Paus Fransiskus bertemu Diego Armando Maradona di Vatikan
Paus Fransiskus bertemu Diego Armando Maradona di Vatikan

Pesepakbola Argentina, Diego Armando Maradona, yang dianggap banyak orang sebagai pemain terhebat sepanjang masa meninggal 25 November di rumahnya di Tigre, di pinggiran Buenos Aires, Argentina, karena serangan jantung. Tanggal 30 Oktober lalu, juara sepak bola Argentina itu berusia 60 tahun, dan tanggal 4 November, dia menjalani operasi kepala guna menghilangkan bekuan di otak.

Diego beberapa kali bertemu Paus Fransiskus, yang merupakan penggemarnya. Tapi yang terutama adalah pertemuan 4 September 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan, sebelum pertandingan amal. Diego menghadiahkan Paus dengan seragam nomor 10 yang terkenal dengan tulisan “Francisco.” Paus juga bertemu Maradona tahun 2015, sebagai bagian dari inisiatif dan proyek Scholas Occurentes.

Direktur Kantor Pers Takhta Suci Matteo Bruni mengatakan Paus “mengingat dengan kasih sayang saat-saat [dia dan Maradona] bertemu beberapa tahun terakhir, dan mengingatnya dalam doa, seperti yang dia lakukan dalam beberapa hari terakhir setelah mengetahui kesehatannya yang buruk.”

Maradona, yang dianggap banyak orang sebagai pemain terhebat sepanjang masa, tetapi banyak kelemahan, dikenang karena memenangkan Piala Dunia 1986. Dia mencium piala itu, menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di Stadion Azteca raksasa Meksiko. Itulah puncak karir Diego Maradona, puncak sesuai pekerjaan hidupnya, “untuk menjadi, melakukan, mencapai, dan menang.”

Diego yang terlahir dalam kemiskinan yang amat sangat, tulis James Blears dari  Mexico City di Vatican News 26 November, mengangkat dirinya dengan tali sepatu, memukau lawan dan mendapatkan rasa hormat dari penggemar olahraga di seluruh dunia. Bola seakan menempel di kaki kiri emasnya. Yang terbaik, dan yang terbaik adalah yang tertinggi, dan dia tidak ada bandingannya.

Tetapi seperti orang jenius lain, keahlian dan kecemerlangannya terbatas pada satu bidang tertentu, dan dia berjuang keras dalam aspek-aspek lain dalam hidupnya yang dikepung dengan masalah-masalah berkaitan dengan narkoba dan alkohol, yang tidak pernah dia maafkan atau sembunyikan, dan melawan mereka dengan segenap kemampuannya dan mempublikasinya.

Di perempat final Piala Dunia 1986 yang legendaris, ia membuat marah Tim Inggris dengan gol “Tangan Tuhan.” Namun, beberapa menit kemudian mereka terkesima dan takjub dengan gol terbesar sepanjang masa. Dia melewati gelandang dan pertahanan Inggris, mengalahkan enam pemain Inggris dan mencetak gol melewati tangan kiper Peter Shilton yang putus asa. Hanya Maradona yang bisa mencetak gol itu. Itu tidak pernah tertandingi, apalagi menjadi lebih baik sejak itu.

Gary Lineker dari tim Inggris memberikan penghormatan setelah kematian Maradona, dengan mengatakan, “Diego adalah pemain terbaik dari generasi saya dan bisa dibilang yang terbesar sepanjang masa.”

Pele, yang menyaingi Diego untuk posisi teratas berkata, “Saya telah kehilangan seorang teman baik dan dunia telah kehilangan seorang legenda. Suatu hari saya berharap kita bisa bermain sepak bola bersama di langkit.”

Presiden Argentina Alberto Fernandez mengatakan, “Engkau membawa kami ke puncak dunia, dan engkau membuat kami sangat bahagia. Engkau terhebat di antara mereka semua.” Federasi Sepak Bola Argentina menyatakan, “Engkau akan selalu ada di hati kami.” Leonel Messi mengatakan, “Diego meninggalkan kita, tapi dia tidak meninggalkan kita … karena dia abadi.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan