Novis 1
Empat imam, dua frater dan satu bruder OP mendampingi lima frater OP yang baru memasuki masa novisiat (@ YouTube)

“Mari kita bergembira ria, madahkanlah lagu syukur bagi Tuhan, Alleluya.” Dengan iringan lagu itu, lima orang muda berpakaian batik memasuki Gereja Redemptor Mundi Surabaya yang kosong. Dalam gereja itu mereka melepaskan baju batiknya kemudian menerima jubah putih, dengan rosario mengikat pinggangnya, serta mantol hitam.

“Untuk pertama kali dalam sejarah Ordo Dominikan, perayaan ini dirayakan di gereja ini, bahkan di Indonesia, lima orang muda menerima gelar OP (Order of Preachers atau Ordo Pewarta), menerima jubah, dan memulai novisiat di Surabaya. Maka semua orang senang dan terlibat dalam persiapan Misa ini. Kenapa semua ini terjadi? Ini hanya karena Covid-19, dan karena itu kelompok ini bisa disebut Kelompok Covid-19,” kata Pastor Filemon dela Cruz OP.

Imam asal Filipina yang jadi pemimpin Komunitas Rumah Santo Tomas Aquino, Surabaya, itu memimpin Perayaan Ekaristi secara live streaming di Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, 29 Juni 2020. Kelima frater itu adalah Harry Purnomo Suryadarminta (Surabaya), Marco Silaen (Medan), Salvatore Widaton Purnayama (Banjarmasin), Antonius Widhi Pramudianto (Purwokerto), dan Kristian Hadiwijaya (Cirebon).

Sebelumnya, 25 Juni 2020, sembilan novis memulai novisiat di Manaoag, Filipina. Kelima novis dari Indonesia itu akan bergabung di Manaoag kalau kondisi sudah memungkinkan. Sebelum ke Filipina, mereka akan dibina oleh Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP sebagai formator atau magister novis sementara.

Misa, yang dipimpin Pastor Filemon dengan konselebran Pastor Bayuhadi Ruseno OP itu dirayakan dalam bahasa Inggris, dengan lagu-lagu ordinarium dalam bahasa Tagalog, lagu tanggapan mazmur dan lagu persembahan bahasa Indonesia, dan lagu Salam Ya Ratu bahasa Latin. Dua imam OP lain dan dua suster OP mengikuti Misa itu.

Dalam perayaan itu, menurut Pastor Filemon, kelima orang muda menjadi anggota atau bagian dari Ordo Dominikan “dan akan menggunakan nama OP di belakang nama mereka, layaknya nama keluarga.”

Pastor Filemon mengingatkan, dulu ketika dia masuk novisiat ada kesepakatan sepanjang satu tahun untuk “tidak bisa keluar, tidak baca koran, tidak dengar radio, tidak dikunjungi, tidak menyurat.” Dan sekarang, lanjut itu, mereka “tidak boleh buka handphone, tidak boleh buka internet, tidak bisa chatting, tidak bisa kirim pesan, tidak menerima tamu.”

Kedua pengalaman itu berbeda, karena tempat dan lingkungan, “tapi novisiat tetap sama, tujuannya sama, sebagai masa pencobaan, saat para novis semakin jelas memahami sifat dari keilahian panggilan Dominikan, mengalami cara hidup Dominikan, melatih pikiran dan hati dalam semangat Dominikan, sehingga bisa dipastikan intensi dan ketegasan kalian untuk bersama kami mengikuti Ordo. Maka tahun ini sangat penting.”

Lima hari sebelum perayaan itu, para frater sudah mendapat masukan dari beberapa imam tentang apa itu masa novisiat. “Tapi, saya ingin katakan satu hal yang selalu terkait dengan novis, itu doa,” kata imam itu seraya berharap selain lebih dalam masuk ke dalam doa, “para novis menjadi orang-orang pendoa, mendoakan kita, Ordo, dan provinsi.”

Maka, lanjut Pastor Filemon, kalau diminta menulis dengan cara paling sederhana apa itu novisiat, dia akan menulis, “ini tahun istimewa saat kalian bisa dalam doa mengupayakan keintiman dengan Tuhan, mencari Tuhan sepanjang tahun dalam segalanya yang kalian lakukan.”

Imam itu berharap kehidupan mereka setiap dari di masa novisiat “mengarahkan kalian kepada Kristus yang kalian cari dan pilih untuk diikuti, membiarkan semua pengajaran yang kalian dapatkan tentang spiritualitas, Kitab Suci, liturgi, sejarah Ordo, dan konstitusi, bukan sekedar informasi melainkan ilmu pengetahuan yang bisa menerangi langkah kalian dan mengarahkan kalian kepada Kristus.”

Imam itu juga meminta agar semua bacaan spiritualitas, renungan, tugas serta persoalan dan perjuangan mengarahkan mereka kepada Kristus. Demikian juga, semoga studi tentang kehidupan para kudus Dominikan membantu mereka mengikuti Kristus. Bahkan menurut imam itu, di novisiat mereka akan kangen dengan orang-orang yang mereka cintai. “Semoga kenangan akan orang yang kalian cintai pun mengarahkan kalian kepada Kristus. Semoga semua itu bukan menjadi halangan, tetapi batu loncatan yang membuat kalian lebih dekat kepada Tuhan.”

Pakaian Dominikan yang mereka terima dan kenakan, menurut imam itu, hendaknya juga “membuat mereka rindu untuk mengikuti Kristus” dan rosario yang bergantung di pinggang mereka membantu mereka “menyelami misteri kehidupan Kristus.”

Pastor Filemon mengingatkan, formasi atau pembinaan Dominikan “berada dalam rahim Santa Perawan Maria, Ratu Rosario” maka para frater hendaknya membiarkan diri dibimbing oleh Maria “untuk bisa lebih dalam berhubungan dengan Kristus.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Foto-foto di bawah ini adalah hasil screenshot oleh PEN@ Katolik dari video YouTube yang menyiarkan secara langsung perayaan penjubahan itu.

Novis 3

Pastor Filemon dela Cruz OP didampingi Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP
Pastor Filemon dela Cruz OP didampingi Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP
Suasana setelah menyanyikan lagu "Salam Ya Ratu"
Suasana setelah menyanyikan lagu “Salam Ya Ratu”
Novis 7
Mereka sudah bagian dari Keluarga Dominikan
Pastor bermain organ, frater dan suster bernyanyi, dan bruder menjadi putra altar.
Pastor bermain organ, frater dan suster bernyanyi, dan bruder menjadi putra altar.

Tinggalkan Pesan