Sianturi (kanan) bersama istri
Sianturi (kanan) bersama istri

“Awal saya masuk Persaudaraan Dominikan Awam (PDA), saya tak mengerti apa itu PDA. Ketika diperkenalkan, saya sekedar ikut. Karena jujur, dunia saya dulu adalah dunia ‘gelap’. Masuk gereja dan berdoa saya tidak pernah. Doa Rosario pun sangat memberatkan saya.”

Pengakuan itu diutarakan oleh Redison Sianturi OP dalam studi bersama PDA bertema “Ketaatan Yang Membawa Sukacita” yang dilaksanakan lewat program Zoom 5 Juli 2020. Pembicara lain dalam studi itu adalah istrinya sendiri, Mariati Butar-Butar OP, Koordinator Dominikan Awam Nasional Theo Atmadi OP, Suster Maria Clarita OP dan Pastor Andrei Kurniawan OP.

Sianturi yang saat ini sedang sakit dan harus menjalankan pencucian darah dua kali seminggu itu bahkan bersaksi bahwa “sebenarnya saya masuk PDA karena kasihan.” Dia bercerita, setelah melakukan retret dua malam dan satu hari bersama Suster Maria Elisabeth OP dan Suster Maria Dominika OP serta Pastor Andreas Kurniawan OP, tidak ada peserta yang berani bertanda tangan untuk menjadi postulan.

“Semua pada takut, saya juga takut!” tegasnya. Tapi, kasihan melihat suster yang bolak balik dari Yogyakarta, Sianturi mengatakan “apa yang harus ditakutin.” Dia pun meminta bukunya dan memberi tandatangannya.

“Saya katakan, apa yang ditakutin? Kita jalani dulu. Nanti, kalau ada masalah, ya kita mundur. Baru teman-teman semua tanda tangan, dan kita berjalan sampai sekarang,” cerita Sianturi. Dan “Puji Tuhan, kita semua yang dari awal itu tidak ada yang mundur. Semua sudah kaul kekal.”

Meski perjalanan memasuki PDA mengalami banyak pasang surut, ternyata hidup doa Sianturi menjadi jauh berbeda. “Dulu berdoa Rosario dan hafal peristiwa-peristiwa Rosario sangat memberatkan. Tetapi sekarang, Puji Tuhan, setelah saya masuk PDA semua peristiwa Rosario bisa saya hafal. Sekarang saya berdoa Rosario setiap pagi. Kalau tidak berdoa Rosario rasanya hampa.”

Meski demikian Sianturi mengaku perubahan yang terjadi dalam dirinya “juga merupakan berkat motivasi dari teman-teman PDA yang setiap bulan sebelum pandemi Covid-19 selalu bertemu untuk saling memberi motivasi bahwa doa adalah jalan satu-satunya untuk kehidupan pribadi.”

Masuk PDA ternyata bukan saja membuat dirinya “jauh, jauh, jauh berubah” tetapi memberikan sebuah “mujizat” dalam kehidupannya. Sebagai seorang Dominikan, berdoa Rosario dan brevir serta merayakan Misa setiap hari merupakan bagian kehidupannya. Namun, Sianturi yang sejak tiga bulan lalu menjalani cuci darah setiap Selasa dan Jumat mendengar bahwa Keluarga Dominikan akan mulai merayakan Misa sejak Kamis Putih, Jumat Agung dan seterusnya dengan program Zoom pada sore hari juga.

Mendengar itu, Sianturi berdoa kepada Tuhan. “Tuhan, saya tidak bisa ikuti doa dan Misa harian sejak Kamis Putih karena cuci darah saya sore hari, pukul 14.00 sampai 20.00 malam. Tuhan tunjukkan jalan agar saya bisa ikut Misa.” Dan, saat mencuci darah hari Selasa sebelumnya, dokter datang menemuinya dan mengatakan, “Pak Sianturi, mulai hari Jumat nanti Pak Sianturi cuci darah pagi hari pukul 8.00 pagi.”

Sianturi pun bersyukur kepada Tuhan Tuhan karena pada hari Jumat itu dia bisa ikut Misa Peringatan Kematian Tuhan Yesus. “Itulah mujizat pertama saya terima dari Tuhan. Mungkin itu doa teman-teman PDA, sehingga sampai sekarang saya bisa ikut Misa setiap hari,” kata Sianturi seraya menambahkan, “PDA adalah organisasi atau perkumpulan yang sangat menjanjikan untuk kehidupan kita.”

Theo Atmadi OP yang terpilih sebagai Presiden PDA Indonesia pertama dalam Retret Nasional Ketiga PDA Indonesia di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM), Jawa Tengah, 6-8 September 2019, juga mengaku masuk PDA itu tanpa mengenal benar bentuk persaudaraan itu, bahkan dia berpikir “sama dengan ikut kegiatan kategorial atau kegiatan religius lain.”

Namun, setelah mengikutinya, dia mulai lebih dekat mengenal Santo Dominikus dan spiritualitas yang harus dijalani. Dan, ketika tiba saatnya harus mengucapkan janji atau kaul “muncul rasa was-was.” Berarti, pikirnya, dia harus menyerahkan seluruh kebebasannya kepada Master Jenderal yang diwakili oleh promotor jenderal untuk taat kepada peraturan PDA. Padahal, dia mengamati, banyak hal dalam peraturan itu berat dia jalani, misalnya “kalau bisa ikut Misa setiap hari, paling tidak harus berdoa Rosario setiap hari, berdoa brevir pagi dan sore, serta meditasi.”

Akhirnya dia melihatnya semua itu sebagai jalan-jalan yang ditawarkan oleh Santo Dominikus untuk mengikutinya “sehingga akhirnya tujuan kita untuk bergabung dalam Ordo Dominikan bisa tercapai, yaitu menuju kesucian, kembali kepada Bapa.”

Theo Atmadi ingat, dirinya sendiri serta banyak temannya merasa berat berjanji “karena belum mengerti makna janji itu.” Namun, dia percaya, kalau berjanji untuk setia kepada Ordo yang sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkan Gereja, artinya kita tidak akan meninggalkan Gereja, artinya kita akan mengikut Yesus Kristus sendiri.”

Dia mengingat juga semboyan contemplata et contemplare aliis tradere dalam Ordo yang mengajaknya berkontemplasi dan membagikan buah-buah kontemplasi kepada sesama. “Kalau kita membagikan buah-buah kontemplasi tentu asalnya dari Tuhan. Maka, kalau merasa itu berasal dari Tuhan sendiri, berarti kita bisa menjadi bagian dari Tuhan sendiri yang menyatu dan datang kepada kita, sehingga kebahagiaan itu akan sangat indah dan sangat terasa.”

Banyak tantangan karena banyak sekali pilihan. Itu pun dialami oleh presiden PDA itu, “karena hidup adalah pilihan” dan “pilihan itu harus benar kita sadari, karena semua punya akibatnya.” Tapi, meski merupakan sesuatu yang tidak enak, Theo Atmadi OP sudah memilih karena “itu demi kebaikan bersama.”

Sudah 25 tahun Suster Maria Clarita OP hidup membiara dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia. Namun suster yang kini berkarya di Seminari wacana Bhakti Pejaten itu mengaku hidup penuh perjuangan, jatuh-bangun, karena “saya bukan orang yang baik, saya punya banyak kekurangan dan kelemahan, tetapi Tuhan menyempurnakan hidup saya lewat kehadiran para suster di komuitas saya, lewat karya perutusan yang dipercayakan kongregasi kepada saya.”

Dengan keberadaan itu bahkan di tengah banyaknya tawaran Suster Clarita menghayati kaulnya dan menentukan pilihan dengan cara “bersikap miskin terhadap diri saya sendiri” dan bijak dalam memilih, “kalau tidak saya bisa mengikuti keinginan saya sendiri.” Ponsel di tangan suster sudah ‘jadul’, tapi di tengah banyak tawaran, dengan penuh perjuangan dan kebijakan dia tidak membeli yang bagus karena berhasil menjawab “apakah saya membutuhkannya?”

Ketika “dipanggil” untuk melakukan perutusan baru di Seminari Wacana Bhakti, suster itu pun merasa tidak mampu, tanpa talenta dan kemampuan. “Saya orangnya resmi, sementara saya harus bersama banyak rekan kerja di tempat baru itu. Saya kaku, tidak supel dan fleksibel. Tapi saya serahkan kepada Tuhan karena percaya Dia sendiri akan memampukan saya, memberikan berkat kepada saya untuk melakukan tugas perutusan itu, dan saya katakan baik saya akan berangkat, mohon maaf kalau tidak sesuai harapan kongregasi,” demikian pendapat yang disampaikannya kepada pimpinan.

Suster lalu menjalani semuanya sebagai sebuah proses yang harus diperjuangkan bersama Tuhan dan di dalam Tuhan. Maka, setiap mengalami kesulitan, kejenuhan dan kebosanan saya lari kepada Tuhan, datang ke kapel, menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, karena saya percaya Tuhan akan memberikan jalan untuk melewati semuanya.” Dan, “Tuhan bekerja dalam diri saya. Saya merasa lega karena beban saya Tuhan ambil lewat orang-orang di sekitar saya terutama komunitas yang sungguh menjadi bingkai dalam kehidupan saya yang meneguhkan dan menguatkan entah lewat sapaan, ejeken, pertanyaan, dan candaan.”

Dalam studi itu, Pastor Andreas (Andrei) Kurniawan OP mengakui bahwa memilih itu susah-susah gampang, “tetapi kalau sudah berhasil menjalani pilihan yang sesuai pilihan Tuhan, sukacitanya luar biasa.” Maka, imam itu mendorong anggota PDA untuk “terus mencari mutiara itu dengan pengorbanan dan komitmen.”

Sesuai dengan ajaran Santo Dominikus, Pastor Andrei menegaskan bahwa setiap orang bebas memilih untuk menjadi diri sendiri sesuai rencana Tuhan. “Manusia dapat menentukan sendiri pilihannya dan selalu dalam proses membuat diri menjadi diri sendiri,” karena “setiap manusia itu unik, tidak bisa ditiru orang lain. Setiap manusia hanya satu tidak ada yang lain, ini yang menjadikan kita unik,” kata imam itu.

Karena pilihan begitu banyak dan kita harus memilih yang terbaik, maka kebebasan itu terbatas, maka yang penting dan harus ditentukan “bukan kebebasan dari apa tetapi kebebasan untuk apa!” Dengan mampu menjawab “bebas untuk apa,” tegas imam itu, “Kita menjadi tuan untuk tindakan kita sendiri.”

Agere sequitur esse (siapa diri kita)? “Kita adalah ciptaan Allah, kita mau menjadi seperti Allah. Itulah kebebasan otentik menurut Thomas Aquinas, tegas Pastor Andrei seraya menjelaskan bahwa pilihan bebas ‘harus” bersyukur kepada Tuhan, dan setiap hari harus berdoa Rosario, harus berdoa ofisi dan harus mengikuti perayaan Ekaristi, itu untuk sesuatu yang lebih agung yang menjadikan diri kita citra Allah.”

Mungkin sejak dulu seseorang tidak berdoa dan dari dulu tidak pernah mau dekat dengan Tuhan. Itu bebas. Tapi, bebas itu untuk apa? Pastor Andrei menegaskan, “Bebas itu untuk memasterkan diri kita sendiri sehingga menjadi citra Allah.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Ketaatan 6Ketaatan 5Ketaatan

Tinggalkan Pesan