Paus Fransiskus PBB
Paus Fransiskus menyampaikan pidato yang direkam sebelumnya di Istana Apostolik Vatikan untuk Sidang Umum PBB

Tahun ini PBB merayakan 75 tahun sejak penandatanganan Piagam PBB di San Francisco, tahun 1945. Tanggal 21 September 2020, perwakilan dari Negara-Negara Anggota berkumpul dalam acara tingkat tinggi untuk memperingati ulang tahun itu serta melakukan kegiatan lain yang dijadwalkan sepanjang minggu.

Karena krisis kesehatan Covid-19 masih membatasi pergerakan global, partisipasi pada acara itu sebagian besar bersifat virtual. Para pemimpin dunia mengirimkan rekaman pesan video. Pada hari yang sama, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin juga berpidato di depan Majelis Umum melalui pesan video.

Tanggal 25 September, Paus Fransiskus berpidato di depan perwakilan dari 193 anggota badan dunia itu. Dalam pesan video, Paus meminta komitmen bersama menuju masa depan yang lebih baik melalui multilateralisme dan kolaborasi antarnegara.

Peringatan 75 tahun ini, kata Paus, adalah kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan keinginan Tahta Suci agar organisasi itu berfungsi “sebagai tanda persatuan antara Negara-Negara dan alat pelayanan untuk segenap keluarga manusia.”

Ketika dunia terus menghadapi tantangan akibat pandemi virus korona yang mematikan, Paus menyoroti bahwa krisis yang sedang berlangsung mengekspos kerapuhan manusia kita dan mempersoalkan sistem ekonomi, kesehatan, dan sosial kita. Lebih dari itu, krisis itu mengedepankan kebutuhan untuk mewujudkan hak setiap orang atas pelayanan kesehatan dasar.

Mengulangi renungannya dalam Momen Doa Luar Biasa, 27 Maret, Paus mengatakan bahwa pandemi memanggil kita memanfaatkan masa percobaan ini untuk “memilih apa yang penting dan apa yang hilang,” dan “memisahkan yang perlu dari yang tidak perlu.” Paus mendesak agar kita memilih jalan yang mengarah pada konsolidasi multilateralisme, tanggung jawab global, perdamaian dan inklusi orang miskin.

Krisis saat ini, kata Paus, menunjukkan kepada kita bahwa solidaritas tidak bisa berupa kata atau janji kosong.” Krisis Itu juga menunjukkan “pentingnya menghindari setiap godaan untuk melebihi batas alami kita.” Dalam hal ini, Paus mengamati dampak pandemi pada pasar tenaga kerja yang didorong oleh peningkatan robotisasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan menekankan perlunya “bentuk pekerjaan baru yang benar-benar mampu memuaskan potensi manusia sambil menguatkan martabat kita.”

Untuk memastikan hal ini, Paus mengusulkan “perubahan arah” yang melibatkan kerangka etika yang lebih kuat yang mampu mengalahkan “budaya pemborosan yang tersebar luas dan tumbuh dengan tenang saat ini.” Paus menyerukan perubahan paradigma ekonomi dominan yang tujuannya hanya untuk memperbesar keuntungan. Paus juga mendesak agar memberikan pekerjaan kepada lebih banyak orang menjadi salah satu tujuan utama pelbagai usaha.

Paus menunjukkan, budaya sampah dimulai dengan “kurangnya penghormatan terhadap martabat manusia, peningkatan ideologi dengan kurangnya pemahaman akan pribadi manusia, penolakan terhadap universalitas hak asasi manusia dan keinginan berkuasa sepenuhnya.” Ini, kata Paus, adalah “serangan terhadap kemanusiaan itu sendiri.”

Paus menyesali banyaknya pelanggaran hak asasi manusia yang “memberi gambaran menakutkan tentang manusia yang dilecehkan, dilukai, dirampas martabat, kebebasan dan harapannya untuk masa depan.” Paus mengatakan, penganiayaan agama, krisis kemanusiaan, penggunaan senjata pemusnah massal, pengungsian internal, perdagangan manusia dan kerja paksa, serta “sejumlah besar orang yang dipaksa meninggalkan rumah mereka, tidak dapat ditoleransi, namun sengaja diabaikan oleh banyak orang.”

Paus mencatat, upaya-upaya internasional untuk menanggapi krisis dimulai dengan janji besar tetapi banyak yang gagal karena kurangnya dukungan politik yang diperlukan untuk berhasil atau “karena masing-masing negara mengabaikan tanggung jawab dan komitmen mereka.” Untuk mengatasinya, Paus mengimbau masyarakat internasional memastikan bahwa institusi-institusi benar-benar efektif dalam perjuangan melawan tantangan ini. Paus menegaskan kembali komitmen Tahta Suci untuk memainkan perannya dalam membantu situasi itu.

Menanggapi ketimpangan antara si kaya dan si miskin, Paus usulkan mempertimbangkan kembali peran lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan. Paus merekomendasikan model ekonomi yang “mendorong subsidiaritas, mendukung pembangunan ekonomi di tingkat lokal, dan berinvestasi dalam pendidikan dan infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat lokal.” Paus juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengakhiri ketidakadilan ekonomi melalui tanggung jawab fiskal lebih besar di kalangan negara-negara dan “peningkatan efektif bagi yang termiskin” termasuk memberikan bantuan kepada negara-negara yang lebih miskin dan sangat berutang.

Selanjutnya Paus menyoroti dampak menghancurkan dari krisis Covid-19 pada anak-anak, termasuk kaum migran dan pengungsi yang tidak didampingi, dan menunjukkan bahwa kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak memperlihatkan peningkatan. Paus meminta otoritas sipil untuk “secara khusus memperhatikan anak-anak yang ditolak hak-hak dasar dan martabatnya, terutama hak mereka untuk hidup dan bersekolah.”

Tentang keluarga, Paus menyesali pelemahan “unit kelompok masyarakat yang alami dan fundamental” yang dilakukan kolonialisme ideologis yang menghasilkan perasaan “tidak berakar” pada anggotanya. Paus juga berbicara untuk kemajuan wanita, dan menunjukkan bahwa di setiap tingkat masyarakat, wanita sekarang memainkan peran penting dan memberikan kontribusi mereka terhadap peningkatan kebaikan bersama.

Paus berbicara tentang “perlunya melepaskan diri dari iklim ketidakpercayaan saat ini” yang ditandai erosi multilateralisme dan perkembangan bentuk-bentuk baru teknologi militer yang secara permanen mengubah sifat perang. Paus mengkhususkan pencegahan nuklir yang “menciptakan etos ketakutan berdasarkan ancaman saling menghancurkan” dan menyerukan untuk membongkar logika sesat yang menghubungkan keamanan dengan kepemilikan persenjataan sekaligus menghasilkan keuntungan bagi industri senjata. Dalam hal ini, Paus menyerukan peningkatan dukungan bagi instrumen-instrumen internasional dan hukum utama tentang pelucutan, non-proliferasi dan larangan senjata nuklir.

Paus menegaskan, “Kita tidak tidak pernah keluar dari krisis seperti sebelumnya. Kita keluar lebih baik atau lebih buruk.” Krisis saat ini, lanjut Paus, telah menunjukkan batas-batas kemandirian kita serta kerentanan kita bersama. Krisis ini juga menunjukkan bahwa “kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, atau lebih buruk lagi, saling beradu.” Oleh karena itu, di saat kritis ini, “adalah tugas kita untuk memikirkan kembali masa depan rumah kita bersama dan proyek bersama kita” dengan memperkuat multilateralisme dan kerja sama antarnegara.

Sebagai penutup, Paus menekankan bahwa PBB didirikan untuk menyatukan bangsa-bangsa. Oleh karena itu, lembaga itu harus digunakan untuk “mengubah tantangan yang ada di hadapan kita menjadi peluang untuk membangun bersama, sekali lagi, masa depan yang kita semua inginkan.”

Pastor  Benedict Mayaki SJ

Tinggalkan Pesan