Ist
Ist

Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik dan Majelis Pekerja Harian (MPH) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengutuk pembantaian empat warga dalam satu keluarga dan pembakaran sejumlah rumah warga serta satu rumah warga yang dijadikan tempat ibadah di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

PP Pemuda Katolik dalam pernyataan sikapnya menyatakan berduka cita mendalam atas peristiwa mengerikan 27 November itu dan “mengecam dan mengutuk keras atas kejahatan sadis para pelaku tindakan teror terhadap pembakaran Pos Pelayanan luar Gereja Bala Keselamatan (BK) di Lewonu, pembakaran rumah Jemaat dan serangan yang mengakibatkan korban jiwa, serta menimbulkan keresahan masyarakat.”

Pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum Karolin Margret Natasa dan Sekretaris Jenderal Christopher Nugroho di Jakarta, 28 November, itu berharap tidak terjadi aksi-aksi serupa di masa yang akan datang, karena “Aksi tersebut merupakan bentuk terorisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.”

“Kejadian ini mempertontonkan perilaku barbar dan biadab yang harus dikecam oleh semua orang beradab,” demikian siaran pers MPH-PGI yang mengungkapkan belarasa dan keprihatinan mendalam kepada keluarga yang berduka, dan kepada segenap pelayan serta jemaat Gereja Bala Keselamatan di Desa Lemban Tongoa.

Selain mendesak aparat keamanan, pemerintah daerah agar serius memberikan rasa aman  dan perlindungan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan suku dan agama, karena “Indonesia adalah negara hukum  dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” PP Pemuda Katolik mendesak aparat penegak hukum  mengungkap motif dan aktor peristiwa yang merupakan bentuk teror yang mengancam NKRI itu.

PP Pemuda Katolik mengajak seluruh umat Katolik untuk berani mencegah aksi kekerasan dan jadi benteng utama persatuan. “Jangan mau diadu domba oleh kelompok-kelompok yang ingin merongrong Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita harus aktif memutus rantai kekerasan dan intoleransi serta senantiasa taat kepada peraturan perundang-undangan,” tulis mereka seraya mengimbau seluruh rakyat Indonesia dan kader-kader Pemuda Katolik “agar jangan terprovokasi dan tetap menjaga kerukunan.”

Sementara itu, majelis pekerja harian PGI dalam pernyataan yang ditandatangani oleh Humas PGI Philip Situmorang Mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk “sesegera mungkin mengusut tuntas kasus ini, menangkap dan menindak tegas para pelaku pembantaian biadab ini.” Selain itu, lanjut mereka, “perlu dikordinasikan tindakan cepat untuk memulihkan trauma keluarga korban dan masyarakat sekitar, serta memberikan jaminan keamanan dan ketenteraman bagi masyarakat agar tidak ada lagi ancaman teror.”

Mereka juga mengimbau masyarakat “untuk tetap tenang, memelihara kerukunan dan persaudaraan, sambil sepenuhnya mendukung upaya pemerintah untuk menangani kasus ini” dan mendorong peran tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk “proaktif dalam penanggulangan gerakan ekstremisme yang melegalkan cara-cara terror yang sungguh menodai nilai-nilai luhur agama maupun kebangsaan.”

Selain mengajak gereja-gereja dan umat beragama lain untuk tekun berdoa agar tragedi kemanusiaan di Sulawesi Tengah segera terselesaikan, dan keluarga para korban serta masyarakat lain diberi kekuatan dan perlindungan, MPH-PGI mengajak setiap keluarga Kristen untuk “menyalakan satu lilin Adven di awal rangkaian Minggu Adven yang menandakan bahwa harapan tak akan pernah pudar di tengah prahara, serta menaikan doa syafaat bagi para korban serta keluarga korban pembantaian” itu.(PEN@ Katolik/pcp/Konrad Mangu)

 

 

Tinggalkan Pesan