Anastasia Dyah Puwanitasari, saat menyatakan kesediaan  menjadi biarawati dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan menjalani masa pendidikan biarawati (Tembakan layar oleh PEN@ Katolik/pcp)
Anastasia Dyah Puwanitasari, saat menyatakan kesediaan menjadi biarawati dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan menjalani masa pendidikan biarawati (Tembakan layar oleh PEN@ Katolik/pcp)

Saudari Anastasia Dyah Puwanitasari, saudari telah mendengar bacaan Konstitusi Dasar Ordo Pewarta yang menjadi tumpuhan hidup kita, yang akan saudari mulai dalam masa pendidikan di novisiat. Dengan demikian kita tahu sekarang apa arti dan maksud pendidikan di novisiat dan apa yang menjadi tuntutan-tuntutannya. Perkenankanlah saya bertanya kepada saudari, “Bersediakah saudari menjadi biarawati dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan menjalani masa pendidikan biarawati?” tanya superior jenderal kongregasi itu, Suster Maria Elisabeth Yaya Budiarti OP.

“Ya Suster, saya bersedia dengan bantuan rahmat Tuhan,” jawab Anastasia.

“Semoga Tuhan mendampingi dan menyelesaikan karya yang telah dimulai dalam diri suster,” lanjut Suster Maria Elisabeth OP dalam dialog penjubahan 1 Juli 2020 yang disiarkan langsung oleh Komsos Paroki Baciro dari Gereja Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Di gereja itu sehari sesudahnya, 2 Juli, dua orang suster OP mengikrarkan kaul pertama.

Setelah mendengarkan kesediaan dari Anastasia, Pastor FX Alip Suwito Pr memberkati pakaian biara untuk suster itu dengan doa semoga pakaian itu “menjadi pakaian pelindung dan pembaktian suster yang mengenakannya.”

Saat menyerahkan pakaian itu kepada Anastasia, Suster Elisabeth OP berkata, “Saudari Anastasia Dyah Puwanitasari, terimalah pakaian kebiaraan ini, semoga dengan mengenakan pakaian kebiaraan ini saudari bersemangat sebagai biarawati sejati yang membaktikan diri sepenuhnya  demi Kerajaan Allah.”

“Mohon doa dan restu Suster,” jawab Anastasia yang bersama superior jenderal itu membungkuk depan altar dan keluar dari gereja untuk berganti pakaian. Misa dilanjutkan. Anastasia, yang sudah mengenakan pakaian suster OP hadir dalam Misa di gereja yang hampir kosong itu, mengenang homili Pastor Alip Suwito sebelumnya bahwa Yesus ingin mengangkat harkat dan martabat keberadaan manusia yang sungguh berharga di mata Tuhan.

“Maka, seberapa besar kesalahan dan dosa, seberapa buruk citra kita di hadapan Tuhan, kita perlu yakin dan membangun pengharapan bahwa Tuhan yang mencintai kita tetap menetapkan kita dan menempatkan kita sebagai orang yang berharga di mata-Nya,” kata imam itu.

Keesokan harinya, dua suster “berkat bantuan rahmat Tuhan dan terang Roh Kudus” bersedia mengikrarkan kaul keperawanan, kemiskinan dan ketaatan dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dalam jangka waktu satu tahun, terlibat dalam gerakan hidup kongregasi demi perluasan Kerajaan Allah, dan menghayati semangat hidup Santo Dominikus yang selalu berbicara dengan Tuhan dan atau tentang Tuhan.

Didampingi Suster Maria Elisabeth OP, sambil memegang lilin bernyala secara bergantian kedua suster itu, Suster Maria Antonia Kristianingsih OP dan Suster Maria Mikaela Donasia Satianti OP, mengikrarkan kaul kebiaraan dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan berjanji kepada Tuhan, kepada Santa Perawan Maria, kepada Santo Dominikus, dan kepada Suster Maria Elisabeth OP selaku pemimpin kongregasi dan para penggantinya sesuai Regula Santo Agustinus dan Konstitusi dari kongregasi itu.

“Saya mau hidup sebagai perawan Kristus yang bersikap taat dan miskin seperti Kristus  untuk jangka waktu satu tahun,” janji mereka secara bergantian.

Setelah memberkati kedua suster itu, Pastor FX Alip Suwito Pr memberkati salib dan cincin “sebagai tanda mengikatkan mereka dengan cita-cita dan tekadnya untuk menyatukan diri dengan wafat dan kebangkitan Tuhan kami Yesus Kristus” dan supaya “yang memakainya diingatkan kepada janji yang telah diucapkan dan dimampukan dengan rahmat Roh Kudus-Mu untuk menanggapi kesetiaan-Mu dengan kesetiaan pula.”

Kedua suster itu memohon doa dan restu Suster Elisabeth OP ketika mereka menerima salib “sebagai tanda penebusan” yang hendaknya mengingatkan mereka kepada Kristus yang telah wafat dan bangkit demi keselamatan dan kebahagiaan kita, dan sebelum cincin dipasang di jari mereka “sebagai lambang ikatan dengan dengan Yesus Kristus, semoga suster diingatkan olehnya bahwa suster sudah menjadi milik Kristus.”

Kedua suster juga menerima buku konstitusi dari kongregasi OP sebagai rumusan singkat jalan hidup mereka, “semoga suster mempelajari dan merenungkannya agar semakin hari semakin diresapi oleh semangat suci seperti Santo Dominikus.”

Yang mau dilanjutkan kedua suster itu, menurut Pastor Antonius Wahadi Martaatmaja Pr, dalam homili, “adalah salah satu upaya nyata, positif dan proaktif untuk membangun kehidupan yang suci, suci bukan hanya dalam arti bersih tetapi suci dalam arti menjadi milik Tuhan dan dipakai oleh Tuhan, membangun kehidupan sesuai kehendak Allah, membangun kehidupan yang kita harapkan menjadi kekuatan untuk mewujudkan kehidupan secara nyata.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Baciro 11
Anastasia Dyah Puwanitasari
Baciro 6
Suster Maria Mikaela Donasia Satianti OP (kiri) dan Suster Maria Antonia Kristianingsih OP (kanan)
Baciro 2
Suster Maria Elisabeth OP memasangkan cincin serta memberikan salib dan buku konsistusi

Baciro 5Baciro 7

Pastor Antonius Wahadi Martaatmaja Pr
Pastor Antonius Wahadi Martaatmaja Pr
Pastor FX Alip Suwito Pr
Pastor FX Alip Suwito Pr

1 komentar

  1. Selamat ya utk Suster Anastasia, Sr. Maria Mikaela dan Sr. Maria Antonia.
    Atas pengabdiannya.
    Smoga Tuhan sll menuntun kalian dlm pelayanan.
    Tuhan memberkati

Tinggalkan Pesan