Seorang wanita memegang bendera bertuliskan "Damai" dalam pemakaman pria-pria yang dibunuh oleh kelompok bersenjata (AFP)
Seorang wanita memegang bendera bertuliskan “Damai” dalam pemakaman pria-pria yang dibunuh oleh kelompok bersenjata (AFP)

Di tengah “Pekan Perdamaian Nasional” ke-33, 6-13 September, para uskup di Kolombia mengajak umat Katolik untuk berdoa dan mengupayakan perdamaian, karena beberapa bagian negara itu terus menangani konflik antara berbagai kartel narkoba, kelompok pemberontak bersenjata, dan pasukan keamanan.

Para uskup dari Keuskupan Agung Metropolitan Cali mengingatkan masyarakat dalam sebuah komunike bahwa perdamaian merupakan kebaikan universal yang harus menjadi warisan semua.

Secara khusus para uskup itu merujuk kesepakatan bersejarah antara pemerintah Kolombia dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), yang ditandatangani tahun 2016 di ibu kota Kuba, Havana. Tiga tahun negosiasi sulit menghasilkan kesepakatan yang secara resmi mengakhiri 52 tahun konflik kekerasan itu. Lebih dari 220.000 orang tewas dalam kerusuhan itu, dan 5 juta lebih warga sipil terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Menurut sebuah penelitian, hampir 17 persen penduduk Kolombia menderita langsung akibat perang itu.

Perjanjian Havana itu membuka jalan menuju de-eskalasi (perilaku mencegah eskalasi konflik) dan menjadikan FARC sebagai partai politik. Tahun 2019, beberapa anggota FARC menyatakan niat untuk angkat senjata sekali lagi seraya mengatakan pemerintah gagal melaksanakan kesepakatan 2016 itu.

Dalam pernyataan itu, para uskup Kolombia mendesak para pemimpin faksi FARC militan yang baru untuk menandatangani “kesepakatan untuk terus menyatu” dengan pemerintah. “Kami desak semua pihak yang berkonflik untuk meletakkan senjata,” kata para uskup, “dan kami ajak mereka – bersama pemerintah – mengubah jalan kematian dan kehancuran ini dengan terlibat dalam dialog dan melindungi kredibilitas Perjanjian Havana.”

Para uskup juga mengatakan Pekan Perdamaian nasional itu memberi kesempatan untuk merefleksikan “pelanggaran hak asasi manusia yang memalukan,” yang terus mereka sesali hingga saat ini.

Para uskup di wilayah metropolitan Cali itu secara khusus mengimbau perlindungan orang Afro-Kolombia dan kaum muda, yang “dibantai di tanah, penjara, dan kota kami.”

“Seruan untuk menghormati kehidupan dan untuk perhatian dan perlindungan kaum muda Kolombia,” kata para uskup, “membutuhkan pembinaan dan kesempatan untuk meraih bangsa yang lebih seimbang dan inklusif.”

Mimpi ini, lanjut para uskup, bisa direalisasikan dengan baik melalui “pakta bersama antara semua elemen Gereja dan masyarakat.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Devin Watkins/Vatican News)

Tinggalkan Pesan