Pastor Gatot oleh Elisabeth Angela Setyaningsih
Foto berdasatkan FB dari Elisabeth Angela Setyaningsih

“Hari ini kita menyaksikan dan mengalami Romo Gatot, yang kemarin masih bergembira, yang bersukacita di akhir-akhir kehidupannya,” meninggal dunia, kata Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM dalam Misa Requiem Pastor Bartolomeus Gatot Wotoseputro Pr di Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Bogor.

Imam Diosesan Keuskupan Bogor yang lahir di Semarang, 24 Agustus 1957, itu meninggal dunia di Rumah Sakit  Melania Cibinong, Kabupaten Bogor, 30 Agustus 2020, dalam usia 63 tahun, setelah cukup lama terkena gangguan stroke. Misa Requiem untuk imam yang ditahbiskan 11 Juni 1994 itu diadakan di hari yang sama dan pemakaman juga dilakukan di hari yang sama di pemakaman para imam Keuskupan Bogor di TPU Kalimulya, Depok. Misa dan pemakaman dilakukan mengikuti protokol kesehatan saat ini.

Menurut Mgr Bruno Syukur, Pastor Gatot benar-benar orang bersukacita sesuai kesaksian orang-orang yang mendampinginya di rumah sakit, teman-teman imam yang datang menjenguknya, dan saya pribadi, kalau datang menjenguk dia pasti disapa dengan gestur tubuh yang gembira dan tertawa.”

Bahkan menurut Uskup Bogor, jebolan Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus Bandung itu percaya kepada Yesus dan berjuang dalam hidupnya untuk mengikuti-Nya dengan tiga cara “yang dia wariskan, dan baik kita kenang yakni stabil, movable, dan sukacita.”

“Dia orang stabil, berdiri pada keyakinan yang dia yakini, kokoh, tidak ke sana ke mari.” Maksudnya, jelas uskup, “dia stabil akan imannya pada Yesus Kristus, dan hidupnya sebagai imam.” Pastor Gatot sudah menjalankan 26 tahun imamat “dan selama tahun-tahun itu berusaha setia kepada Tuhan Yesus dan kepada panggilan imamatnya.”

“Pastor ini movable, siap diutus ke mana saja keuskupan membutuhkan dirinya. Mungkin itu bagian  penghayatan imam ini untuk mengikuti Kristus yang siap diutus oleh Bapa-Nya, bukan hanya siap berkarya di satu tempat, tapi ke mana pun diutus oleh keuskupan ini,” jelas Mgr Bruno Syukur.

Menurut catatan, Pastor Gatot pernah bertugas di Cibadak, Rangkasbitung, Depok, Parung dan terakhir menjadi penghuni Wisma Kasih UNIO (Paguyuban Imam-Imam Diosesan) Keuskupan Bogor di Telaga Kahuripan, Parung. “Dari sudut itu, saya mengatakan orang ini adalah pastor yang movable, siap dikirim untuk melaksanakan karya Tuhan Yesus. Dia cinta akan Tuhan, dia cinta akan Gereja-Nya. Maka apapun yang terjadi dalam keuskupan ini dia setia dan mencoba memberikan sumbangan positif.”

Uskup menyebut hidup Pastor Gatot penuh kegembiraan atau sukacita dengan melihat hari-hari terakhir hidupnya. Menurut cerita seorang rekan imam yang datang menjenguk, uskup itu memberi contoh, Pastor Gatot begitu gembira “bahkan berangkul-rangkulan, yang jarang dilakukan para imam.” Di saat ulang tahunnya, Pastor Gatot juga mengatakan kepada seorang imam rekan tahbisannya bahwa dia merasa bahagia. “Mungkin dia menggambarkan kebahagiaan terhadap pilihannya agar hidupnya ditentukan oleh Tuhan Yesus dalam rahim Gereja Katolik,” kata Mgr Bruno Syukur.

Misa yang hanya dihadiri uskup dan sekitar 20 imam beserta beberapa anggota keluarga disiarkan langsung oleh Komsos Paroki Cibinong, sedangkan karena protokol kesehatan pemakaman imam itu hanya dihadiri 6 imam muda dan beberapa anggota keluarga.

Selama hidup di dunia ini, kata Mgr Bruno Syukur, “kita tidak mencari yang lain, kita tidak mengikuti cara hidup yang lain, tetapi mengikuti cara hidup Yesus, apa yang diajarkan Yesus. Dan, keselamatan yang dibawakan oleh Yesus itu juga menyangkut keselamatan tatkala kematian badani ini terjadi.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Pastor Gatot 5Pastor Gatot 6Pastor Gatot 7

Kedua foto di atas adalah hasil screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp dari tayangan langsung.

Tinggalkan Pesan