Makam St Dominikus
Makam Santo Dominikus

Ternyata, sebuah rantai besi sudah bertahun-tahun terikat erat di pinggang Dominikus. Hal itu diketahui saat orang kudus itu meninggal 6 Agustus 1221, ketika tuniknya dibuka dan jenazahnya dibersihkan oleh Saudara Rodolph dari Faenza. Bekas-bekas luka dan tanda yang dihasilkannya membuktikan itu. Rantai itu kemudian dikirim kepada Beato Jordan yang menjadi penggantinya.

Itulah cerita awal mengenai pemindahan pertama relikui Santo Dominikus yang disampaikan dalam tayangan lewat Zoom kepada Keluarga Dominikan Indonesia yang terdiri dari imam, suster, frater dan awam dalam Studi dan Misa 24 Mei 2020. Acara itu diikuti Keluarga Dominikan termasuk dari semua biara suster OP dan semua chapter serta komunitas Persaudaraan Dominikan Awam se-Indonesia.

Teman akrab Dominikus, Kardinal Ugolino, yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX, memimpin Misa pemakaman Dominikus dan berdoa, “Penuhilah, O Bapa, apa yang telah Engkau janjikan, dan bantu kami dengan doa-doamu.” Dominikus lalu dimakamkan, “sesuai keinginannya”, di ‘bawah kaki saudara-saudaranya’ di Gereja Santo Nicholas dari Kebun Anggur di Bologna. Dan di situ, banyak orang disembuhkan, namun saudara-saudaranya enggan mengakui mukjizat-mukjizat ini.

Akhirnya, atas desakan Paus Gregorius IX, jasad Dominikus dipindahkan ke kuburan marmer. Pemindahan itu merupakan kebetulan atau tepatnya keharusan, karena saat itu jumlah biarawan semakin banyak, biara harus diperluas dan gereja sangat membutuhkan perbaikan. Makam Dominikus harus diganggu, dan itu perlu ijin Paus. Dengan gembira Paus Gregorius IX menyetujui permintaan itu. Pemindahan terjadi 24 Mei 1233, 12 tahun setelah Dominikus meninggal, bersamaan dengan Kapitel Umum Ordo Pewarta (Dominikan). Paus ingin hadir tetapi tidak bisa karena kewajiban lain. Namun, ia mengirim wakilnya. 300 orang Dominikan hadir dalam kapitel itu.

Beberapa hari sebelum pemindahan jenazahnya, beberapa anggota Dominikan gelisah dan cemas jangan-jangan sisa-sisa Santo Dominikus telah berubah. Salah seorang yang cemas adalah Saudara Nicholas di Giovenazzo. Namun, Allah meyakinkan dia bersama orang lain melalui wahyu khusus. Ketika berdoa, Saudara Nicholas menyaksikan penampakan seorang pria yang berkata dengan jelas dan gembira, “Orang ini akan menerima berkat dan rahmat dari Tuhan, dan harus dilestarikan oleh Tuhan-Nya.” Saudara Nicholas memahami wahyu itu sebagai tanda kesucian Dominikus.

Upacara pemindahan itu dihadiri Beato Jordan, penerus Santo Dominikus, para peserta kapitel umum, dan para uskup serta hakim. Mereka semua hening membisu saat kuburan dibuka atau digali perlahan-lahan oleh sahabat yang disayangi Dominikus yakni Rodolf dari Faenza.

Dan, bau yang luar biasa mulai tercium, semakin keras dan semakin manis saat kuburan itu semakin dalam digali. Akhirnya, ketika peti jenazah muncul dan diangkat ke permukaan, seluruh gereja itu dipenuhi parfum surgawi.

Beato Jordan mengangkat tubuh Dominikus dari peti jenazahnya dan dengan hormat meletakkannya dalam tempat baru. Setelah delapan hari, tempat itu dibuka kembali untuk memuaskan devosi umat beriman. Lalu, Beato Jordan mencium Dominikus sementara air mata kelembutan mengalir dari matanya. Para peserta kapitel umum mendapat kesempatan melihat jenazah Dominikus untuk terakhir kali, dan wangi surgawi tetap tercium di tangan dan pakaian mereka yang mencium atau memegang sisa-sisa suci itu, atau bahkan yang mendekati tubuhnya.

Dominikus dikanonisasi tahun berikutnya, 3 Juli 1234, oleh Paus Gregorius IX. Pemindahan kedua dari relikui itu terjadi tahun 1267. Tahun 1473, patung indah karya agung dari Nicholas de Bari, menghiasi pemakaman Santo Dominikus.(PEN@ Katolik/aop)

Makam St Dominikus 2Makam St Dominikus 1

Tinggalkan Pesan