Paus bertemu para migran dalam kunjungannya ke Bologna, 1 Oktober 2017.
Paus bertemu para migran dalam kunjungannya ke Bologna, 1 Oktober 2017.

Kita dikelilingi “awan gelap di atas dunia yang tertutup.” Namun, ada orang tidak mau menyerah pada kegelapan, tetapi terus bermimpi, berharap, mengotori tangan mereka dengan mendedikasikan diri demi terciptanya persaudaraan dan persahabatan sosial. Perang Dunia Ketiga yang terjadi sedikit demi sedikit, logika pasar yang didasarkan pada keuntungan tampaknya menguasai politik yang sehat, budaya sampah tampaknya menang, keluhan dari orang-orang lapar tidak terdengar. Tetapi ada seseorang yang menunjukkan jalan yang jelas untuk membentuk dunia yang berbeda dan lebih manusiawi.

Lima tahun lalu, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laudato si’. Dalam ensiklik itu Paus jelas menggambarkan hubungan yang ada antara krisis lingkungan, krisis sosial, perang, migrasi dan kemiskinan. Paus menunjukkan tujuan yang ingin dicapai: sistem ekonomi dan sosial yang lebih adil, sistem yang menghormati ciptaan, yang akan menempatkan pribadi manusia di pusat sebagai penjaga ibu pertiwi bukan uang, yang ditinggikan sebagai allah yang sesungguhnya.

Hari ini, dengan ensiklik sosial yang baru, Fratelli tutti, Penerus Petrus menunjukkan cara konkret untuk mencapai tujuan itu: mengakui diri kita sebagai saudara dan saudari karena kita adalah anak-anak, penjaga satu sama lain, semua orang dalam perahu yang sama, seperti yang lebih dijelaskan oleh pandemi ini. Inilah jalan keluar dari menyerah pada godaan untuk menjadi homo homini lupus (orang yang bertindak seperti serigala terhadap orang lain), untuk membangun tembok-tembok baru, untuk mengisolasi diri. Sebaliknya, ensiklik itu mengangkat ikon evangelis yang selalu terkini dan “di luar kotak” yakni Orang Samaria yang Baik Hati.

Jalan yang ditunjukkan Paus didasarkan pada pesan Yesus yang menghancurkan setiap persepsi tentang orang lain sebagai orang asing. Faktanya, setiap orang Kristen dipanggil untuk menemukan “Kristus dalam setiap manusia, dan mengenali Dia yang disalibkan dalam penderitaan-penderitaan orang yang ditinggalkan dan dilupakan di dunia kita, dan yang bangkit dalam setiap saudara atau saudari” yang bangkit kembali. Pesan persaudaraan adalah pesan yang bisa diterima, dipahami dan dibagikan oleh pria maupun wanita yang meyakini agama lain, serta banyak wanita dan pria yang tidak beriman.

Ensiklik baru itu disajikan sebagai summa (ringkasan) ajaran sosial Paus Fransiskus. Ensiklik itu secara sistematis mengumpulkan poin-poin yang telah Paus sampaikan dalam pidato-pidato, wacana-wacana dan intervensi-intervensi selama tujuh tahun pertama masa kepausannya. Tanpa diragukan lagi, salah satu sumber dan inspirasinya sesuai dengan “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama,” yang ditandatangani 4 Februari 2019 di Abu Dhabi bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyib. Dari deklarasi bersama, yang menjadi tonggak dialog antaragama, itu Paus menegaskan kembali seruannya agar dialog menjadi cara, agar kolaborasi bersama menjadi modus operandi, dan pemahaman timbal balik menjadi metode dan kriteria.

Akan tetapi, remisif untuk memperkecil ensiklik baru itu hanya untuk ranah dialog antaragama. Pesan Fratelli tutti, sebenarnya, menyangkut kita semua. Ensiklik itu berisi halaman-halaman yang mencerahkan bahkan di bidang sosial dan politik. Mungkin tampak paradoks bahwa Uskup Roma, suara di padang pasir, yang saat ini memulai kembali sebuah proyek yang mendukung politik yang sehat: politik mampu mengambil kembali peran khususnya, setelah terlalu lama percayakan pada keuntungan keuangan dan mitos pasar yang mengatakan bahwa mereka akan menghasilkan kesejahteraan bagi semua orang tanpa perlu diatur.

Ada satu bab penuh yang didedikasikan untuk politik dari perspektif pelayanan dan sebagai sebuah tentang amal kasih, yang dipelihara oleh cita-cita besar, yang merencanakan masa depan dengan memikirkan kebaikan bersama bukan keuntungan jangka pendek, masa depan yang secara khusus memikirkan generasi muda. Dan di saat banyak negara sedang menutup dirinya, justru Paus yang kembali menyampaikan ajakan agar tidak kehilangan kepercayaan pada badan-badan internasional, meski membutuhkan reformasi sehingga bukan hanya yang kuat yang diperhitungkan.

Di antara halaman-halaman paling kuat dari ensiklik itu adalah halaman-halaman yang didedikasikan untuk mencela perang dan penolakan hukuman mati. Sejalan dengan Pacem in terris dari Paus Yohanes XXIII, yang mulai dengan penilaian realistis akan hasil-hasil bencana yang ditimbulkan oleh begitu banyak konflik dalam dekade terakhir terhadap kehidupan jutaan orang yang tidak bersalah, Paus Fransiskus mengenang bahwa sangat sulit di hari ini untuk mempertahankan kriteria rasional yang matang di abad-abad terakhir yang mendukung kemungkinan “perang yang adil.” Yang juga tidak dibenarkan dan tidak bisa diterima adalah hukuman mati, yang harus dihapuskan di seluruh dunia.

Benar, seperti dikatakan Paus, bahwa “dalam dunia saat ini, rasa memiliki satu keluarga manusia memudar, dan impian untuk bekerja sama demi keadilan dan perdamaian tampaknya merupakan utopia yang ketinggalan jaman.” Tetapi, ada kebutuhan untuk mulai bermimpi lagi dan, di atas segalanya, untuk mewujudkan impian itu bersama. Sebelum terlambat.

Andrea Tornielli
(diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan