Pastor Vincentius Markus Marlon MSC (Ist)
Pastor Vincentius Markus Marlon MSC (dari Facebook Fransiska Karundeng)

Viva est brevis” (hidup itu singkat). Orang Jawa mempunyai ungkapan, “urip iku mung mampir ngembe” dan Kitab Amsal menulis, “Hidup kita seperti bayang-bayang berlalu!” Itulah sebabnya, Horance menulis, “Vita est brevis spem nos vetat in cohare longam” (hidup yang singkat mengubur khayalan kosong). Intinya, hidup yang singkat itu, jangan disia-siakan hanya dengan melamun.

Pastor Vincentius Markus Marlon MSC menulis hal itu di PEN@ Katolik 22 Januari 2018. Namun imam yang banyak menulis catatan dan opini di media ini telah meninggal di Pastoran Paroki Dumaring, Talisayan, Berau, Kalimantan Timur, tempat imam itu berkarya, 5 Agustus 2020, pukul 02.20 WITA.

Imam kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, 22 Januari 1966 itu mengikrarkan kaul pertama dalam Tarekat MSC 15 Juli 1988, berkaul kekal 16 Oktober 1993 dan ditahbiskan imam tanggal 17 April 1996.

Misa Requiem untuk Pastor Markus Marlon MSC dan untuk Bruder Maxi Simon Dumanauw MSC yang meninggal di Manado, 4 Agustus, dan akan dikebumikan 6 Agustus, dirayakan di Provinsialat MSC Jakarta 5 Agustus dipimpin oleh Provinsial MSC Indonesia Pastor Samuel Maransery MSC. Bruder Maxi yang meninggal dalam usia 61 tahun karena serangan jantung lahir 18 Maret 1959, mengikrarkan kaul pertama dalam Tarekat MSC 15 Juli 1986 dan mengikrarkan kaul kekal 15 Juli 1993. Belum ditentukan tanggal dan tempat pemakaman Pastor Marlon.

Dalam opini 9 Juli 2016, Pastor Marlon menulis di PEN@ Katolik bahwa ketika dia sedang mengadakan kunjungan orang sakit, tiba-tiba seorang ibu janda yang sudah sepuh nyelethuk, “Sekarang ini, para pastor tidak pernah kunjungan umat. Mungkin karena kami orang miskin, ‘pauper ubique iacet’ (di mana-mana orang miskin itu tidak dihargai), seperti yang dikatakan Ovidius (43 SM-18 M). Kalau zaman dulu, pastor-pastor bule itu rajin kunjungan walau hanya jalan kaki saja!”

Pastor Marlon mengamini kata-kata yang keluar dari bibir ibu itu. “Kunjungan umat adalah reksa pastoral yang tidak tergantikan. Kebanyakan umat mengeluh, karena pastor paroki dalam berkunjung itu ‘pilih-pilih’.” Bahkan, lanjutnya, ada salah seorang umat yang berkata, “Kebanyakan pastor yang bertugas di paroki kami khan dari keluarga yang sederhana bahkan miskin, kenapa setelah menjadi pastor lupa asal-usulnya.” Kata-kata itu “sempat membuat telinga saya merah, karena saya memang dari keluarga miskin, orang nggunung lagi!”

Pastor Marlon mengingat input Mgr Ignatius Suharyo dalam suatu kesempatan Temu Pastoral di Aula KAJ (September 2015) kepada para petugas pastoral dengan mengatakan, “Orang miskin itu butuh makan, pakaian, uang sekolah, obat dan perhatian. Berikanlah kepada mereka apa yang mereka butuhkan saat itu. Urusan pemberdayaan adalah urusan lain atau nanti.”

Ferry Doringin, Ketua Yayasan Tegar (Terang dan Garam) yang fokus pada pendidikan Katolik, dalam edarannya yang juga disampaikan kepada PEN@ Katolik mengatakan, dia, yang pernah hidup bertahun-tahun bersama imam dan bruder yang baru meninggal itu, “merasa sesak di dada menerima kabar duka itu” bahkan “membuat hati ini pedih atas berita kepergian mereka.” Teman-teman di seminari yang juga baru pergi adalah Pastor Norbertus Ngutra MSC yang meninggal 25 April dan Pastor Yohanes Sareta MSC yang meninggal 13 Juli.

Untuk orang-orang dekatnya, Pastor Markus Marlon biasa dipanggil Kak Marlon. “Pastor Marlon dikenal agak pendiam, tidak suka menonjolkan diri. Tapi, untuk petikan gitar, Marlon sangat menonjol. Suaranya jelek. Tapi, ketika ada teman sangat dekat merayakan hari istimewa, Marlon rela menyumbang lagu. Petikan gitarnya yang luar biasa menutup keterbatasan suaranya. Nor Ngutra serba bisa, baik suara maupun musik, dan Jan Sareta pintar sekali menyanyi dan menghibur dengan lawakannya,” jelas Ferry.

Menurut, Pastor Marlon haus akan bacaan, dan sangat rajin menulis dengan kualitas sangat baik. “Tulisannya tersebar di banyak media, yang paling sering, rupanya Suara Pembaruan. Kalau bertemu dengannya dan melihat koleksinya, kita akan terkesan, karena Pastor Marlon mengarsipkan bacaan dan videonya dengan pengarsipan sangat bagus,” kenangnya seraya mengenang tulisan Pastor Marlon dengan gaya Goenawan Muhammad.

“Saya masih sering bertemu dengannya ketika dia membantu Percikan Hati di Skolastikat Pineleng. Juga, masih saling kontak ketika dia kerja di Merauke. Sangat sedih mendengar cerita Kak Marlon ketika di Merauke. Mungkin (saya tidak tahu persis), ada keinginan untuk membantu seseorang dalam politik, malah membuat Kak Marlon masuk dalam masalah. Ketika di Kalimantan, hanya sekali saya saling kontak dengan beliau,” katanya.

Hidup itu pendek. Yang dibutuhkan dalam “hidup yang pendek” itu, kata Pastor Marlon, adalah “take action” dan kurangi menyalahkan lingkungan sekitar. Itu sudah dikatakan oleh Pepatah India, katanya, “Orang yang tidak becus menari akan menyalahkan lantai.” Kita seolah-olah berpacu dengan waktu, seperti yang dikatakan Kahlil Gibran (1883–1931), “Yesterday is but today’s memory and tomorrow is today’s dream” (Kemarin hanya jadi ingatan hari ini dan besok adalah mimpi dari hari ini).(PEN@ Katolik/paul c pati)

Markus Marlon

Tinggalkan Pesan