Mgr Moses Costa
Mgr Moses Costa

Gereja Katolik Bangladesh berduka atas hilangnya seorang uskup agung yang meninggal beberapa minggu setelah pulih dari Covid-19. Uskup Agung Chittagong, Bangladesh, Mgr Moses Costa CSC meninggal Senin, 13 Juli 2020, di sebuah rumah sakit di ibukota Dhaka, setelah menderita serangkaian stroke. Dia berusia 69 tahun.

Klerus paling senior dari Gereja Katolik Bangladesh yang meninggal dalam pandemi virus corona itu sebelumnya diterbangkan dengan helikopter dalam kondisi kritis dan dirawat di ICU Rumah Sakit Square di Dhaka 13 Juni. Karena gangguan pernapasan parah, di hari berikutnya uskup itu dinyatakan positif mengidap virus corona. Kondisinya membaik secara signifikan dan 22 Juni dites negatif. Mgr Costa tetap tinggal di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Namun, kondisinya berubah drastis 8 Juli dan dipindahkan lagi ke ICU. Menurut dewan medis, Mgr Costa menderita beberapa kali stroke yang disebabkan pendarahan otak, 9 Juli, dan meninggal 13 Juli pagi. Menurut pejabat Keuskupan Agung Chittagong, Mgr Costa akan dimakamkan di Chittagong 14 Juli malam.

Kepergian Mgr Costa membuat “semua umat beriman terkejut luar biasa,” tulis situs web keuskupan agung itu saat mengumumkan kematian uskup agungnya. “Keuskupan Agung Chittagong sekarang tanpa gembala! Seluruh komunitas Kristen di Bangladesh, khususnya umat Keuskupan Chittagong, sangat sedih.” Kematiannya, lanjut umat keuskupan agung itu, “merupakan kehilangan besar bagi komunitas Kristen dan juga seluruh Bangladesh. Kematiannya merupakan kehilangan yang tidak dapat dipulihkan bagi kita semua.”

Koordinator pastoral Chittagong, Manik Willver D’Costa, memuji “upaya luar biasa uskup agungnya dalam meletakkan fondasi kuat sosial-ekonomi untuk Gereja dan merombak reorganisasi sistematis aparat Gereja.” Dalam hal itu, Mgr Costa mendorong kebangkitan spiritual dan semangat misionaris dalam diri para klerus, religius, dan kaum awam.

Manik menunjukkan, kesederhanaan dan sikap ramahnya membuat uskup agung itu disayangi orang lain, terutama orang muda. Almarhum uskup agung itu pernah berkata, pembinaan orang muda Katolik bukan hanya tentang ajaran, tetapi “perjalanan dan pertumbuhan bersama Yesus Kristus.”

Gerakan Mahasiswa Katolik Bangladesh yang berafiliasi dengan Gereja menyebut almarhum uskup agung itu “pelopor Gereja Bangladesh dan cahaya pembimbing bagi kepemimpinan kaum muda.” Kematian Mgr Costa membuat umat Katolik Bangladesh di dalam dan luar negeri terkejut. Ratusan umat memposting penghormatan di media sosial.

Moses, yang lahir 17 November 1950 sebagai anak bungsu dari 10 bersaudara, masuk Seminari Menengah Bunga Kecil di Bandura, distrik Dhaka, tahun 1963. Ia bergabung dengan Kongregasi Salib Suci tahun 1971, mengikrarkan kaul terakhirnya tahun 1981 dan ditahbiskan imam 5 Februari 1981. Dia melayani sebagai pastor rekan di dua paroki dari 1981 hingga 1984.

Moses menjalani studi lanjut di Roma dan meraih lisensiat bidang teologi pastoral dan spiritualitas di Universitas Santo Thomas Aquinas tahun 1986 dan bidang psikologi dan konseling di Universitas Kepausan Gregoriana tahun 1989.

Pulang ke negaranya, Pastor Moses mengajar psikologi dan teologi pastoral di Seminari Tinggi Nasional di Dhaka, jadi direktur Seminari Salib Suci dan Skolastik Salib Suci, dan rektor Seminari Tinggi Nasional dan anggota Dewan Jenderal Kongregasi Salib Suci.

Tanggal 20 Juli 1996, Santo Paus Yohanes Paulus II mengangkat Pastor Costa sebagai uskup keenam Keuskupan Dinajpur. Setelah melayani sampai 2011, Uskup Costa diangkat menjadi uskup kelima Chittagong dan jadi uskup agung saat Paus Fransiskus tingkatkan Chittagong menjadi keuskupan agung tahun 2017.

Almarhum uskup agung itu adalah Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Bangladesh (CBCB) dan juga ketua Komisi Kesehatan CBCP.(PEN@ Katolik/pau c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan