang berasal dari aborsi berusia puluhan tahun. Dia menunjuk pada tanggapan Gereja dan pilihan pribadinya sendiri.

“Sebagai seorang imam, saya tahu bahwa orang yang berbeda memiliki kepekaan berbeda terhadap kejahatan. Ada yang merasa sangat jahat. Yang lain merasa tidak begitu jahat. Oleh karena itu, kita hendaknya mengharapkan orang berbeda mencapai kesimpulan moral berbeda yang bahkan bisa saling bertentangan sementara keduanya tetap merupakan tanggapan yang luhur,” kata imam itu.

“Secara pribadi, saya akan pilih menghindari vaksin yang dibuat dengan cell lines ini. Tapi, seperti dikatakan oleh Vatikan sendiri, tidaklah bermoral memanfaatkan sendiri vaksin yang kontroversial secara moral ini, terutama jika tidak ada pilihan lain yang tersedia.”

Pastor Austriaco berterima kasih atas keberhasilan vaksin yang terlihat sejauh ini, dan mengatakan bahwa vaksin itu merupakan karunia mengejutkan dari Allah.

“Akhirnya, saya yakin, keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan sungguh, tak terduga, yang telah kita saksikan dalam produksi vaksin ini adalah berkat dari Tuhan. Jika kau katakan kepada saya dalam lockdown pertama bahwa akan ada beberapa vaksin aman dan efektif yang siap digunakan di tahun pertama pandemi, saya akan gelengkan kepala tidak percaya,” kata imam Dominikan itu.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Catholic News Agency)

Tinggalkan Pesan