Seruan untuk Perdamaian 2020

Paus Fransiskus mengajak para pemimpin agama lain untuk bekerja bersama “dengan kekuatan lembut iman guna mengakhiri semua konflik.” Seruan Paus itu disampaikan dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian, yang diadakan di Roma, dan diorganisir oleh Komunitas Saint Egidio dengan tajuk “Tidak ada yang diselamatkan sendirian. Perdamaian dan Persaudaraan,” 20 Oktober 2020.

Dalam pidatonya saat itu, Paus mengingat Pertemuan Assisi yang bersejarah dan yang diinginkan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II, 27 Oktober 1986. Dalam pertemuan pertama dalam sejarah Gereja itu, Paus mengundang para pemimpin agama lain untuk ikut bersamanya dalam doa untuk perdamaian bagi keluarga manusia.

Pertemuan itu, kata Paus, berisi benih kenabian “yang secara bertahap oleh kasih karunia Allah dimatangkan dengan perjumpaan-perjumpaan, aksi-aksi, dan prakarsa-prakarsa persaudaraan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Paus mencatat bahwa sejak pertemuan itu banyak peristiwa menyakitkan terjadi, kadang-kadang atas nama agama, tetapi kami juga mengakui adanya langkah-langkah bermanfaat yang dilakukan sejak saat itu dalam dialog antaragama.

“Inilah tanda harapan yang mendorong kami untuk terus bekerja sama sebagai saudara dan saudari,” kata Paus mengenang Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama, yang ditandatangani bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al- Tayyeb, tahun 2019.

Paus juga merujuk ensikliknya yang baru saja dirilis, Fratelli tutti, yang menegaskan kembali bahwa “perintah perdamaian tertulis dalam kedalaman tradisi-tradisi agama.”

“Umat beragama telah memahami bahwa perbedaan agama tidak membenarkan ketidakpedulian atau permusuhan. Sebaliknya, atas dasar keyakinan agama, kita dimampukan untuk menjadi pembawa perdamaian, bukan pasif berdiri di hadapan kejahatan perang dan kebencian,” kata Paus.

Oleh karena itu, lanjut Paus, pertemuan ini menjadi penyemangat “bagi para pemuka agama dan semua umat beriman untuk berdoa sungguh-sungguh bagi perdamaian, tidak pernah menyerah pada peperangan, tetapi berupaya dengan kekuatan lembut iman untuk mengakhiri konflik.”

“Kita perlu perdamaian! Lebih damai! Kita tidak bisa tetap acuh tak acuh,” pinta Paus seraya mengatakan bahwa dunia sangat haus akan perdamaian.

Di banyak negara, orang sedang menderita karena perang, kata Paus, dan ada risiko bahwa dalam kehidupan politik dan opini publik kita tumbuh terbiasa dengan kejahatan perang seolah-olah perang hanyalah bagian dari sejarah manusia.

Mengutip Fratelli tutti, Paus berkata, “Janganlah kita terus terperosok dalam diskusi teoretis, tetapi menyentuh daging terluka dari para korban … Mari pikirkan para pengungsi dan orang terlantar, mereka yang menderita akibat radiasi atom atau serangan kimia, ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya, dan anak laki-laki dan perempuan yang cacat atau kehilangan masa kecil mereka.”

Semua rasa sakit ini, lanjut Paus, diperburuk oleh penderitaan yang disebabkan oleh virus corona dan, di banyak negara, oleh ketidakmungkinan akses pada perawatan yang diperlukan.

Para pemegang tanggung jawab politik, kata Paus, memiliki tugas serius di hadapan Tuhan untuk mengakhiri perang. “Perdamaian adalah prioritas semua politik,” tegas Paus seraya mengingat kata-kata Yesus kepada Petrus, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan  pedang, akan binasa oleh pedang.” Yang melakukan kekerasan, lanjut Paus, mungkin, tetapi secara keliru, percaya bahwa kekerasan akan cepat menyelesaikan situasi sulit.

“Cukup!” Itulah tanggapan Yesus yang tidak ambigu terhadap segala bentuk kekerasan, kata Paus, yang menyoroti bagaimana “Satu kata Yesus itu bergema berabad-abad dan dengan kuat menyentuh kita di zaman kita sendiri: cukuplah pedang, senjata, kekerasan dan perang!”

Paus Fransiskus mengatakan impian semua pria dan wanita berkehendak baik adalah agar dunia terbebas dari setiap perang. Tapi bagaimana kita mencapai impian ini? tanya Paus.

“Tidak seorang pun, tak sekelompok sosial pun, yang bisa sendirian mencapai perdamaian, kemakmuran, keamanan dan kebahagiaan,” kata Paus, seraya mengatakan, pelajaran yang didapat dari pandemi virus corona adalah “kesadaran bahwa kita adalah komunitas global, semua dalam perahu yang sama, di perahu itu masalah seseorang adalah masalah semua orang.

“Sekali lagi kita menyadari bahwa tidak ada yang diselamatkan sendirian; kita hanya bisa diselamatkan bersama.” (lih. Fratelli tutti, 32).

Kita semua, kata Paus, bangsa-bangsa, komunitas-komunitas, para pemimpin pemerintah dan organisasi internasional harus menyadari bahwa kita satu keluarga manusia dan “kita hanya bisa diselamatkan bersama melalui perjumpaan dan negosiasi, dengan mengesampingkan konflik kita dan mengejar rekonsiliasi, memoderasi bahasa politik dan propaganda, dan mengembangkan langkah-langkah perdamaian yang sejati (lih. Fratelli tutti, 231).

Paus mengakhiri pidatonya dengan mengatakan, semua orang dari tradisi agama berbeda, yang berkumpul bersama di Bukit Capitolino, mengirimkan pesan perdamaian ini, “Untuk menunjukkan dengan jelas bahwa agama-agama tidak menginginkan perang dan, sungguh-sungguh, menyangkal orang-orang yang mau mengabadikan kekerasan.”

Dan, seraya meminta semua orang berdoa bagi rekonsiliasi dan berusaha memungkinkan persaudaraan membuka jalan harapan baru, Paus ungkapkan keyakinan teguh bahwa “Dengan bantuan Allah, dunia perdamaian mungkin dibangun, dan dengan demikian diselamatkan bersama.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel terkait:

Paus menandatangani Seruan Perdamaian 2020 di Bukit Capitolino, Roma

Paus menandatangani Seruan Perdamaian 2020 di Bukit Capitolino, Roma

Paus bersama para pemimpin tradisi Kristen lainnya berdoa untuk perdamaian

Tinggalkan Pesan