rm-maryono
Pastor Romualdus Maryono Pr

Pastor Romualdus Maryono SJ yang lahir di Wonosobo, 7 Februari 1959, dari pasangan suami-istri Bapak FX Supardi Pawira Suwita dan Mutilina Mujinem Pawirasuwita, menerima tahbisan diakon di Seminari Bunda Maria Fatima, Dili, dari tangan Mgr Dom Basilio Pr, 16 Juni 1997. Setelah tahbisan imam di Gereja Santo Antonius Padua, Yogyakarta, dari tangan Uskup Agung Semarang Mgr Julius Darmaatmadja, 30 Juli 1997, Pastor Maryono kembali ke Dili menjadi Minister di Seminari Bunda Maria Fatima (1997-2000) selain bertugas sebagai Bendahara Yayasan Puslawita, Dili, hingga 2003.

Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia 20 Mei 2002 dengan nama resmi “Timor Leste.” Namun, tahun 2000, Pastor Maryono pindah ke Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta, sebagai minister hingga 2004.

Setelah menjalani berbagai tugas di Indonesia termasuk Pendamping Imam Muda Serikat Jesus Provinsi Indonesia (2008-2011) dan Anggota Komisi Pelayanan Gereja Serikat Jesus Provinsi Indonesia (2014-2018), imam itu meninggal dunia hari Kamis, 12 November 2020, pukul 10.05 WIB, di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Semarang, dalam usia 61 tahun.

Selama di seminari di Dili itu, menurut catatan dari Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pastor Maryono “adalah orang yang memiliki perhatian sangat besar terhadap para seminaris yang saat itu hidup dalam ketidakpastian. Beliau setia memenuhi kebutuhan hidup para seminaris yang sedang kalut karena menjadi target pencarian para milisi di Kupang.”

Pastor yang menurut catatan provinsialat SJ “ringan tangan dan rendah hati mengatur dan melayani kesejahteraan para romo paroki SJ di Semarang,” dibaptis di Gereja Santo Paulus, Wonosobo (22 Februari 1959), menerima Sakramen Krisma di Gereja Santo Yusup, Paroki Mertoyudan, Magelang (4 Oktober 1985), menyelesaikan SD Pius Wonosobo (1966-1971), SMP Bhaktimulia, Wonosobo (1971-1974), dan SPG Pangudi Luhur (1974-1977).

Mantan guru SD di Wonosobo (1978-1981) dan karyawan bidang kesekretariatan di Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Wonosobo (1981-1985) itu kemudian tertarik menjadi imam dan mendaftar di program Kursus Persiapan Atas (KPA) Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan.

Setelah masuk Novisiat SJ Santo Stanislaus Kostka Girisonta (7 Juli 1986) dan ucapkan kaul pertama (6 Juli 1988), Frater Maryono menempuh studi filsafat di STF Driyarkara (1988-1992) dan Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta sebagai Asisten Direktur (1992-1994). Dan setelah formasi teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Unika Sanata Dharma, Yogyakarta (1994-1997), dia menerima tahbisan tonsura, tahbisan rendah, dan tahbisan sub-diakon di Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta.

Formasi akhir (tersiat) dijalaninya di Kolese Stanislaus, Girisonta (1 Januari 2001-31 Juli 2001) dan dia mengucapkan Kaul Akhir di hadapan Provinsial Serikat Jesus Indonesia Pastor Agustinus Priyono Marwan SJ di Gereja Santo Yusup, Gedangan, 7 September 2004.

Paroki-paroki yang pernah dilayani oleh Pastor Maryono adalah Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Tangerang, sebagai pastor rekan (2004-2005); Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q, Jakarta sebagai pastor kepala (2005-2011); dan Paroki Santa Theresia, Bongsari, sebagai pastor kepala (2011-2016).

Sejak 2016 hingga meninggal, Pastor Maryono berkarya sebagai Acting Superior Komunitas Santo Yusup Semarang dan Pastor Kepala Paroki Santo Yusup, Gedangan, Semarang, dan menurut Serikat Jesus Provinsi Indonesia, “saat bertugas sebagai Pastor Paroki Gedangan, beliau selalu mengajak para imam paroki SJ di Semarang untuk bertemu setiap senin pertama di awal bulan.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan