John Hume, 19 April 1998, tiba di 10 Downing Street untuk berdiskusi dengan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris saat itu, tentang Perjanjian Damai Jumat Agung.
John Hume, 19 April 1998, tiba di 10 Downing Street untuk berdiskusi dengan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris saat itu, tentang Perjanjian Damai Jumat Agung.(ANSA)

John Hume, politisi Katolik Irlandia Utara yang terkemuka dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian meninggal hari Minggu, 2 Agustus 2020, dalam usia 83 tahun. Dilahirkan 18 Januari 1937, John Hume menjabat sebagai salah satu politisi paling terkenal di Irlandia Utara. Dia anggota pendiri Partai Sosial Demokrat dan Buruh (SDLP) tahun 1970 dan memimpin partai itu dari 1979 hingga 2001. Hume adalah salah satu tokoh kunci dalam menciptakan dasar perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada Jumat Agung 1998 yang mengakhiri puluhan tahun kekerasan sektarian di Irlandia. Di tahun itu juga, ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian sebagai pengakuan atas “upayanya untuk menemukan solusi damai untuk konflik di Irlandia Utara” menurut Komite Nobel.

Penghormatan dari beberapa uskup di Irlandia memuji kontribusi John Hume bagi perdamaian di negara itu. Uskup Down dan Connor Mgr Noel Treanor menyatakan belasungkawa kepada istri Hume, Patricia, dan keluarganya yang lebih luas. Dia mengatakan, Hume “termotivasi oleh keyakinan pribadi yang kuat” dan “seorang pejuang Hak Asasi Manusia.”

“John Hume secara unik membentuk narasi politik baru dan profetik yang memungkinkan penarikan dan pelucutan senjata dan menghasilkan infrastruktur untuk proses perdamaian yang mengarah pada Perjanjian Jumat Agung, dan dasar politik baru yang merupakan warisan abadi,” kata Uskup Treanor.

Demikian juga, Uskup Agung Armagh Mgr Eamon Martin mengingat Hume sebagai “teladan perdamaian, tokoh besar negarawan yang warisan pelayanannya yang tak kenal lelah untuk Kebaikan Bersama diakui secara internasional.”

Uskup Agung Martin juga mengatakan John Hume adalah “seorang yang memiliki visi yang impiannya menantang tetapi selalu dapat dicapai.” Hume juga menerapkan Ajaran Sosial Katolik ke dalam praktik, bekerja tanpa henti untuk “proses rekonsiliasi guna mengakui dan menegakkan martabat setiap manusia.”

Uskup Derry Mgr Donal McKeown memuji John Hume sebagai “salah satu pembawa damai dan pembela keadilan sosial terbesar di zaman kita,” dan menambahkan bahwa namanya telah menjadi “buah bibir untuk pengabdian yang menghasilkan perdamaian.”

Mgr McKeown juga mengatakan bahwa Hume mendedikasikan dirinya untuk pekerjaannya di panggung dunia tetapi menghasilkan harapan bagi komunitas lokalnya. Karena alasan itu, “ia akan dikenang sebagai salah satu tokoh hebat lokal dan dunia dari generasinya.”

Dalam pernyataan yang dikeluarkan di situs web Konferensi Waligereja Irlandia 3 Agustus 2020, Administrator Katedral Saint Eugene Derry Pastor Paul Farren bertemu keluarga Hume yang menyatakan keprihatinan bahwa pertemuan publik untuk pemakaman mungkin akan “beresiko bagi kesehatan orang-orang dalam konteks pandemi Covid-19 saat ini.”

Pastor Farren mengatakan, keluarga itu meminta agar “orang-orang mengungkapkan kesedihan mereka dengan tinggal di rumah dan ikut bersama keluarga Hume dalam ‘Perayaan Cahaya untuk Perdamaian.’ “Bukannya berbaris di jalan-jalan untuk menunjukkan rasa hormat kepada John, tetapi keluarga Hume menginginkan kita tetap di rumah dan, pada pukul 9:00 malam, menyalakan lilin dan ikut bersama keluarga berdoa Doa Perdamaian Santo Fransiskus dari Assisi di hadapan jenazah John di Katedral.”

“Perayaan Cahaya untuk Perdamaian,” lanjut imam itu, “adalah penghargaan yang pantas untuk orang Irlandia yang sangat dicintai dan terhormat.” Pastor Farren menyampaikan rasa terima kasih atas nama keluarga untuk “curahan cinta dan dukungan setelah kematian John yang mereka cintai.”

Jenazah Hume dibawa ke Katedral Saint Eugene di Derry 4 Agustus malam. Misa pemakaman dijadwalkan pukul 11:30 keesokan harinya dengan menjalankan norma kesehatan Covid-19 yang ketat. Misa itu akan disiarkan di stasiun-stasiun lokal dan akan disiarkan langsung di situs web Katedral Santo Eugene.(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan