Ignatius-Kardinal-Suharyo-6
Dua Kardinal, Kardinal Suharyo dan Kardinal Darmaatmadja bicara tentang satu orang kudus, Santop Ignatius dari Loyola

“Nama Ignatius bukan saya pilih, tetapi diberikan oleh orang tua saya. Pada zaman saya masih bayi, di keluarga saya ada kebiasaan, bayi lahir bulan apa, lalu dicari orang kudus yang kurang lebih dekat dengan tanggal lahir itu. Saya lahir bulan Juli dan orang tua saya memilih nama Ignatius dari Loyola. Saya tidak pernah bertanya kepada orang tua kenapa dulu diberi nama itu. Tetapi, akhirnya saya bersyukur juga dan mencoba mencari kenapa ‘menurut penyelenggaraan ilahi’ orang tua saya memberi nama itu.”

Demikian kalimat-kalimat pertama sharing Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo Pr menjawab pertanyaan Pastor Bernardus Triyudo Prastowo SJ dalam program Triduum Santo Ignatius dengan judul “Two Cardinals For St. Ignatius Day” yang ditayangkan di YouTube oleh HIDUP tv, pada Pesta Santo Ignatius dari Loyola, 31 Juli 2020 pukul 10.00.

Acara “untuk meresapi semangat Santo Ignatius Loyola” yang dipandu oleh Pastor Kristiono Puspo SJ itu juga menampilkan Julius Kardinal Darmaatmadja SJ yang diwawancarai oleh Pastor Mario Tommi Subardjo SJ.

Kardinal Suharyo bercerita, ketika di seminari menengah di tahun 60-an, seorang kakak kelas memberikan kepadanya tiga jilid buku stensilan tentang riwayat hidup Santo Ignatius Loyola. “Saya duga kakak kelas saya memberikan tiga buku itu sekedar untuk memberikan orientasi kepada saya yang masih kelas 2 SMA untuk mempertimbangkan masuk Yesuit sesudah lulus seminari menengah,” kata Kardinal Suharyo, yang tidak memilih tarekat religius tetapi imam diosesan.

Waktu di seminari tinggi, semua formator adalah Yesuit, dan tentu ‘konferensi’ atau bimbingan rohani selama di sana sangat bercorak Ignatian. “Yang paling saya ingat adalah salah satu kata kunci yakni ‘kontemplasi dalam aksi’, yang dari situ renungan kita bisa ke mana-mana,” kata kardinal.

Tetapi, “saya semakin mendalami spiritualitas Ignatian ketika belajar di Roma, tahun 1977. Ketika saya belajar Kitab Suci di Gregoriana, Kardinal Martini adalah rektornya. Dia menulis banyak buku berkaitan dengan Latihan Rohani Santo Ignatius dan Kitab Suci, memberi retret kepada para imam salah satu wilayah di Italia berdasarkan Injil Matius dengan kaca mata Latihan Rohani Santo Ignatius, dan Injil Yohanes dengan kaca mata Latihan Rohani Santo Ignatius,” kata Kardinal Suharyo.

Mulai waktu itu, lanjut Kardinal Suharyo, “karena saya belajar Kitab Suci dan bernama baptis Ignatius, saya mulai sungguh-sungguh tertarik mempelajari kaitan antara Latihan Rohani Santo Ignatius dan Injil Matius dan Injil Yohanes yang saya baca. Itu awal dari usaha saya untuk sungguh-sungguh memahami.”

Sementara itu Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja SJ mengenal Santo Ignatius sewaktu masuk novisiat dan membaca santo-santo lain, tidak membaca tentang Santo Ignatius karena semua pembimbing di seminari waktu itu adalah imam-imam Yesuit. “Saya mulai terkesan karena ternyata hidup itu adalah suatu pergulatan. Untuk beriman saja Santo Ignatius itu bergulat sampai menemukan panggilan, mengalami sakit dan operasi kaki, tetapi dia teguh menjalani itu semua,” kata kardinal itu.

Tapi yang menarik uskup emeritus Jakarta itu adalah perjuangan Santo Ignatius mengabdi raja. “Itulah cita-citanya, menjadi tentara, menjadi perwira dan orang terpercaya bagi rajanya. Itu perjuangannya sebelum bertobat. Tetapi, setelah bertobat, perjuangan ini terus, hanya figur yang dia abdi menjadi berubah, bukan lagi mengabdi raja tapi mengabdi Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam,” jelas Kardinal Darmaatmadja.(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Untuk mendengar secara lengkap sharing kedua kardinal itu, silakan mengklik video Youtube di bawah ini:

Tinggalkan Pesan