Santa Marta tetap sibuk
Santa Marta tetap sibuk

“Apa yang akan Anda lakukan, jika suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Anda untuk meminta makan atau sedekah?” Jika Anda orang cukup murah hati, Anda mungkin akan memberikan makanan sisa kemarin dengan menggunakan piring kertas atau membungkusnya dengan plastik.

Akan tetapi, coba bayangkan jika yang bertamu itu kerabat atau sahabat baik kita. Pasti kita akan berusaha menjamunya dengan baik, menghidangkan makanan terbaik dengan menggunakan peralatan makan yang baik pula. Lalu, bagaimana jika yang datang ke rumah kita adalah Tuhan Yesus. Apa yang akan kita lakukan?

Sahabat terkasih, hari ini Gereja kembali memperingati Santa Marta. Biasanya, sosok Santa Marta mengingatkan kita akan perkataan Yesus dalam Injil Lukas (10: 38-42), “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.”

Melalui perkataan itu, Yesus ingin menekankan kepada kita semua bahwa ‘mendengarkan-Nya’ adalah hal yang lebih penting dari apapun juga. Maka, jika boleh membahasakan perkataan Yesus itu dalam konteks jaman ini, sebagai tamu pasti orang itu akan berkata, “Sudahlah … tidak perlu repot-repot, mari kita ngobrol saja.”

Di lain pihak, sebagaimana juga dikatakan, Marta, Maria dan Lazarus adalah sahabat yang sangat dikasihi Yesus. Maka, sebagai sahabat yang baik, Marta ingin menjamu Yesus dengan baik, apalagi saat itu Yesus datang bersama para murid-Nya. Dan, sebagai orang Timur (Asia) yang terkenal dengan keramahannya, menjamu tamu adalah hal sangat penting. Itulah sebabnya, Marta merasa perlu mengingatkan Maria saudarinya akan tugasnya, karena jaman dahulu, wanita Yahudi memang bertugas mempersiapkan jamuan makan untuk setiap tamu yang datang.

Melalui sosok Marta yang dikisahkan dalam Injil Lukas ini, kita dapat mengambil sebuah poin positif, yaitu, “Marta melayani”. Inilah bentuk perbuatan atau perwujudan iman Marta. Sebab, sebagaimana yang dikatakan Santo Yakobus dalam suratnya, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, “Teladan iman apa yang dapat kita contoh dari Marta?”

Dalam bacaan Injil hari ini, 27 Juli 2020 (Yohanes 11:19-27), ada satu hal menarik untuk direnungkan, yaitu seperti ada tertulis, “Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.” Kembali ke konteks masyarakat Yahudi saat itu, adalah hal tabu bagi orang yang sedang berkabung untuk keluar dari rumah. Tetapi, Marta meninggalkan orang-orang yang sedang bersedih dan menangis, lalu datang menemui Yesus.

Marta melakukan hal itu karena Marta beriman dan percaya bahwa Yesus adalah sang Mesiah, Anak Allah, satu-satunya sumber harapan dan kebangkitan. Iman Marta ini dapat terlihat melalui dialognya dengan Tuhan Yesus. “Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya,” dan “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman,” kata Marta.

Semoga, teladan Santa Marta yang kita peringati hari ini menginspirasi hati dan pikiran agar kita pun dapat mewujudkan iman kita ke dalam perbuatan yang nyata (pelayanan). Biarlah, seperti iman Marta yang bertumbuh, yaitu dari kesedihan akibat kematian menuju pada iman percaya akan kebangkitan Kristus, kita pun mau terus melangkah datang kepada Yesus dengan penuh iman dan terus berbuat kasih sekalipun di tengah-tengah dunia yang saat ini tengah bersedih dan berduka.

Kabar Gembira-Nya hari ini, “Akulah kebangkitan dan hidup! Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup serta percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” Santa Marta… doakanlah kami selalu.

Frater Agustinus Hermawan OP

Sr Marta

Tinggalkan Pesan