Pastor Edmund Nantes OP (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Edmund Nantes OP (PEN@ Katolik/pcp)

Pemindahan relikui Santo Dominikus berlangsung 24 Mei 1233. Beato Jordan, penerus Santo Dominikus, beserta para anggota Ordo Dominikan, yang berkumpul di Bologna untuk Kapitel Umum Ordo Pewarta, dan para uskup serta hakim yang hadir, berdiri membisu sementara kuburan perlahan-lahan dibuka.

Sejarah itu diceritakan oleh Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia di Pontianak Pastor Edmund Nantes OP dalam Peringatan Pemindahan Relikui Santo Dominikus, 14 Mei 2020, yang dilaksanakan oleh Keluarga Dominikan (imam, suster, frater dan awam) dari seluruh Indonesia lewat pertemuan Zoom.

Rodolf dari Faenza, sahabat yang disayangi Santo Dominikus, lanjut imam asal Filipina itu, mulai menggali kuburan itu. “Dan, ada bau mulai tercium, semakin tajam dan manis saat kuburan semakin dalam digali. Akhirnya, peti jenazah terlihat dan diangkat ke permukaan, dan seluruh gereja dipenuhi parfum surgawi.”

Pastor Nantes berharap, “semoga pesta pemindahan relikui Santo Dominikus menjadi inspirasi supaya harum kebenaran, harum kekudusan, harum belas kasih, menyebar ke seluruh dunia,” dan semoga di saat pandemi Covid-19, “yang menyebar adalah kekudusan Santo Dominikus dan anak-anaknya.”

Sekarang, jelas mantan Provinsial Ordo Dominikan Provinsi Filipina yang mencakup Indonesia itu, kekudusan itu perlu untuk memberi keseimbangan di tengah kejahatan virus, “dan kekudusan ini bisa juga dibuktikan dengan doa bersama dan bagaimana Keluarga Besar Dominikan menjadi solusi atau mengurangi beban pandemi ini.”

Belajar dari pandemi kelaparan yang pernah menimpa saat Dominikus masih SMA, ketika dia menjual buku-bukunya demi kepentingan hidup orang lain, “sekarang ini Keluarga Dominikan di mana-mana bersama-sama menolong korban pandemi,” kata Pastor Nantes.

Di akhir bulan Mei, cerita imam itu, artis-artis terkenal mementaskan konser digital untuk menolong para korban Covid-19 dan di Indonesia para imam Dominikan yang menjalankan STKIP Pamane Talino milik Keuskupan Agung Pontianak, bekerja sama dengan GP Ansor dan Yayasan PenaMas Mulia Surabaya dan berbagai perusahaan dan pengusaha dalam “Indonesia Peduli & Bersatu” sedang menyalurkan sembako untuk korban Covid-19 di Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat.

Dalam Studi Keluarga Dominikan 24 Mei 2020 itu juga ditampilkan berbagai kegiatan para imam OP dalam “Indonesia Peduli & Bersatu” serta kegiatan awam dan suster Dominikan yang membantu orang-orang yang terdampak Covid-19, serta kegiatan sosial lainnya.

Studi yang ditutup dengan Misa, dengan petugas liturgi dari berbagai komunitas suster se-Indonesia dengan bantuan program Meeting dari Zoom, juga mendengarkan sharing dari suster dan awam.

Alexius Satyo Widijanuarto OP dari Jakarta, yang bersama timnya membantu persoalan IT untuk komunikasi para Dominikan, ikut Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) sejak diajak doa dan studi bersama di Biara Suster OP Pandega. “Sekali dua kali dan keterusan, karena acara PDA bukan hanya doa tetapi studi. Persaudaraannya terasa sekali, seperti keluarga, ada pastor, suster, frater dan awam,” kata Alex. Di saat pandemi, Alex mengaku belum berbuat banyak. “Selain kunjungan ke lapas, dalam pandemi ini kami memberi sembako hanya kepada tetangga tak mampu. Sebatas kemampuan kita.”

Gwenny Riawati Surya OP dari Chapter Thomas Aquinas Surabaya sudah delapan tahun bergabung dengan PDA, karena tertarik dengan homili para imam Dominikan dan keinginan masuk sebuah Ordo. Dan, dia merasakan sukacita dan guyup sampai saat ini “karena kita punya imam, suster, dan awam di mana-mana, dan di mana-mana saya diterima sebagai saudara.”

“Karena keterbatasan jarak,” tahun 2016 dia bersama empat perempuan lain membentuk komunitas baru di Surabaya Timur, tepatnya Paroki Marinus, dengan nama Santa Rosa de Lima. “Dengan komunitas itu kami merasa lebih erat karena satu daerah, sukacita kami tumbuh, begitu bersemangat sehingga ingin bertemu terus bahkan dalam pagi bersama.” Sekarang jumlah komunitas itu 30 orang.

Dalam pandemi ini, mereka berbagi dengan tahanan di LP. “Bahkan kita sumbang mesin jahit dan kain ke LP untuk membuat masker” dan berkeliling Surabaya “membagikan sembako kepada orang yang membutuhkan.”

Suster Maria Lusia Kusrini OP masuk Dominikan bulan Desember 1978. “Ada satu pribadi, teladan saya. Semangatnya persis seperti Dominikus. Namanya Suster Agnes OP. Dia membimbing saya sejak muda,” kata suster yang bahagia karena punya saudara-saudari, ada pastor, suster, dan awam “yang bisa saling menguatkan lewat perjumpaan,” dan “nanti mendoakan saya kalau saya meninggal.”

Suster Lusia mengaku sangat bersyukur masuk Dominikan, karena bapaknya berpesan, “kalau ada orang minta tolong, tolonglah, dan kalau ada meninggal, doakan arwahnya.” Begitu bertemu Suster Agnes secara pribadi, dia diberitahu bahwa semangat Dominikus adalah “rindu akan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain, termasuk jiwa-jiwa.” Suster Lusia pun ‘mengintip’ dan meneladani kehidupan sehari-hari Suster Agnes yang banyak berdoa untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Dalam pandemi Covid-19, suster pendoa itu mendoakan orang-orang yang minta tolong. “Banyak orang stres karena modal terkikis bahkan usaha stop, banyak juga orang sakit. Bahkan, hampir setiap malam ada jiwa-jiwa minta didoakan. Maka, saya ingat kata Suster Agnes, kita harus banyak berdoa bagi orang-orang yang butuh rahmat keselamatan.”

Yohanes Udi Cahyanto OP datang ke Biara Pajaten saat itu “untuk belajar dengan imam dan suster dan karena rindu, sudah lama tak jumpa secara fisik.” Udi mengaku masuk PDA tahun 2015 dengan bertanya, apa itu Dominikan Awam? Untuk mendapat jawaban, dia belajar, menemukan sesuatu yang baru, dan keterusan, bergulir hingga saat ini. Namun profes 3 itu masih bertanya, “Apakah saya pantas?”

Meski demikian dia tetap bersukacita karena ada pastor dan suster di antara para awam. “Apalagi kalau retret, ternyata saudara saya banyak sekali, saya bisa tinggal di mana-mana, Yogyakarta, Surabaya Pontianak,” kata Udi seraya menegaskan “Saya rasa pertumbuhan Dominikan Awam begitu cepat.”

Menurut Udi, studi itu menarik. “Saya suka studi, karena dengan studi saya lebih mengenal diri saya dalam terang Bapak Dominikus, mendapatkan persaudaraan, dan belajar banyak. Semakin banyak bertemu semakin saya belajar, meninggalkan hal-hal lama dan masuk hal-hal baru. Dengan membuka diri, saya selalu menemukan hal baru dan percaya masih ada hal baru lainnya.”(PEN@ Katolik/pcp/aop)

Pemindahan

Pastor, suster, frater dan awam dalam acara peringatan Pemindahan Relikui Santo Dominikus
Pastor, suster, frater dan awam dalam acara peringatan Pemindahan Relikui Santo Dominikus

 

 

 

Tinggalkan Pesan