Pelatakan Batu Pertama Ledalero
Suasana peletakan batu pertama (PEN@ Katoliki/yf)

Sebuah bangunan besar dan kokoh tersusun dari batu-batu yang kuat. Batu pertama menjadi dasar sekaligus patokan bagi batu-batu yang diletakkan sesudahnya. Peletakan batu pertama mengandung keyakinan bahwa manusia hanya bisa memulai sesuatu secara sederhana dan kecil, sedangkan dalam tangan Tuhan terletak segala kesempurnaan dan mahkota terindah dari sebuah bangunan.

Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr menyampaikan hal itu dalam ibadat syukur peletakan batu pertama gedung kuliah Lembaga Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero di Wairklau, Maumere, 31 Oktober 2020.

Pembangunan gedung kuliah itu untuk menyambut pengembangan STFK Ledalero menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif dengan tiga program studi (prodi) baru Kewirausahaan, Manajemen Informatika dan Desain Komunikasi Visual. Selama ini STFK Ledalero memiliki tiga prodi yakni Filsafat, Magister Teologi, dan Pendidikan Keagamaan Katolik.

Menurut Mgr Edwal, terobosan STFK Ledalero untuk membangun gedung kuliah di kota Maumere dengan tiga program studi baru “adalah terobosan penting sebagai pembaktian rasa tanggungjawab dan jawaban atas rahmat cinta Allah sejak 51 tahun kehadirannya.”

Mgr Edwal mengakui, dalam berbagai perjalanan pelayanan pastoral ia mendapat kesan penting dan membanggakan bahwa hadirnya STFK Ledalero memberikan kontribusi besar karena perilaku kehidupan akademik dan rohani mahasiswa-mahasiswi serta keterlibatan sosial mereka di tengah masyarakat Kabupaten Sikka.

“STFK Ledalero adalah perguruan tinggi berkualitas dan berkarakter. Saya bangga karena STFK Ledalero berada di gereja lokal Keuskupan Maumere,” kata Mgr Edwal.

Provinsial SVD Ende Pastor Lukas Jua SVD mengatakan, dengan pembangunan gedung kuliah di kota Maumere, STFK Ledalero mau mengatakan bahwa “sekarang kami terbuka untuk membina calon mahasiswa awam yang akan dibentuk menjadi agen-agen perubahan di dalam masyarakat Indonesia.”

Provinsial itu berharap kaum muda dari berbagai golongan dan agama yang nanti menimba ilmu di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif “mampu menjadi orang berkompeten dalam bidangnya dan berwawasan luas serta tumbuh dalam keyakinan akan nilai-nilai universal yang dilaksanakan di semua agama.”

Wakil Ketua I STFK Ledalero Pastor Yosef Keladu Koten SVD mengakui bahwa tiga prodi baru itu adalah “tahapan awal untuk meningkatkan status menuju Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif,” di tengah upaya inovasi STFK Ledalero sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat.” Dokumen persyaratan yang akan diajukan ke lembaga layanan Dikti Denpasar, jelas imam itu, sedang disiapkan.

Menurut Ketua Panitia Pastor Maxi Kunu SVD bangunan gedung kuliah yang didesain tiga lantai berisi laboratorium dan 18 ruang kuliah itu menelan dana 24,7 miliar rupiah.(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan