Paus Fransiskus menandatangani Seruan Perdamaian 2020 di Roma (Vatican Media)
Paus Fransiskus menandatangani Seruan Perdamaian 2020 di Roma (Vatican Media)

Paus Fransiskus dan para pemimpin agama dari agama-agama besar dunia berkumpul di Roma, Selasa, 20 Oktober 2020, untuk Pertemuan Perdamaian yang bersifat internasional dan antaragama yang diselenggarakan oleh Komunitas Saint Egidio.

Pertemuan di Lapangan Capitolino Roma itu juga dihadiri para pemimpin politik yang secara simbolis menerima teks Seruan Perdamaian 2020 yang berbunyi:

Berkumpul di Roma dalam “semangat Assisi” dan secara rohani dipersatukan dengan umat beriman di seluruh dunia dan dengan semua pria dan wanita yang berkehendak baik, kami telah berdoa berdampingan untuk memohon agar karunia perdamaian dilimpahkan ke dunia. Kami ingat luka-luka umat manusia, kami dipersatukan dengan doa-doa hening dari begitu banyak saudara dan saudari kami yang menderita, yang sering kali tanpa nama dan tidak terdengar. Sekarang, kami dengan sungguh-sungguh berkomitmen agar Seruan Perdamaian ini kami jalankan dan kami mengusulkan seruan ini kepada para pemimpin bangsa-bangsa dan warga dunia ini.

Di Bukit Capitolino ini, di tengah konflik terbesar dalam sejarah, bangsa-bangsa yang pernah berperang membuat perjanjian berdasarkan mimpi persatuan yang lalu menjadi kenyataan: mimpi Eropa bersatu. Saat ini, di masa-masa tidak pasti ini, saat kami rasakan dampak pandemi Covid-19 yang mengancam perdamaian dengan memperburuk ketidaksetaraan dan ketakutan, kami dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan sendirian: tidak ada orang, tak seorang pun!

Perang dan perdamaian, pandemi dan perawatan kesehatan, kelaparan dan akses untuk makanan, pemanasan global dan pembangunan berkelanjutan, perpindahan penduduk, penghapusan ancaman nuklir dan pengurangan ketidaksetaraan: ini bukan masalah yang hanya menjadi perhatian masing-masing bangsa. Kami semakin memahaminya saat ini, di dunia yang cukup saling terkait, namun sering kali tidak memiliki rasa persaudaraan. Kami semua adalah saudara! Mari berdoa kepada Yang Mahatinggi semoga, setelah masa pencobaan ini, tidak ada lagi “yang lain” selain “kita” yang agung, yang kaya akan keragaman. Waktunya telah tiba untuk berani memimpikan kembali bahwa perdamaian itu mungkin, bahwa itu perlu, bahwa dunia tanpa perang bukanlah utopis. Inilah sebabnya kami ingin mengatakan sekali lagi: “Tidak ada lagi perang!”

Tragisnya, bagi banyak orang, perang nampak menjadi salah satu kemungkinan untuk menyelesaikan perselisihan internasional. Tidaklah demikian. Sebelum terlambat, kami ingin ingatkan semua orang bahwa perang selalu membuat dunia lebih buruk dari sebelumnya. Perang adalah kegagalan politik dan kemanusiaan.

Kami mengimbau para pemimpin pemerintahan untuk menolak bahasa perpecahan, yang sering kali didasarkan pada ketakutan dan ketidakpercayaan, dan menghindari jalan yang tidak bisa kembali. Mari bersama-sama melihat para korban. Terlalu banyak konflik yang terjadi saat ini.

Kepada para pemimpin bangsa-bangsa kami katakan: mari bekerja sama menciptakan arsitektur baru perdamaian. Mari menyatukan upaya untuk meningkatkan kehidupan, kesehatan, pendidikan dan perdamaian. Telah tiba waktunya mengalihkan sumber-sumber daya yang digunakan untuk memproduksi senjata yang semakin merusak dan mematikan menjadi memilih kehidupan dan merawat umat manusia serta rumah kita bersama. Jangan buang waktu! Mari mulai dengan tujuan yang bisa dicapai: semoga kita segera satukan upaya untuk menahan penyebaran virus itu hingga ada vaksin yang sesuai dan tersedia untuk semua. Pandemi ini mengingatkan kita bahwa kita adalah saudara sedarah.

Kepada semua umat beriman, dan kepada pria dan wanita yang berkemauan baik, kami mengatakan: mari menjadi seniman perdamaian yang kreatif, mari membangun persahabatan sosial, mari membuat budaya dialog menjadi budaya kita sendiri. Dialog jujur, gigih, dan berani adalah penangkal ketidakpercayaan, perpecahan, dan kekerasan. Awalnya dialog membongkar argumen untuk perang yang menghancurkan persaudaraan yang menjadi tujuan panggilan keluarga manusia.

Tidak ada orang yang bisa merasa dikecualikan dari hal ini. Kita semua punya tanggung jawab bersama. Kita semua perlu mengampuni dan diampuni. Ketidakadilan-ketidakadilan dunia dan sejarah tidak disembuhkan dengan kebencian dan balas dendam, tetapi dengan dialog dan pengampunan.

Semoga Allah menginspirasi dalam diri kita komitmen untuk cita-cita ini dan komitmen untuk perjalanan yang kita lakukan bersama. Semoga Dia menyentuh setiap hati dan menjadikan kita pembawa perdamaian.

Roma, Bukit Capitolino, 20 Oktober 2020
Diterjemahkan dari Vatican News oleh PEN@ Katolik/paul c pati

Nyalakan lilin untuk perdamaian
Nyalakan lilin untuk perdamaian (Vatican media)

Artikel terkait:

Paus Fransiskus: Tidak ada orang yang diselamatkan sendirian

Paus bersama para pemimpin tradisi Kristen lainnya berdoa untuk perdamaian

Paus: Banyak orang mengejek Yesus dengan mengatakan, “Selamatkan dirimu”

Tinggalkan Pesan