carlo-acutis-body-tomb-3

Menyusul beatifikasi Carlo Acutis di Assisi, Italia, dalam Misa yang dirayakan oleh Kardinal Agostino Vallini, 10 Oktober 2020, Paus Fransiskus mengajak orang muda untuk memandang mendiang remaja dari Italia itu sebagai model kesucian, dan mengenang dia sebagai “pria muda yang mencintai Ekaristi.”

Menurut Paus, Carlo Acutis “tidak beristirahat dalam immobilitas yang nyaman” karena “Dia memahami kebutuhan masanya, karena dia melihat wajah Kristus dalam diri orang-orang yang paling lemah.” Teladan Beato Carlo Acutis, lanjut Paus, menunjukkan kepada orang-orang muda bahwa “kebahagiaan sejati ditemukan dengan mengutamakan Tuhan dan melayani Dia dalam saudara dan saudari kita.”

Beato Carlo, lanjut Paus, adalah seorang milenial yang menjadi cahaya bagi mereka yang ingin mengenal Kristus. Remaja itu menggunakan kecintaannya pada komputer untuk menginjili. Hari raya beato baru itu adalah 12 Oktober, peringatan kematiannya akibat leukemia tahun 2006.

Kardinal Agostino Vallini yang memimpin Misa beatifikasi itu merefleksikan, beatifikasi itu adalah “kabar baik dan pewartaan yang kuat bahwa seorang pemuda di zaman kita, seseorang seperti kebanyakan dari kita, telah ditaklukkan oleh Kristus dan telah menjadi cahaya yang bersinar bagi mereka yang ingin mengenalnya dan mengikuti teladannya.”

Sementara hanya sedikit diizinkan masuk ke tempat ziarah itu, banyak orang lain menyaksikan beatifikasi itu dari layar yang dipasang di alun-alun Assisi. Di antara mereka yang hadir adalah orang tua Carlo, yang melakukan prosesi membawa relikui hati putra mereka.

Carlo lahir di London, 3 Mei 1991, dari orang tua Italia yang memindahkan keluarganya ke Milan saat dia berusia 3 bulan. Di sanalah Carlo tumbuh dewasa, bersekolah di sekolah-sekolah lokal dan kemudian sekolah menengah Yesuit. Caro yang berdevosi kepada Bunda Maria sejak muda, berusaha mendaraskan Rosario setiap hari dan, setelah Komuni pertamanya di usia 7 tahun, dia juga berusaha untuk menerima Ekaristi setiap hari dan menerima sakramen tobat setiap minggu.

Kardinal Vallini menunjukkan, iman tidak menjauhkan kita dari kehidupan, tapi sebaliknya membenamkan kita ke dalamnya, dan menunjukkan konkret untuk menjalani sukacita Injil. “Terserah kita untuk mengikutinya, dan tertarik dengan pengalaman Beato Carlo yang menakjubkan, sehingga hidup kita bisa bersinar dengan cahaya dan harapan,” kata kardinal itu.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News dan Aleteia)

Tinggalkan Pesan