Suster Martha N OP

Suster Maria Martha Ngadirah OP menghadap Allah Bapa yang dicintainya pada Pesta Bunda Maria Ratu Rosario, 7 Oktober 2020, pukul 10.50 WIB, di Rumah Sakit Santa Elisabeth Purwokerto, dan dimakamkan di Pemakaman Para Suster OP setelah Misa Requiem di Biara Santa Maria Cimahi, Jawa Barat, 8 Oktober. Suster Martha meninggal di usia 78 tahun.

Ngadirah yang lahir 4 Mei 1942 dari keluarga Thomas Asmodiryo dan Wagiyem, masuk Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia 15 Juli 1962 dan mengambil nama Suster Martha dengan panggilan khas Simbok Martha seturut karya pelayanannya.

Misa Requiem 8 Oktober itu dipimpin Uskup Para Suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC dengan konselebran Kepala Paroki Cimahi Pastor Yulianus Yaya Rusyadi OSC dan dua imam yang pernah merasakan pelayanan suster saat di Seminari Wacana Bhakti Jakarta, Pastor Stephanus Yudhiantoro Pr dan Pastor Wilfred Haripahlwan Angkasa Pr yang dikenal dengan panggilan Pastor Willy. Sebelum Misa itu, Suster Maria Lucia Kusrini OP, mewakili pemimpin kongregasi itu Suster Maria Elisabeth Yaya Budiarti OP yang lagi sakit, memimpin ibadat singkat penutupan peti jenazah.

Menurut Pastor Willy, kata Mgr Subianto, Suster Martha adalah “pertolongan pertama pada kelaparan” saat imam itu di Wacana Bhakti. “Sekarang dia ke surga dengan kesederhanaan, maka dialah pertolongan pertama pada kekudusan, kesetiaan, dan kesederhanaan, dialah kesaksian hidup luar biasa.”

Bahkan menurut Uskup Bandung yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia, Tuhan sendiri yang memilih saat suster itu dimakamkan yakni “hari ini” saat kalender liturgi menetapkan Bacaan Pertama dari Galatia 3:1-5 berbicara tentang “terpesona pada Yesus” dan bacaan Injil dari Lukas 11:5-13 tentang “mengetok pintu.”

“Suster Martha OP adalah pribadi yang terpesona kepada Yesus. Sekali terpesona dia tetap terpesona. Maka ia setia sebagai seorang Dominikan dalam kesederhanaan. Dia terpesona pada hal-hal rohani dan terpesona pada kaum muda yang membaktikan dirinya terutama untuk jalan hidup menjadi imam,” kata Mgr Subianto seraya menunjuk dua imam yang hadir adalah bagian dari orang-orang yang pernah mengalami “pelayanan” dari Suster Martha di Wacana Bakti.

“Romo Willy itu tahu mencari mana yang enak, tahu meminta apa yang menyuburkan tubuhnya, dan tahu mengetuk pintu mana yang tepat. Kalau mengetuk pintu rektor, celaka. Dia mengutuk pintu Suster Martha, dan mengatakan lapar. Dan Suster Martha menunjukkan lemari mana yang ada makanan. Maka kalau mengetuk pintu harus pintu yang tepat, bukan sembarang pintu. Dan mintalah apa yang tepat, jangan meminta sesuatu yang tidak tepat dan tidak baik,” kata Mgr Subianto.

Menurut Uskup Bandung itu, Suster Martha tidak aneh-aneh dalam hidupnya, “tapi menghidupi semangat Santo Dominikus yang sungguh terpesona kepada Yesus dan mewartakan-Nya. Suster Martha memang tidak mewartakan Yesus dengan kata-kata tapi perbuatannya. Maka, ketika mendengar Suster Martha wafat kedua imam ini langsung datang mengungkapkan rasa terima kasih dan cinta pada Simbok Marta yang mencukupi kebutuhan mereka. Maka banyak pastor menyebutnya Simbok.”

Suster Lucia mengamati kepasrahan Suster Martha kepada Tuhan. “Dia sungguh dapat menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Tuhan. Dia merupakan pribadi sederhana, tidak neko-neko, seperti  nampak dalam hidup seharinya. Kesederhanaannya nampak dalam melayani orang lain. Dia tak mau dilayani meski sakit. Dia mandiri. Meski sakit berusaha tidak menyusahkan orang lain. Dia menjadi teladan kesetiaan, ketaatan, kemiskinan hingga akhir hayatnya,” kata mantan pemimpin kongregasi itu.

Menurut catatan provinsialat kongregasi itu, seperti disampaikan Suster Maria Serafine Widi OP kepada PEN@ Katolik, Suster Martha ucapkan profesi pertama 16 Juli 1964 dan Kaul Kekal 22 Desember 1968. “Kecintaan dan bakti yang besar pada keluarga menghantar Suster Martha melaksanakan karya perutusan dengan gembira seperti melayani keluarga sendiri. Karya pelayanan Suster Martha diawalinya di Komunitas Cimahi (1964-1967), dilanjutkan ke Komunitas Santa Maria Cirebon hingga 1975,” tulisnya.

Kesederhanaan dan ketekunan dalam melayani para suster melalui masakannya yang lezat, lanjut catatan itu, ingin juga dirasakan oleh para suster di Komunitas Purwokerto, “maka diutuslah Suster Martha ke Komunitas Kota Mendoan hingga tahun 1985.”

Suster Martha ia diutus kembali ke komunitas Santa Maria Cirebon selama empat tahun atau sampai tahun 1989 dan kembali ke Rumah Induk Cimahi sampai 1995. “Tanpa kenal lelah dan sangat jarang mengeluh, Suster Martha kembali melayani di Rumah Pastoral Hening Griya sampai penghujung 1996.  Dari sana, ia mengawali pelayanan rumah doa di Komunitas Maguwohardjo hingga 2001,” lanjutnya.

Sebagaimana Santa Martha, lanjuit catatan itu, suster itu memiliki ketekunan melayani dan kecintaan pada generasi muda calon-calon  Imam, “sehingga kongregasi mengutusnya melayani Seminari Wacana Bhakti dan tinggal di Komunitas Pejaten selama tujuh tahun berturut-turut sampai 2008.”

Namun, kecintaannya pada keheningan dan relasi yang dekat dengan Allah melalui doa, tetap mengusik Suster Martha, “sehingga dalam usianya yang tak lagi perkasa, ia menjalani perutusan di Rawaseneng selama tujuh tahun, suatu masa yang sungguh membahagiakannya, dan selalu rindu. “Ingin kembali ke Rawaseneng … berdoa di pertapaan,” terus dikatakannya bahkan semasa sakitnya di Komunitas Purwokerto Barat sejak 2015.”

Kurang lebih 10 tahun, Suster Martha membawa sakit dalam tubuhnya tanpa banyak mengeluh. “Di tengah penderitaanya, ia tetap mandiri dan tetap ingin melayani, sampai dengan kepasrahan utuh, tanpa penyesalan, dia menyerahkan diri dalam tuntunan Bunda Maria Ratu Rosario.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Semua foto di bawah ini diambil secara screenshot oleh PEN@ Katolik

Marta 6
Suasana Misa Requiem di Kapel Biara Santa Maria Cimahi
Marta 3
Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC memimpin Misa Requiem didampingi Kepala Paroki Cimahi Pastor Yulianus Yaya Rusyadi OSC (kedua dari kanan) dan dua imam yang pernah merasakan pelayanan suster saat di Seminari Wacana Bhakti Jakarta, Pastor Stephanus Yudhiantoro Pr (paling kiri) dan Pastor Wilfred Haripahlwan Angkasa Pr (paling kanan)
Martha 9
Penghormatan terakhir para suster OP sebelum peti jenazah ditutup
Suster Lucia OP mewakili Pimpinan Para Suster OP dalam ibadat penutupan peti jenazah
Suster Lucia OP mewakili Pimpinan Para Suster OP dalam ibadat penutupan peti jenazah

Tinggalkan Pesan