Peziarah Tiongkok menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Kraków, Polandia, tahun 2016. ROY LAGARDE
Peziarah Tiongkok menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Kraków, Polandia, tahun 2016. ROY LAGARDE

Otoritas pemerintah di Shanxi, Cina, memerintahkan orang-orang yang menerima bantuan pemerintah untuk mengganti simbol keagamaan di rumah mereka, termasuk foto-foto Yesus, dengan foto-foto Ketua Mao dan Presiden Xi Jinping. Bantuan itu akan diambil kalau menolak mematuhinya.

Majalah kebebasan beragama Bitter Winter melaporkan bahwa para pejabat di kota Linfen, Provinsi Shanxi, diberitahu di bulan April untuk memeriksa dan menghapus simbol-simbol keagamaan dari rumah-rumah mereka yang menerima “pembayaran kesejahteraan sosial” dan untuk menggantinya dengan para pemimpin komunis. Pembayaran bagi mereka yang mengeluh akan “dibatalkan.”

Kebijakan ini juga berlaku untuk anggota gereja-gereja yang dijalankan negara. Seorang anggota dari Gereja Tiga-Pribadi, yang merupakan denominasi resmi Protestan dari Partai Komunis Cina, mengatakan kepada Bitter Winter bahwa gambar-gambar Yesus dan kalender keagamaan telah diturunkan dari rumahnya dan diganti dengan gambar-gambar Ketua Mao.

Seperti di sebagian besar dunia, ekonomi Cina terpukul oleh pandemi virus corona yang sedang berlangsung, yang berarti semakin banyak orang mengandalkan pembayaran pemerintah untuk tetap bertahan secara finansial. Pada saat yang sama, pemerintah melakukan tindakan keras baru terhadap tempat-tempat ibadah.

“Rumah tangga beragama yang miskin tidak bisa begitu saja menerima uang dari negara, mereka harus menaati Partai Komunis untuk uang yang mereka terima,” kata anggota Gereja Tiga-Pribadi  itu kepada Bitter Winter.

Seorang pengkhotbah dari gereja rumah, yang biasanya ilegal tetapi ditoleransi di sebagian besar Cina, mengatakan bahwa salib dan gambar Yesus miliknya telah dicopot bulan Mei dan diganti dengan gambar Ketua Mao.

“Semua rumah tangga miskin di kota itu diperintahkan untuk memajang gambar Mao Zedong,” kata pengkhotbah itu kepada Bitter Winter. “Pemerintah berusaha menghilangkan kepercayaan kami dan ingin menjadi Allah, bukan Yesus.”

Selain Shanxi, umat Kristen di provinsi lain telah melaporkan perlakuan serupa dari pejabat pemerintah. Di Jiangxi, tempat banyak laporan penganiayaan Kristen dilaporkan tahun lalu, seorang Kristen melaporkan, pembayaran untuk cacatnya dicabut karena kehadirannya di gereja. Istrinya melaporkan kepada Bitter Winter bahwa kepadanya dikatakan mereka akan “diperlakukan sebagai unsur anti-Partai” kalau mereka tidak berhenti pergi ke gereja.

Seorang perempuan anggota Gereja Tiga-Pribadi yang berusia 80-an dan tinggal di provinsi Jiangxi, melaporkan, dia kehilangan bantuan pemerintah setelah ia mengatakan “Terima kasih Tuhan” setelah menerima pembayaran subsidi. “Mereka mengharapkan saya untuk memuji kebaikan Partai Komunis,” katanya.

Bulan April, seorang wanita tua lain dari provinsi Henan melaporkan, tunjangan hidup minimumnya dibatalkan ketika para pejabat menemukan sebuah salib di pintu rumahnya. Wanita, yang menderita diabetes dan sering disuntik itu, kehilangan semua bantuan pemerintah karena keyakinan agamanya.

Di provinsi Shandong, para pejabat menggerebek rumah seorang pria Kristen dan memposting gambar-gambar Mao dan Xi Jinping. Orang Kristen itu mengatakan kepada Bitter Winter bahwa Mao dan Xi Jinping adalah “Allah-Allah terhebat.” Para pejabat mengatakan kepadanya, “Kalau mau menyembah seseorang, merekalah orang-orang itu.”

Sejak 2015, pemerintah Komunis mengemukakan program “sinicization” agama. Laporan berkala tentang gereja-gereja yang dihancurkan, para imam dan uskup yang dilecehkan dan ditangkap, dan sensor ketat yang diberlakukan pada pelajaran agama terus muncul dari negara itu.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Catholic News Agency)

 

 

Tinggalkan Pesan