UBK

Sewaktu berusia dua tahun, terungkap bahwa Christofer punya hambatan berkomunikasi. Ia tidak bisa berbicara menggunakan kalimat panjang. Saat duduk di bangku sekolah, dia mengalami kesulitan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hal itu bahkan cenderung menjadi momok bagi dirinya.

Christofer adalah Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) di Paroki Santa Helena Curug, Tangerang. Ia pun mengalami dampak sosial dalam lingkungan dan pergaulan. Kondisinya membuat kedua orangtuanya harus ekstra mengawasi, mendampingi, dan mencari solusi dengan cara terapi sehingga Christofer mengalami perkembangan stimulus.

Namun, “meski mengalami hambatan berkomunikasi, Christofer rajin ikuti kegiatan gereja seperti putera altar seperti kakaknya di Paroki Curug. Kepadanya saya jelaskan bahwa menjadi putera altar harus ikuti serangkaian pembinaan termasuk retret bersama anggota lain. Tapi, dia antusias,” kata Indah Susanti.

Ibunda dari Christofer itu berbicara dalam sharing orangtua mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam acara “Hey UBK! Aku Berharga di Mata Allah” yang digelar secara virtual, 17 Oktober 2020, oleh Panitia Perayaan Tahun Keadilan Sosial (PPTKS) Paroki Curug, dan diikuti puluhan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Vikep KAJ Pastor Josephus Edi Mulyono SJ dan Kepala Paroki Santa Helena Curug Pastor Lukas Sulaeman OSC hadir dalam acara itu.

Dikisahkan, Christofer rajin mengikuti putera altar bahkan tidak pernah absen dalam proses pembinaan serta bisa mengikuti retret bersama teman-temannya. “Dia melayani sebagai putra altar sejak kelas empat SD sampai kelas dua SMA,” kata Indah Susanti yang bersyukur bisa bertemu orang-orang baik dan memberikan dukungan sehingga anaknya boleh mengikuti berbagai kegiatan Gereja.

Indah Susanti bahkan kini mengantar Christofer memasuki bangku kuliah semester tiga di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Christofer kini berusia 20 tahun dan untuk mendukung proses perkuliahan ia menempati sebuah apartemen di Jakarta.

Pastor Josephus Edi Mulyono SJ menegaskan, ensiklik Fratteli tutti yang ditandatangani Paus Fransiskus 3 Oktober di Asisi menyebut semua makhluk adalah saudara dan saudari. “Ensiklik ini juga merupakan ajakan bagi seluruh umat untuk memberikan perhatian kepada siapa pun yang jauh dan dekat, normal maupun tidak normal (cacat).”

Sejak 1980-an, jelas imam itu, KAJ melalui Lembaga Daya Dharma (LDD) melakukan upaya pemberdayaan terhadap kelompok masyarakat termasuk ABK atau UBK. “Perwujudannya, sejumlah sekolah berbasis ABK, panti asuhan, dan kelompok kategorial di paroki secara khusus melayani UBK dalam mengikuti katekese umat,” kata imam itu.

Secara Biblis, jelasnya, kepedulian terhadap kaum lemah disuratkan dalam 2 Samuel 4:4, di mana Raja Daud yang menampung Mefiboset  kendati putera Yonatan ini adalah seorang lumpuh atau cacat, bahkan Daud mengatakan akan makan bersama putera Yonatan ini.

Awal 2020, lanjut imam itu, Kardinal Ignatius Suharyo mengundang para ABK ke Katedral Jakarta untuk makan bersama. Kardinal juga menugaskan Pastor Edi mempresentasikan tentang pelayanan UBK di paroki masing-masing. “Respon para pastor pun sangat beragam, ada yang cepat ada juga yang belum terlalu optimal,” jelas imam itu.

Pegiat UBK dari Paroki Blok Q Jakarta, Dena Sukiato dan Edi S Pambudi, bercerita bahwa pelayanan di paroki mereka telah berlangsung sejak enam tahun silam dengan menyiapkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti komuni pertama dan menerima Sakramen Penguatan.

“Sebagai katekis paroki, saya tidak  bekerja sendiri tapi berkolaborasi dengan semua pihak, orangtua, psikolog, terapis, dan voluntir, agar pelayanan dilakukan sebaik-baiknya. Dan kami bersyukur karena setiap rekrutmen relawan atau voluntir mendapat antusias kaum muda,”’ jelas Dena.

Kepala Sekolah Sang Timur Ciledug Suster Rachel Meri PIJ mengatakan, kebutuhan utama ABK adalah dicintai, maka pelayanan di bidang pendidikan lebih fokus pada bakat dan talenta anak. “Dengan demikian kita optimalkan pelayanan sehingga bakat atau talenta yang dimiliki semakin diasah dan digunakan secara optimal. Untuk menerapkan metode pengajaran juga bervariasi tergantung karakteristik anak itu sendiri,” kata suster itu.

Pastor Lukas Sulaeman OSC berharap kegiatan virtual itu mengajak seluruh umat untuk saling memberi perhatian bukan hanya sesama umat yang normal tapi juga mereka yang mengalami keterbatasan fisik dan mental.  Ketua PPTKS Paroki Curug Andi Janto Singgih menggarisbawahi harapan Pastor Lukas “sehingga semua umat memberikan perhatian kepada kelompok yang tersisi.”(PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Hey UBK

Tinggalkan Pesan