30 Oktober
Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik keluar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?’

Pernahkah Anda mendengar istilah penyakit ‘Busung Air’? Penyakit busung air atau ascites merupakan suatu kondisi penumpukan atau penimbunan cairan di dalam rongga perut. Biasanya kondisi ini diakibatkan oleh adanya penyakit pada bagian organ dalam tubuh seperti sakit liver, kanker, gagal ginjal, dan gagal jantung. Salah satu ciri yang paling khas dari busung air ini adalah adanya cairan berwarna kuning dan bening yang memenuhi rongga perut yang mengakibatkan perut menjadi kembung atau membesar.

Bacaan Injil hari ini, 30 Oktober (Lukas 14: 1-6), melukiskan seorang yang sakit busung air datang kepada Yesus. “Pada suatu hari Sabat, Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang Farisi untuk makan di situ. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya, ‘Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?’ Mereka itu diam semuanya.

Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, ‘Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik keluar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?’ Mereka tidak sanggup membantah-Nya.”

Sahabat terkasih, jika Tuhan Yesus bertanya, “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Apakah jawaban Anda? Kita dapat menjawab ‘boleh’, karena kita lebih mengutamakan belas kasih dan sisi kemanusiaan di atas segalanya.

Orang sakit mana yang tidak ingin segera sembuh? Anak-anak bahkan orang tak beragama sekalipun, pasti tahu bahwa menyembuhkan orang sakit adalah suatu perbuatan baik yang harus dilakukan kapan pun juga.

Namun sayangnya, hal itu tidak dilakukan oleh orang-orang Farisi saat itu. Mereka mengerti betul tentang ajaran agama dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalamnya. Mereka diam, bukan karena mereka tidak tahu jawabannya, tetapi karena mereka ingin mempertahankan status quo dan ego mereka.

Orang-orang Farisi tidak mau berubah karena mereka takut kehilangan pengaruh di dalam masyarakat. Itulah sebabnya mereka menjadi cemas dan berusaha menyingkirkan Yesus ketika banyak orang berpaling dari mereka dan mengikuti-Nya. Dalam hal ini, ujung-ujungnya adalah duit (uang). Sebab, jika banyak orang tidak lagi percaya kepada mereka, maka jumlah persembahan yang mereka terima juga akan berkurang.

Maka, bagaimana dengan pemimpin Gereja Katolik saat ini? “Apakah mereka hanya utamakan jabatan dan berusaha mempertahankan pengaruh mereka, ataukah senantiasa berusaha mengedepankan kebutuhan dan keutuhan Gereja beserta umat-Nya?”

Semoga, semua ini menginspirasi hati dan pikiran kita semua supaya mempunyai hati penuh belas kasih dan peka terhadap kebutuhan sesama. Meskipun berbuat baik di jaman ini tidaklah mudah. Akan tetapi, tetaplah berbuat baik, karena kebaikan itu bersumber dari Allah. Hal itu dikatakan Santo Paulus dalam Bacaan Pertama (Fil 1:1-11). “Allah yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan