Poster promosi "Francesco"
Poster promosi “Francesco”

“Francesco,” sebuah film dokumenter yang baru dirilis tentang kehidupan dan pelayanan Paus Fransiskus, telah menjadi berita utama sedunia, karena film itu berisi adegan di mana Paus Fransiskus menyerukan pengesahan undang-undang ikatan sipil bagi pasangan sesama jenis.

Beberapa aktivis dan laporan media menyatakan bahwa Paus Fransiskus telah mengubah ajaran Katolik melalui pernyataannya. Di kalangan banyak umat Katolik, komentar paus itu menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya Paus katakan, apa artinya, dan apa yang Gereja ajarkan tentang ikatan sipil dan pernikahan sipil.

Catholic News Agency melihat pertanyaan-pertanyaan yang diangkat itu dan pemimpin redaksinya, J.D. Flynn, menjelaskannya. Karena persoalan ini juga hangat didiskusikan di tanah air, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Apa yang Paus Fransiskus katakan tentang ikatan sipil?

Pada sebuah segmen dalam “Francesco” yang membahas reksa pastoral Paus Fransiskus tentang umat Katolik yang identifikasi diri sebagai LGBT, Paus membuat dua komentar berbeda.

Pertama, kata Paus, “Homoseksual punya hak untuk menjadi bagian dari keluarga. Mereka adalah anak-anak Tuhan dan memiliki hak sebuah keluarga. Tidak ada yang harus dibuang, atau dibuat sengsara karenanya.”

Walaupun Paus tidak merinci makna pernyataan dalam video itu, namun sebelumnya Paus Fransiskus telah mendorong orang tua dan kerabat agar tidak mengucilkan atau menghindari anak-anak yang diidentifikasi sebagai LGBT. Ini sepertinya berarti bahwa Paus berbicara tentang hak orang untuk menjadi bagian dari keluarga.

Ada yang berpendapat, kalau Paus Fransiskus berbicara tentang “hak sebuah keluarga,” Paus memberikan semacam dukungan diam-diam untuk diadopsi oleh pasangan sesama jenis. Tetapi sebelumnya Paus telah berbicara menentang adopsi semacam itu, dengan mengatakan bahwa melalui adopsi-adopsi itu anak-anak “dirampas dari perkembangan manusia mereka yang diberikan oleh ayah dan ibu dan dikehendaki Allah,” dan mengatakan “setiap orang membutuhkan ayah laki-laki dan ibu perempuan yang bisa membantu mereka membentuk identitas mereka.”

Tentang ikatan sipil, Paus mengatakan, “Yang harus kita ciptakan adalah undang-undang ikatan sipil. Dengan cara itu mereka dilindungi oleh undang-undang.”

“Saya membela itu,” lanjut Paus Fransiskus yang tampaknya mengacu pada usulnya kepada sesama uskup dalam debat 2010 di Argentina tentang pernikahan gay, bahwa menerima ikatan sipil mungkin adalah sebuah cara untuk menghindari peberimaan undang-undang pernikahan sesama jenis di negara itu.

Apa yang Paus Fransiskus katakan tentang pernikahan gay?

Tidak ada. Topik pernikahan gay tidak dibahas dalam film dokumenter itu. Dalam pelayanannya, Paus Fransiskus sering kali menegaskan ajaran doktrinal Gereja Katolik bahwa pernikahan adalah berpasangan seumur hidup antara satu pria dan satu wanita.

Meski Paus Fransiskus sering mendorong sikap menyambut umat Katolik yang diidentifikasi sebagai LGBT, Paus juga mengatakan “pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita,” dan mengatakan “keluarga terancam oleh meningkatnya upaya dai beberapa pihak untuk mendefinisikan ulang institusi pernikahan itu,” dan upaya-upaya untuk mendefinisikan ulang pernikahan “mengancam merusak rencana Allah untuk penciptaan.”

Mengapa komentar Paus tentang ikatan sipil menjadi masalah besar?

Meski Paus Fransiskus sebelumnya telah membahas ikatan sipil, dia belum secara eksplisit mendukung gagasan itu di depan umum. Meskipun konteks kutipan dalam film dokumenter itu tidak sepenuhnya terungkap, dan mungkin saja Paus tambahkan kualifikasi-kualifikasi yang tidak terlihat di kamera, dukungan ikatan sipil untuk pasangan sesama jenis adalah pendekatan yang sangat berbeda untuk seorang Paus, yang lain dari posisi dua pendahulunya yang terakhir tentang masalah ini.

Tahun 2003, dalam sebuah dokumen yang disetujui Paus Yohanes Paulus II dan ditulis oleh Kardinal Joseph Ratzinger, yang menjadi Paus Benediktus XVI, Kongregasi Ajaran Iman mengajarkan bahwa “penghormatan terhadap kaum homoseksual dengan cara apa pun tidak bisa mengarah pada persetujuan perilaku homoseksual atau pada pengakuan hukum atas ikatan homoseksual.”

Bahkan jika ikatan sipil mungkin dipilih oleh orang-orang yang bukan pasangan sesama jenis, seperti saudara kandung atau teman berkomitmen, CDF itu mengatakan hubungan homoseksual akan “dilihat terlebih dahulu dan disetujui oleh hukum,” dan bahwa ikatan sipil “akan mengaburkan nilai-nilai moral dasar tertentu dan menyebabkan devaluasi institusi pernikahan.”

“Pengakuan hukum atas ikatan homoseksual atau menempatkannya pada level yang sama dengan pernikahan tidak hanya berarti persetujuan atas perilaku menyimpang, dengan konsekuensi menjadikan model dalam masyarakat saat ini, tetapi juga akan mengaburkan nilai-nilai dasar yang merupakan warisan bersama umat manusia,” tegas dokumen itu.

Dokumen CDF 2003 berisi kebenaran doktrinal, dan pendirian-pendirian Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI tentang betapa sangat baik sekali menerapkan ajaran doktrinal Gereja pada persoalan-persoalan mengenai pengawasan sipil dan pengaturan pernikahan. Meskipun pendirian-pendirian itu konsisten dengan disiplin Gereja yang telah lama ada tentang masalah ini, mereka sendiri tidak dianggap sebagai ayat-ayat iman.

Ada yang mengatakan apa yang diajarkan Paus itu bidaah. Benarkah?

Tidak. Pernyataan Paus itu tidak menyangkal atau mempersoalkan kebenaran doktrinal apa pun yang harus dipegang atau dipercayai oleh umat Katolik. Kenyataannya, Paus sering kali menegaskan ajaran doktrinal Gereja tentang pernikahan.

Seruan Paus untuk membuat undang-undang ikatan sipil, yang tampaknya berbeda dari pendirian yang diungkapkan oleh CDF tahun 2003, telah dianggap menyimpang dari penilaian moral lama yang telah diajarkan oleh para pemimpin Gereja guna mendukung dan menjunjung tinggi kebenaran. Dokumen CDF itu mengatakan bahwa undang-undang ikatan sipil memberikan persetujuan diam-diam pada perilaku homoseksual. Meskipun Paus menyatakan dukungan untuk ikatan sipil, dia juga berbicara dalam kepausannya tentang amoralitas tindakan-tindakan homoseksual.

Penting juga dicatat, sebuah wawancara dokumenter bukanlah forum untuk pengajaran resmi kepausan. Pernyataan-pernyataan Paus itu tidak disajikan secara lengkap, dan tidak ada transkrip yang disajikan. Maka, kalau Vatikan tidak memberikan penjelasan tambahan, maka pernyataan-pernyataan itu perlu dipahami dengan mengingat bahwa informasi tentang hal-hal itu terbatas.

Ada pernikahan sesama jenis di negara ini. Mengapa orang bicarakan ikatan sipil?

Ada 29 negara di dunia yang secara hukum mengakui “pernikahan” sesama jenis. Kebanyakan negara itu ada di Eropa, Amerika Utara, atau Amerika Selatan. Namun, di belahan dunia lain, perdebatan tentang definisi pernikahan baru saja dimulai. Di beberapa bagian Amerika Latin, misalnya, definisi ulang pernikahan bukanlah sebuah topik politik yang mapan, dan para aktivis politik Katolik di sana menentang langkah-langkah untuk menormalisasikan undang-undang ikatan sipil.

Para penentang ikatan sipil mengatakan, ikatan sipil biasanya menjadi jembatan menuju undang-undang pernikahan sesama jenis, dan para juru kampanye pernikahan di beberapa negara mengatakan mereka khawatir bahwa pelobi-pelobi LGBT akan menggunakan kata-kata Paus dalam film dokumenter itu untuk mempercepat jalan menuju pernikahan sesama jenis.

Apa yang Gereja ajarkan tentang homoseksualitas?

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang  yang mengidentifikasi diri sebagai LGBT “harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang, dan dengan bijaksana. Orang-orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil. Orang-orang ini dipanggil untuk memenuhi kehendak Tuhan dalam hidup mereka dan, kalau mereka umat Kristen, menyatukan ke dalam pengorbanan Salib Tuhan kesulitan-kesulitan yang mungkin mereka hadapi dari kondisi mereka.”

Katekismus menjelaskan bahwa kecenderungan homoseksual adalah “ketidakteraturan yang objektif,” tindakan-tindakan homoseksual “bertentangan dengan hukum alam”, dan mereka yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian dan gay, seperti semua orang, dipanggil untuk menjunjung tinggi kesucian.

Apakah umat Katolik terikat untuk setuju dengan Paus tentang ikatan sipil?

Pernyataan Paus Fransiskus dalam “Francesco” bukanlah ajaran resmi kepausan. Meskipun penegasan paus tentang martabat semua orang dan seruannya untuk menghormati semua orang berakar pada ajaran Katolik, umat Katolik tidak diwajibkan mendukung sebuah posisi legislatif atau kebijakan karena komentar paus dalam sebuah film dokumenter.

Beberapa uskup menyatakan mereka menunggu kejelasan lebih lanjut tentang komentar paus dari Vatikan, sementara seorang uskup menjelaskan, “Meskipun ajaran Gereja tentang pernikahan jelas dan tidak dapat diubah, percakapan harus dilanjutkan tentang cara-cara terbaik untuk menghormati martabat orang-orang yang memiliki hubungan sesama jenis sehingga mereka tidak tunduk pada diskriminasi yang tidak adil apa pun.”***

“Francesco”, film dokumenter baru tentang kehidupan dan ajaran Paus Fransiskus

Tinggalkan Pesan