Tahbisan empat imam Karmel di Maumere. Semua foto ini diambil dengan screenshot  oleh PEN@ Katolik/pcp dari Youtube  Carmel_IT Channel
Tahbisan empat imam Karmel di Maumere. Semua foto ini diambil dengan screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp dari Youtube
Carmel_IT Channel

Kasih Allah tidak pernah berkesudahan dalam hidup orang beriman. Allah selalu menghadirkan orang-orang pilihannya untuk mengusap air mata dan jeritan orang-orang kecil dan tertindas. Kita tidak bisa bermegah dan berfoya-foya di tengah kemiskinan umat. Kita tidak bisa bermalas-malasan dalam tugas pelayanan, bergaya hidup mewah, sementara umat kita terhimpit ketidakadilan dan kekerasan. Kita adalah gembala yang siap terluka karena kita mau berkurban dalam kesetiaan dan kekudusan.

Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr berbicara dalam homili Misa tahbisan empat imam baru Ordo Karmel (OCarm) di Kapel Karmel Beato Dyonisius Maumere, 15 November. Komisaris Komisariat Ordo Karmel Indonesia Pastor Stefanus Buyung OCarm, Provinsial Karmel Provinsi Indonesia Pastor Ignatius Budiono OCarm dan sekitar 30 imam menghadiri tahbisan itu.

Kepada empat imam baru itu Mgr Edwal menegaskan, menjadi imam adalah menjadi pelayan yang berusaha menyebarluaskan kasih Allah lewat pewartaan dan sikap hidup, menjadi pelayan bagi sesama, bukan menjadi pejabat yang diagung-agungkan. “Menjadi gembala pada zaman ini harus siap terluka, tetapi tetap berusaha agar satu domba pun tak hilang,” tegas Mgr Edwal.

Menyentil Kitab Amsal 31:10, “Istri yang cakap siapakah yang mendapatkannya?” Pastor Budiono menegaskan bahwa empat imam baru “tidak bisa memiliki istri, karena sudah ditahbiskan menjadi imam,” dan mulai hari ini, lanjutnya, istri dari empat imam baru itu adalah Gereja.

Mewakili teman-temannya, imam baru Pastor Fransisko Febriano Wutun OCarm dengan rendah hati meminta dukungan doa dari uskup Maumere, para imam, orang tua dan umat seluruhnya. “Menjadi imam pada zaman sekarang tidak mudah. Tawaran kenikmatan duniawi tak dapat dihindarkan. Sebagai manusia yang rapuh kami sangat membutuhkan dukungan doa,” tegas imam itu.

Para imam baru, Pastor Nikolaus Jata OCarm asal Paroki Santo Eduardus Nangapanda, Keuskupan Agung Ende, yang mengusung moto tahbisan “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu (Luk 1:38b), ditugaskan ke sebuah paroki di Keuskupan Sorong-Manokwari. Pastor Stefanus Fua Tangi OCarm asal Paroki Roh Kudus Mataloko, Bajawa, dengan moto “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz 119:105) ditugaskan ke SMAK Jember Jawa Timur. Pastor Antonius Iki OCarm asal Paroki Santo Fransiskus Xaverius Koting Maumere dengan moto “Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu” (Maz 119:88) ditugaskan ke Novisiat Karmel Nita Maumere. Pastor Fransisko Febrianto Wutun OCarm asal Paroki Santo Thomas Morus Maumere dengan moto “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13) ke sebuah paroki di Sumba Barat Daya.

Gaudium et Spes, menurut Mgr Edwal, mengundang kita semua menjadi bagian dari suka duka dunia dan tawa dan tangis sejarah, dan mengajak kita untuk tabah dan setia dan senantiasa mengandalkan Kristus dalam jatuh bangun ziarah ini.

“Di mana pun kita berkarya, yakinlah itu sebagai kesempatan untuk berbagi rahmat. Lakukanlah perbuatan baik yang kecil dan sederhana dengan penuh ketulusan hati dan yakinlah Roh Kudus akan senantiasa menyertai karya baik dalam nama Tuhan Yesus,” kata Uskup Maumere kepada para imam baru dalam tahbisan yang disemarakkan dengan musik Gong Waning “Bege Kumak Bura” dan Tarian Hegong. (PEN@ Katolik/yuven fernandez)

OCarmOCarm 4OCarm3OCarm2OCarm1OCarm 5

 

Tinggalkan Pesan