Ketegangan di laut Mediterania
Ketegangan di laut Mediterania

Setelah berdoa Angelus bersama umat dan peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus 30 Agustus 2020, Paus Fransiskus berdoa untuk Mauritius yang menderita akibat tumpahan minyak di lepas pantainya menjelang Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan, 1 September, dan untuk dialog dan penyelesaian konflik yang mengancam perdamaian di Mediterania.

Paus Fransiskus menegaskan, mulai 1 September hingga 4 Oktober, umat Katolik bersama umat Kristen dari Gereja-Gereja dan tradisi-tradisi berbeda akan merayakan ‘Yubileum untuk Bumi.’ Seraya menyambut baik “berbagai gerakan” di seluruh dunia untuk menghormati hari itu, Paus secara khusus menyebutkan “konser yang akan berlangsung di Katedral Port Louis, ibu kota Mauritius, yang sayangnya mengalami bencana lingkungan baru-baru ini.”

Puluhan ribu orang berunjuk rasa di Mauritius, 29 Agustus, atas tanggapan pemerintah terhadap tumpahan minyak dari kapal Jepang yang kandas dan penemuan puluhan lumba-lumba yang mati beberapa hari terakhir. Para pengunjuk melakukan pawai damai melalui ibu kota, Port Louis, sebulan setelah kapal itu menghantam terumbu karang di lepas pantai negara pulau Samudra Hindia itu.

Tahun 1989, Patriark Ekumenis Dimitrios menyatakan 1 September sebagai Hari Ciptaan untuk Ortodoks, diikuti Gereja Kristen Eropa lainnya tahun 2001, dan oleh Paus Fransiskus tahun 2015. Tahun 2018, untuk pertama kalinya, ibadah Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan yang berlangsung di Assisi bersifat ekumenis.

Selain itu, Paus berdoa juga untuk “ketidakstabilan” di Laut Mediterania timur. “Saya mengikuti dengan prihatin ketegangan di Mediterania timur,” kata Paus tanpa menyebut negara-negara yang terlibat. “Saya menghimbau dialog konstruktif dan penghormatan terhadap hukum internasional guna menyelesaikan konflik yang mengancam perdamaian masyarakat di kawasan itu,” lanjut Paus.

Beberapa minggu terakhir ini, ketegangan meningkat di Mediterania timur antara Yunani dan Turki berkaitan dengan cadangan gas dan minyak yang ditemukan satu dekade lalu. Baru-baru ini, kedua negara itu menandatangani perjanjian maritim: tahun lalu Turki dengan Libya, dan bulan lalu Yunani dengan Mesir.

Yunani dan Turki sekarang berselisih soal interpretasi perbatasan perairan masing-masing dan hak untuk mengeksplorasi dan menggunakan sumber daya energi. Ketegangan antara Ankara dan Athena meningkat setelah 10 Agustus karena penempatan kapal penelitian Turki bernama Oruc Reis.

Uni Eropa memperingatkan Turki bahwa mereka dapat menghadapi sanksi baru, termasuk langkah-langkah ekonomi yang keras, kecuali jika ada kemajuan dalam mengurangi ketegangan. Tanggal 2 Agustus, Turki mengatakan terbuka berbicara dengan Yunani tanpa prasyarat. Namun, Turki mengumumkan 29 Agustus adanya manuver pelatihan militer baru untuk dua minggu lagi. Negara-negara Uni Eropa berusaha, di pihak mereka, untuk menghindari eskalasi konfrontasi itu.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Perairan yang terkena tumpahan di pantai Mauritius (© Gwendoline Defente / FAZSOI / Défense)
Perairan yang terkena tumpahan di pantai Mauritius (© Gwendoline Defente / FAZSOI / Défense)

Tinggalkan Pesan