Paus menyalami orang-orang di Lapangan Santo Petrus dalam Angelus Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 2020 (Vatican Media)
Paus menyalami orang-orang di Lapangan Santo Petrus dalam Angelus Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 2020 (Vatican Media)

Dalam Angelus pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 2020, di Lapangan Santo Petrus Roma, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Perawan Maria menunjukkan kepada kita bahwa tujuan kita bukanlah untuk mendapatkan hal-hal di bumi ini, yang cepat berlalu, tetapi tanah air di atas, yang selamanya.

Paus mengajak umat Kristen untuk berterima kasih dan memuji Tuhan atas kebaikan yang telah Dia lakukan dalam hidup kita seperti yang dilakukan Perawan Maria dalam Magnificat, yang menjadi sumber kegembiraannya.

Ajaran iman yang diumumkan oleh Paus Pius XII, 1 November 1950, itu menegaskan bahwa Perawan Maria “setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di bumi, dibawa tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” Paus Fransiskus mengatakan, pengangkatan itu bersinar “sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan bagi Umat Allah dalam persinggahan mereka di bumi,” seperti yang dikatakan oleh Konsili Vatikan Kedua.

Berbicara kepada kerumunan orang yang berlibur hari itu dari jendela studionya yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan, di Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita merayakan penaklukan yang jauh lebih besar daripada “langkah besar bagi umat manusia” saat pertama kali menginjakkan kaki di bulan. Ketika Perawan Maria Nazaret yang rendah hati menginjakkan kaki di surga, tubuh dan jiwa, kata Paus, itulah “lompatan besar ke depan bagi umat manusia.”

Ini, kata Paus, memberi kita harapan bahwa “kita berharga, ditakdirkan untuk bangkit kembali.” “Tuhan tidak membiarkan tubuh kita lenyap menjadi ketiadaan. Dengan Tuhan, tidak ada yang hilang!

Nasihat Maria kepada kita, kata Bapa Suci, terletak pada lagunya, “Magnificat” – “Jiwaku memuliakan Tuhan.” Dijelaskan, “Maria ‘mengagungkan’ Tuhan: bukan memperbanyak masalah, yang tidak kurang dia hadapi saat itu,” jelas Paus. Dia tidak membiarkan dirinya “diliputi oleh kesulitan dan diserap oleh ketakutan.” Sebaliknya, dia menempatkan Tuhan sebagai kebesaran hidup yang pertama, yang menjadi sumber Magnificat-nya. Sukacitanya lahir “bukan dari tidak adanya masalah, yang datang cepat atau lambat, tetapi dari kehadiran Allah,” karena Dia agung dan dia memandang yang rendah.

Maria mengakui dirinya kecil dan mengagungkan “hal-hal besar” yang telah Tuhan lakukan untuknya, lanjut Paus. Dia bersyukur atas anugerah kehidupan, dia masih perawan namun dia hamil, dan Elizabeth, juga, yang sudah lanjut usia, sedang mengandung. Paus mengatakan, “Tuhan melakukan keajaiban dengan orang-orang rendahan …, yang memberikan ruang cukup untuk Allah dalam kehidupan mereka.” Maria memuji Tuhan untuk hal itu.

Paus mengajak semua orang bertanya pada diri sendiri, apakah kita, seperti Maria, memuji dan berterima kasih kepada Allah atas hal-hal baik yang Dia lakukan untuk kita, untuk cinta, pengampunan, kelembutan-Nya dan untuk Bunda-Nya serta saudara-saudari kita yang diberikan kepada kita.

“Kalau melupakan kebaikan itu, hati kita akan mengecil,” Paus memperingatkan. Tetapi kalau, “seperti Maria, kita mengingat hal-hal besar yang Tuhan lakukan, kalau setidaknya sekali sehari kita ‘mengagungkan’ Dia, maka hati kita berkembang dan sukacita kita meningkat.”(PEN@ Katolik/pcp/berdasarkan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan