Pembaptisan Tuhan oleh Yohanes di Sungai Yordan (© BAV Urb.gr.2, f.109v)
Pembaptisan Tuhan oleh Yohanes di Sungai Yordan (© BAV Urb.gr.2, f.109v)

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Pesta Pembaptisan Tuhan, 10 Januari 2021: Markus 1: 7-11)

Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.

Seringkali, kita bertanya, “mengapa Yohanes harus membaptis Yesus?” Kita menyadari bahwa baptisan Yohanes adalah tanda lahiriah dari pertobatan batiniah. Jika seseorang menerima pembaptisan Yohanes, itu berarti orang tersebut membutuhkan pertobatan, dan berarti dia orang berdosa. Apakah ini berarti bahwa Yesus adalah orang yang berdosa, karena Dia meminta baptisan Yohanes? Yesus yang adalah Allah, tidak berdosa. Lalu, “mengapa Yesus tetap dibaptis?” Markus tidak memberi jawaban eksplisit, namun Gereja memberi alasannya. Di dalam Katekismus Gereja Katolik tertulis, “Baptisan Yesus adalah penerimaan dan pengukuhan misinya sebagai Hamba Allah yang menderita. Dia membiarkan dirinya terhitung di antara orang-orang berdosa … Dia sudah mengantisipasi ‘baptisan’ dari kematiannya yang berdarah … [KGK 536]. ”

Sederhananya, baptisan Yesus berbicara tentang solidaritas dengan kita para pendosa, dan solidaritas tidak berhenti pada baptisan Yohanes, tapi ini akan menemukan pemenuhannya di kayu salib. Sebagai orang berdosa, kita pantas mati, tetapi Tuhanlah yang mati untuk kita. Pengertian Gereja ini sungguh indah, tetapi apakah ini benar-benar ada di benak para penginjil, terutama Markus?

Ketika Yesus dibaptis, Markus menggambarkan langit ‘terbelah’ dan suara terdengar, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Kata Yunani untuk ‘membelah’ adalah ‘schizo,’ dan kata yang sama digunakan lagi oleh Markus ketika dia menceritakan kejadian di Bait Allah ketika Yesus wafat di kayu salib: tirai raksasa yang memisahkan tempat suci dan tempat tersuci di dalam Bait Suci Yerusalem, terbelah [lih. 15:38]. Sementara itu, Markus juga menceritakan seorang perwira Romawi yang menyatakan bahwa Yesus adalah benar-benar Putra Allah setelah menyaksikan kejadian luar biasa saat kematian Yesus. Dengan pola dasar antara apa yang terjadi di saat pembaptisan dan di kayu salib, Markus ingin mengatakan kepada kita bahwa kedua peristiwa ini memang terkait. Baptisan menunjuk ke Salib, dan Salib adalah penggenapan dari Baptisan Yesus.

Dari sini, kita tahu kenapa Bapa ‘berkenan kepada Putra-Nya.’ Ini karena melalui pembaptisan-Nya, Yesus memberi tanda kepada kita semua bahwa Dia akan melakukan kehendak Bapa-Nya yakni menuju Salib dan Kebangkitan. Meskipun Yesus tidak berdosa, Dia memikul beban dosa kita dan mati untuk kita sebagai bukti kasih Bapa bagi kita.

Jika dalam baptisan-Nya, Yesus menerima salib, kita sebagai umat Kristiani yang telah dibaptis juga dipanggil untuk memikul salib kita. Saat kita berpartisipasi di salib Kristus dan memikulnya dengan setia, kita bisa berharap untuk mengasihi lebih dalam. Saat kita mengasihi lebih dalam, kita bisa berharap untuk keselamatan kita.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan