Biji sesawi

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya”

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Itulah dua perumpamaan yang Tuhan Yesus membentangkan kepada murid-murid-Nya, seperti yang kita baca dan dengar dalam Injil hari ini, 27 Juli 2020, (Matius 13: 31-35).

Sahabat terkasih, melalui kedua perumpamaan ini, ada dua pesan bisa kita renungkan. Pertama, “semua hal besar selalu berawal dari hal kecil.” Mungkin selama ini kita berpikir bahwa ‘surga’ adalah perkara besar dan jauh di atas sana. Tetapi, melalui perumpamaan ini, kita manusia yang kecil ini pun ternyata bisa membawa damai dan sukacita surgawi ke dalam dunia ini. Caranya adalah melakukan hal-hal sederhana, seperti, saling mengasihi dan mengampuni, sekalipun itu hanya dalam lingkup keluarga maupun komunitas.

Maka, janganlah berkecil hati atau merasa diri kecil, tetapi mulailah dari hal-hal kecil yang kita punya untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik. Dengan kata lain, janganlah menganggap remeh hal yang kecil. Kita lihat saja, virus corona yang begitu kecil, bahkan tak terlihat oleh kasat mata, dampaknya begitu luar biasa mempengaruhi seluruh dunia. Meski demikian, kita patut bersyukur karena kita masih punya doa. Seperti biji Rosario yang walaupun kecil, namun apabila didoakan dengan yakin dan penuh iman, mukjizat yang besar pasti akan terjadi.

Pesan kedua adalah “bagaimana hidup kita bisa memberi arti bagi hidup orang lain.” Seperti biji dan ragi yang sangat kecil, keduanya harus mati dan melebur terlebih dahulu agar bisa menjadi sebatang pohon dan membuat adonan kue, demikian pula hendaknya dengan hidup kita. Hidup kita bisa memberi arti, apabila kita bersedia untuk ‘mati’ (mengorbankan diri atau membuang ego) demi kebaikan orang-orang yang kita sayangi.

Dalam hal ini, kita bisa melihat teladan dan kasih sayang kedua orang tua. Orang tua yang baik pasti akan mengorbankan diri atau melakukan apapun juga demi kebaikan atau kebahagiaan anak-anaknya. Sekalipun tidak terlihat oleh mata, akan tetapi kasih sayang orang tua terutama ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita pasti dapat dirasakan di dalam hati anak-anaknya.

Begitu pula iman kita. Biarlah, setiap Sabda Tuhan yang kita baca dan dengar setiap hari, sekalipun itu hanya sedikit, kita simpan dan lakukan. Dengan demikian, percayalah, suatu hari nanti kita pasti dapat memiliki iman yang mampu memindahkan gunung.

Maka, yang perlu adalah lebih banyak bersabar dan bertekun, sebab hasilnya pasti akan lebih tahan uji atau awet, jika dibandingkan dengan yang sifatnya instan atau ‘booming‘ sesaat dan setelahnya menghilang entah ke mana. Sungguh, iman dan surga diperoleh bukan dengan cara instan, tapi melalui proses terus menerus sepanjang hidup ini.

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan