Romo Bagya 7
Misa Requiem Pastor Subagya dipimpin oleh Provinsial Serikat Jesus (SJ) Indonesia Pastor Benedictus Hari Juliawan SJ dengan konselebran Rektor Komunitas Santo Stanislaus Girisonta Pastor Markus Yumartana SJ dan Pastor Paul Suparno SJ dari CLC (screenshot oleh pcp)

“Terima kasih Romo, untuk warisan komunitas Christian Life Community (CLC) Indonesia, yang boleh kami terima, nikmati, hidupi, dan lestarikan. Doa kami menemanimu menuju peristirahatan abadi, pengalaman mendalam bersamamu, menjadi penghiburan abadi bagi kami. Selamat jalan. Rindu kami. Sampai kita jumpa lagi. CLC di Indonesia.”

Pernyataan itu ditulis dalam clcindonesia.wordpress.com, Sabtu, 14 November 2020. Hari itu, tepatnya pukul 00.45 dini hari, Pastor Joannes Subagya SJ, 82 tahun, dipanggil Tuhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Semarang, karena gagal jantung.

Hari itu, menurut Asisten Gerejani CLC Indonesia Pastor Paul Suparno SJ, pesan masuk ke CLC penuh ucapan bagi Pastor Subagya. Salah satunya mengatakan, “Romo terima kasih banyak. Lewat Romo saya menjadi pribadi seperti ini.” Menurut Pastor Suparno, saat mahasiswa, orang itu dibimbing dari tidak suka fisika menjadi suka, dari tidak mau menjadi guru, akhirnya senang menjadi guru, dan setelah lama menjadi guru, berhenti sebagai guru dan menjadi suster sampai hari ini.

Namun, kata Pastor Suparno dalam khotbah Misa Requiem dan Pemakaman di Pemakaman Taman Maria Ratu Damai, Girisonta, hari itu pukul 11.00 WIB, “Kalau ada yang tanya siapa yang beruntung karena hadirnya Romo Bagya di dunia, saya akan tunjuk jari pertama karena saya ini muridnya, lalu diangkat jadi sahabat, teman dosen, bukan hanya murid di pelajaran fisika tapi juga murid di CLC.”

Pastor Suparno jadi konselebran bersama Rektor Komunitas Santo Stanislaus Girisonta Pastor Markus Yumartana SJ dalam Misa yang dipimpin Provinsial Serikat Jesus (SJ) Indonesia Pastor Hari Juliawan SJ. Pastor Subagya itu “ranting yang bersatu dengan pokok anggur yaitu Yesus sendiri,” kata Pastor Suparno berdasarkan Injil Yohanes 15:1-5.

Ketika sudah merasa sepuh, cerita imam itu, “Romo Bagya masuk kamar saya dan minta saya gantikan dia, padahal kebiasaan di serikat kalau cari pengganti harus ngomong ke provinsial dulu, tapi dia tidak.” Namun karena dosen dan ketua jurusannya itu bicara dengan bahasa Kromo bukan bahasa Indonesia “bagi saya itu menarik, maka menolak juga agak sulit, bahkan dia langsung ajak saya kursus untuk jadi Asisten Gerejani CLC. Baru setelah itu dia ngomong dengan provinsial supaya nama saya didaftarkan.”

Pengalaman menarik lain adalah cara Pastor Subagya mendampingi mahasiswa. “Dia pendamping sangat sederhana yang rela mendengarkan. Maka sebelum seseorang yang punya persoalan ungkapkan pemikiran atau perasaannya, dia tidak akan bicara. Ternyata setelah saya pelajari dalam ilmu pendidikan, itu model paling bagus untuk membantu orang, dan banyak orang terutama mahasiswa terbantu.”

Pastor Suparno mengaku tinggal cukup lama dengan Pastor Subagya di Komunitas Bellarminus Yogyakarta. “Yang paling menonjol, dia itu pribadi sungguh sederhana, ngak neko-neko, bahkan begitu sederhana sehingga suka lupa ambil honor sebagai dosen. Maka suatu hari ada keuntungan bagi Sanata Dharma dan Komunitas de Britto karena setelah dia pindah ternyata ada uang atas nama Romo Bagya.”

Juga menarik, lanjutnya, “kala gerilya pindahan, kita yang muda-muda suka buka buku-bukunya yang ditinggalkan dan kita menemukan uang 10 ribu atau lima ribu yang pasti merupakan stipendium Misa yang dia lupa, hanya diletakkan di buku. Sangat sederhana.”

Pastor Subagya orangnya kalem. “Jarang orang yang ketemu dia ngomong marah. Paling-paling hanya tertusuk. Saat orang-orang CLC mengunjungi beliau yang sakit di sini. Dia hanya tersenyum memandang. Dia sangat mencintai CLC. Kalau orang CLC datang, meski sudah tidak bisa bicara, dia buka mata lalu mulai senyum. Memang hatinya ada di situ.” Maka, “tidak heran kalau Romo Bagya begitu favorit di kalangan CLC, terutama yang sudah sepuh. Hampir semua tersapa, di Wonasari, Magelag, Jogya, Bandung, Surabaya dll.”

Waktu itu ada aturan pemerintah bahwa dosen harus S2, lanjut imam itu, “sebenarnya ilmunya melebih S2, tapi harus formalitas, maka waktu kuliah di Gajah Mada, dia bantu semua teman kelas untuk belajar sampai lulus S2, tetapi dia tak mau meneruskan untuk lulus S2. Tak tahu, apakah sudah dibisiki provinsial akan pindah. Tapi jelas, dia tak mau.”

Pastor Suparno memuji keteguhan dan ketaatan Pastor Subagya. Ketika ditanya apakah mau jadi superior di Bellarminus, dia tidak mau tapi terima karena diminta oleh provinsial. Namun sebagai superior, banyak persoalan pelik dia selesaikan tanpa mengelu. “Dia begitu setia dalam serikat. Dia juga memberi kepercayaan kepada orang lain sungguh penuh dan dengan itu banyak orang terbantu.”

Semua pengalaman ini, menurut imam itu, “menunjukkan bahwa Romo Bagya pribadi yang dekat dengan Yesus sendiri, hidupnya mau diberikan kepada orang lain lewat gayanya yang sederhana. Hidupnya dan ketaatannya sangat sederhana. Tapi, justru kesederhanaan itu banyak menyentuh orang.”

Dengan meninggalnya Pastor Subagya, kata Pastor Hari Juliawan SJ, di saat tahun 2020 baru memasuki bulan ke-11, Provinsi Indonesia SJ telah kehilangan delapan anggota. “Meskipun berat tapi bangga kepada saudara-saudara kami ini yang setia sampai akhir menjalankan panggilan dan tugas hidupnya bersama banyak orang di tengah Gereja dan masyarakat. Dan kami percaya, mereka akan digantikan oleh saudara-saudara muda yang akan bergabung dengan SJ,” tegas pastor provinsial itu.

Menurut catatan Jesuit Indonesia, saat bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Antonius, Muntilan, Pastor Subagya dikenal oleh umat di sana sebagai imam yang rajin berolah raga, “bahkan meski sudah sepuh, ia masih sanggup naik turun dengan baik ke lantai dua atau lantai satu pastoran Muntilan.”

Pastor Subagya lahir di Semarang, 1 Juli 1938, dari pasangan Constantius Mochamad dan Veronica Roemiarsi Mochamad. Sehari kemudian, ia menerima Sakramen Baptis di Paroki Santo Yusuf Gedangan. Di usia sembilan tahun, ia terima Sakramen Penguatan di situ juga.

Pastor Subagya menempuh pendidikan dasar di Magelang (1945-1952) dan Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan (1952-1959). Setelah diterima di SJ, dia mulai formasi anggota Jesuit 7 September 1959 di Novisiat Santo Stanislaus Kostka, Girisonta. Di situ juga dia ucapkan kaul I SJ dan diterima oleh provinsial Pastor G Kester SJ, 8 September 1961. Selama setahun berikut, ia jalani tahun Juniorat, juga di tempat yang sama. Seusai Juniorat, dia diutus jalani formasi filsafat di Poona, India (1962-1965) dan Tahap Orientasi Kerasulan dengan studi Ilmu Pasti di IKIP Sanata Dharma (1965-1969), kemudian formasi teologi di Yogyakarta (1970-1973).

Dia ditahbiskan subdiakon dan diakon oleh Kardinal Justinus Darmojowono, 7 Desember 1972, dan 8 Desember 1972 dia ditahbiskan imam oleh kardinal yang sama di Yogyakarta. Program formasi tersiat dijalaninya enam bulan (Januari-Juli 1979) di Girisonta di bawah bimbingan Pastor A Soenarja SJ, dan 2 Februari 1981, Pastor Subagya mengucapkan Kaul Akhir dalam SJ dan diterima oleh Pastor Suradibrata SJ dengan gradus profess empat kaul.

Pastor Subagya jadi anggota Komisi Pendidikan Provindo (1990-1993 dan 2001-2003), Koordinator Komisi Pendidikan Provindo (1993-2001), anggota Komisi de Ministeriis Provindo (1996-1999), Ketua Yayasan de Britto (1980-1987), Ketua sekaligus Anggota Yayasan de Britto (1991-1997), Ketua Yayasan Loyola, Semarang (1997-2006), dan Anggota Yayasan Kanisius (1995-1999 dan 2005-2012).

Imam itu pernah jadi Dosen Fisika dan Matematika IKIP Sanata Dharma (1974-1980), Dekan Program Studi Fisika IKIP Sanata Dharma (1976-1980), Promotor CLC IKIP Sanata Dharma (1977-1980), Konsultor Rumah Kolese Santo Robertus Bellarminus (1981-1990), Superior Rumah Kolese Johanes de Britto Yogyakarta (1990-1997), Rektor Kolese Santo Ignatius Loyola Semarang (1997-2006), Pastor Rekan Paroki Santo Antonius Muntilan (2006-2015), Pendoa untuk Gereja dan Serikat (2015-wafatnya).

Pastor Hari Juliawan SJ mengatakan dalam Misa Requiem yang disiarkan oleh Komsos Girisonta bahwa lewat kepribadiannya yang “nyentrik” seperti dikatakan orang di banyak lembaga pendidikan dan lewat penemanan dan pendampingannya di kelompok-kelompok seperti CLC, Pastor Subagya meninggal pada usia lanjut membawa banyak kenangan bagi orang-orang yang pernah mendapat sentuhannya.(PEN@ Katolik/Paul C Pati)

Gambar dari wordpress CLC
Gambar dari wordpress CLC

rm-bagya

Pastor Paul Suparno SJ
Pastor Paul Suparno SJ

Romo Bagya 1

1 komentar

Tinggalkan Pesan