Santo Yohanes Maria Vianney
Santo Yohanes Maria Vianney

Santo Yohanes Maria Vianney adalah seorang imam yang menyesuaikan dirinya dengan kehendak Allah dengan kesederhanaan, kelembutan dan kesetiaan terhadap sakramen-sakramen, dengan demikian mengikuti jalan kekudusan. Demikian Kardinal Pietro Parolin menggambarkan sosok orang kudus asal Prancis abad ke-19 itu dalam Misa pagi, 4 Agustus 2020 di Ars. Orang kudus itu juga sering disebut sebagai Curè, atau pastor paroki, dari Ars, kota kecil, sekitar 40 km utara Lyon. Di sana Vianney menjabat sebagai pastor paroki dari tahun 1818 hingga kematiannya tahun 1859.

Dalam kotbah, Kardinal Parolin mengenang masa kecilnya sendiri saat dia sangat terkesan membaca biografi Santo Yohanes Vianney. Mungkin, kata kardinal itu, Pastor Paroki Ars membantunya menemukan panggilan imamatnya. Ketika merayakan peringatan 40 tahun tahbisan imamatnya tahun ini, Kardinal itu berterima kasih atas rahmat untuk bisa mengunjungi tempat ziarah orang yang digambarkan Paus Benediktus XVI sebagai “model pelayanan imamat di dunia kita” itu.

Ketika merenungkan bacaan-bacaan Misa itu, Kardinal Parolin mencatat panggilan Santo Yohanes Vianney menjadi “nabi penjaga otentik” yang hanya tertarik pada keselamatan jiwa-jiwa, berjuang tanpa henti melawan si Jahat. Dengan demikian ia menjadi “pengeras suara”, “suara berkumandang dari Tuhan Sendiri,” dan menjalani kehidupan sempurna “dalam kesetiaan dan koherensi total” hingga kematiannya.

Sekretaris Negara Vatikan itu mengenang Pastor Paroki Ars tidak hanya menyembuhkan orang-orang seperti Yesus tetapi juga memupuk banyak panggilan. Pada peringatan 160 tahun kematian orang kudus itu tahun lalu, Paus Fransiskus menulis surat kepada para imam yang mendesak mereka untuk tidak berkecil hati dengan kerusakan yang disebabkan oleh “perilaku bandel” beberapa imam. Mereka, kata paus, selalu perlu mengingat bahwa panggilan adalah “karunia gratis”, “benar-benar tidak dijamin,” diterima dengan penuh syukur “dengan kerendahan hati dan doa.”

Sebelumnya, pada kesempatan peringatan 150 tahun kematian Pastor Paroki Ars tahun 2009, Paus Benediktus XVI menunjukkan orang suci itu sangat relevan di masa-masa sulit kita karena dia “mengajar kita mengirimkan kegembiraan dan harapan melalui kesaksian hidup pribadi kita dan untuk tetap dan gigih dalam pelayanan kita.”

Pelayanan imam abad ke-19 itu dipupuk oleh Firman Tuhan, Ekaristi, Sakramen Rekonsiliasi, serta kelembutan terhadap orang-orang yang terluka dan orang berdosa.

Untuk menjadi orang Kristen atau orang kudus otentik, kata Kardinal Parolin, kita perlu belajar dari “kesederhanaan, ketidaktertarikan, kemurnian intensi dan tindakan, asketisme, kesetiaan kepada Tuhan, dan pada sakramen-sakramen” dari santo itu. Yang terutama adalah “kesatuan personal yang intim dengan Kristus” yang menuntun menyesuaikan keinginan-keinginan kita dengan kehendak Allah yang “mengisi kita dengan sukacita dan kebahagiaan, dan membantu kita menjadi garam dan terang dunia.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan