Pastor Al Tandirassing  (@Al Production)
Pastor Al Tandirassing (@Al Production)

“Semua kembang bernyanyi senang, giranglah hatiku, pun rumput serta bernyanyi senang, Tuhanlah sumber sukaku …” Pastor Al Tandirassing Pr terus bernyanyi lagu Puji Syukur 703 itu dengan musik dari Yanuarius Adio09 dalam album Al Production yang bisa didengar dalam kanal YouTube.

Pastor Al Tandirassing terus bernyanyi. “Semua Kembang Bernyanyi” ditayangkan sejak 18 Juni 2020. Dua hari sebelumnya, 16 Juni, imam itu menampilkan lagu cover “Kutemukan Jawabannya.” Lagu Simbolon Sisters ciptaan Soritua Manurung itu dinyanyikan dengan musik oleh Anderson. Di hari yang sama, lagu Toraja cover Patonganna dari album Trio Gideon dengan musik Sony Tombokan bisa juga disaksikan di YouTube.

Imam itu terus bernyanyi, bukan saja “Tuhan Pimpinlah” dari Album Victor Hutabarat dan musik Jackson Rarumangkay, 15 Juni, tapi juga “Aku tak Berdaya”, 12 Juni, dari Doddie Tetekala dengan musik Aldo Siahaan. Dan, kalau menjelajah lebih dalam di YouTube Al Production, akan tampil lebih banyak lagu.

“Di kala kucemas, dan di kala kubersedih, kepada-Mu kupasrah hidupku, biarku bersenandung dalam masa hidupku …” nyanyi Pastor Al Tandirassing dalam lagu “Tuhan Pimpinlah” mengenang medan yang sangat menegangkan yang selalu dia lewati, sebelum pandemi Covid-19 untuk melayani umat di stasi-stasi dalam Paroki Santo Petrus Mamasa Sulawesi Barat. Untuk melihat medan antarstasi itu, Pastor Al Tandirassing juga mengirim sebuah video yang bisa membuktikannya. (Bisa dilihat di bawah tulisan ini. Red)

“Saya rindu untuk hadir di tengah umat selama masa pandemi ini, sehingga saya berpikir untuk menemui mereka dalam bentuk rekaman lagu. Harapannya semoga mereka terhibur dan tetap merasakan kehadiran imam di tengah-tengah keluarga,” kata Pastor Al Tandirassing Pr kepada PEN@ Katolik, 18 Juni 2020.

Biasanya, imam diosesan Keuskupan Agung Makassar itu melakukan kunjungan pastoral dengan menggunakan motor trail “melewati bukit berlembah, memasuki hutan, naik turun gunung, bahkan melewati sungai, demi mengunjungi rumah-rumah umat, apalagi di stasi-stasi yang masih sangat memerlukan katekisasi karena pengetahuan iman Katolik mereka belum mendalam.”

Kunjungan dihentikan sementara di saat pandemi Covid-19, dan Keuskupan Agung Makassar bersama teman-teman pastor mendukung dan mengapresiasi “kunjungan saya lewat media virtual” guna memenuhi “kerinduan perjumpaan pelayanan dengan umatnya.”

Maka, Pastor Al Tandirassing, yang ditahbiskan imam 9 Agustus 2017 dan sudah memproduksi banyak rosario, bahkan menerima permintaan dari berbagai keuskupan mengatakan, “saya mencoba meng-cover beberapa lagu seperti lagu daerah Toraja berjudul ‘Sangmane Toto’Ku’ yang menceritakan kerinduan untuk bisa berkumpul dengan teman-teman.

Imam asli Tana Toraja, yang pernah menciptakan beberapa lagu seperti lagu ‘Memikul Salib’ dan ‘Aku Mau Mengikuti-Mu’ di saat masih frater, berharap lagu-lagunya “mengobati kerinduan kita terhadap Gereja dan memberikan hiburan di masa pandemi.” Lebih dari itu, di masa ‘stay at home’, lewat lagu-lagu itu imam itu mengajak 1300 umat parokinya untuk mengembangkan bakat dan talenta yang sudah Tuhan berikan.

Dua lagu single yang diciptakan itu pernah dimuat dalam album seminari dan sekarang bisa dinikmati di YouTube Al Production. Selain itu, imam itu membuat banyak lagu koor dalam bahasa Indonesia dan Toraja, beberapa sudah termuat di YouTube tapi ada juga yang tersebar dalam bentuk partitur, belum ada rekaman video.

Pastor Al Tandirassing mengaku “memang senang bernyanyi” dan dulu pernah ikut koor Vocalista Sonora, binaan Paul Widyawan dan Romo Prier selama lima tahun. “Karena senang bernyanyi, saya kepikiran untuk rekaman-rekaman covering lagu selama pandemi. Semua saya lakukan untuk aktualisasi dan ekspresi diri. Melalui nyanyian, saya dapat mengekspresikan diri,” lanjut imam itu.

Imam itu juga senang mengembangkan diri dalam berbagai bidang. “Saya selalu berusaha memproduksi apapun setiap hari. Maka saya belajar menjadi editor audio dan video, mencoba memproduksi banyak konten virtual di Al Production, dan berharap ilmu tersebut dapat berguna untuk orang lain.”

Dengan menyanyikan lagu-lagu rohani, lanjut imam yang akan merayakan HUT ke-30 di bulan Juni 2020, “saya semakin mengenal Allah yang hadir dalam hidup saya dan sangat dekat dengan saya.” Lebih dari itu, “lagu rohani memberikan nutrisi hidup setiap hari,” kata imam itu.

Sudah ribuan rosario diproduksi imam itu bersama tim. “Saya membuat rosario pertama untuk umat di Paroki Mamasa, sebagian besar dikirim ke beberapa paroki di Toraja, juga beberapa pesanan dari luar Sulawesi seperti Bali, Medan, Kalimantan dan Papua.”

Tapi, Pastor Al Tandirassing mengakui, “hanya membantu produksi, membagikan ilmu kepada anggota Legio Maria dan OMK cara pembuatan rosario. Seluruh hasil penjualan saya masukkan ke kas kelompok mereka karena saya juga menerima bahan gratis dari donatur. Ya, menerima cuma-cuma, memberi cuma-cuma.”

Motivasi imam itu dalam membuat rosario adalah “mengisi waktu kosong, membantu umat yang belum punya rosario, membantu kelompok-kelompok untuk pencarian dana melalui produksi rosario.” Namun, jelas imam itu, ternyata “merangkai rosario membuat saya semakin sabar, teliti, kreatif dan terlebih semakin mencintai Bunda Maria dalam hidup saya, sebab rosario selalu menandakan kehadiran pendampingan Maria dalam hidup panggilan saya sebagai imam.” Imam itu juga memberikan tutorial pembuatan rosario. (Bisa dilihat di bawah. Red.).

Dan Pastor Al Tandirassing terus bernyanyi, “Peganglah tanganku, oh peganglah, peganglah tanganku, oh peganglah tanganku. Janganlah kutersesat di jalan, janganlah kutersesat di perjalananku …”(PEN@ Katolik/michael)

Lagu-lagu Pastor Al Tandirassing bisa dilihat di link di bawah ini:

https://www.youtube.com/results?search_query=al+production

Al T 2Al T 6Al Ta

Rosario 6

Tinggalkan Pesan