Kardinal Kevin Farrell
Kardinal Kevin Farrell

“Pertama-tama, ada perasaan bahwa sesungguhnya kita memiliki banyak kesamaan, karena selama berabad-abad gereja-gereja saling bersaing dengan bersikeras pada perbedaan mereka. Namun, dalam enam puluh tahun terakhir, dialog ekumenis dan kontak terus-menerus membuat orang Kristen boleh menemukan bahwa kita jauh lebih dekat daripada gambaran sosial yang kita buat satu sama lain.”

Begitulah lebih kurang penyataan Sekretaris Dewan Kepausan untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen Kardinal Kevin Farrell yang disampaikan dalam wawancara dengan Suster Bernadette Reis dari Vatican News, seperti yang dilaporkan oleh media itu pada hari peringatan lahirnya dewan itu 5 Juni 2020. Di tanggal yang sama tahun 1960, Santo Paus Yohanes XXIII mendirikan dewan itu dengan nama saat itu Sekretariat untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen.

Dalam wawancara itu Kardinal Kevin Farrell refleksikan perubahan yang menandai gerakan ekumenis sejak dewan itu berdiri. “Saya pikir sangat berat melebih-lebihkan” pentingnya pembentukan dewan itu, kata kardinal itu. Gagasan Santo Yohanes XXIII untuk mendirikan kantor ekumenis di Vatikan itu, lanjutnya, “tentu saja merupakan hal baru, sebuah revolusi saat itu, dan sekarang menjadi kenyataan. Dan kami terus berupaya memulihkan persatuan Gereja Kristus.”

Perbedaan penting lainnya adalah “fakta bahwa, dari konflik dan persaingan, kita telah berpindah ke suasana kepercayaan dan keyakinan serta keterbukaan penuh dalam dialog ekumenis,” kata kardinal. Dan, perubahan, yang harus benar-benar kita syukuri itu, “terjadi karena mengenal dan melibatkan saudara-saudari kita di gereja-gereja lain.”

Ketika menjawab pertanyaan tentang beberapa tantangan ekumenis yang dihadapi Gereja saat ini, Kardinal Farrell mengatakan, “tantangan besar adalah, pertama-tama, mengumumkan seluruh tujuan ekumenis Gereja.” Ekumenisme tidak bisa hanya menjadi perhatian “kelompok elit para pakar.” Sebaliknya, “persatuan Gereja adalah tentang seluruh umat Allah.”

Peringatan kelahiran Dewan Kepausan yang didedikasikan untuk ekumenisme, kata Kardinal  Farrell “adalah kesempatan yang baik bagi kita semua untuk tahu apa yang telah dilakukan, dan memeriksa apa yang perlu kita lakukan sekarang.”

Bersama Paus Fransiskus, Kardinal Farrell mengakui “ketidaksabaran yang sehat” dari orang-orang yang merasa bahwa kita bisa dan harus berbuat lebih banyak untuk mengupayakan Persatuan umat Kristen. “Salah satu hal yang perlu lebih banyak kita lakukan adalah tidak puas dengan apa adanya,” kata kardinal seraya menambahkan, “ini godaan yang sangat manusiawi.”

Juga penting, kata Kardinal Farrell, “bahwa kita benar-benar mempelajari pelajaran […] bahwa Tuhan telah mengajarkan gerakan ekumenis itu, dan khususnya melalui pelayanan Paus Fransiskus,” yaitu, “bahwa kita perlu hidup seolah-olah kita telah menemukan persatuan.”

Dengan menjalani persekutuan yang tidak sempurna yang sudah kita jalani bersama, “kita dapat memiliki kerangka kerja dan konteks untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sulit yang masih harus kita selesaikan.”

Kardinal Farrell mengakui, “masih banyak studi, pekerjaan, dan doa harus dilakukan sebelum kita mencapai pemahaman penuh tentang kesatuan kita.” Namun, lanjut kardinal, “kita tidak bisa berhenti. Kita semua dihadapkan pada dunia yang menunjukkan kepada kita bahwa jika kita tidak berdiri bersama, kita tidak akan bisa melayani.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus memperbaharui komitmen ekumenis pada peringatan ut unum sint

Tinggalkan Pesan