Aloysius Sandjaya dan Pastor Johann Balthasar Casutt SJ, dua tokoh yang membangun ATMI Cikarang (foto Dok ATMI Cikarang)
Aloysius Sandjaya dan Pastor Johann Balthasar Casutt SJ, dua tokoh yang membangun ATMI Cikarang (foto Dok ATMI Cikarang)

“Tuhan berikanlah istirahat, abadi dan tenang bagi yang wafat …” Lagu untuk perjalanan pulang Aloysius Aluinanto Sandjaya yang dinyanyikan dengan iringan gitar ini terdengar juga di kapel Politeknik Industri ATMI (Akademi Tehnik Mesin Industri) Cikarang yang didirikan oleh Pastor Johann Balthasar Casutt SJ dengan bantuan alumni ATMI Solo dan dimulai dengan pendidikan diploma (D-III) dengan program studi teknik mesin industri, 1 September 2003.

“Yang secara fisik membangun ATMI ini adalah Sandjaya, dan tidak dibangun dengan main-main. Coba lihat pagar kokoh yang mengelilingi kampus ini. Itu yang dibangun dan dihadiahkan oleh Sandjaya yang saya anggap juga sebagai pendiri kampus ini, bersama Romo Casutt,” kata Ketua Yayasan Karya ATMI Pastor Bambang Triatmoko SJ.

Kepergian Sandjaya, seorang yang baik dan tulus hati itu, tegas Pastor Triatmoko, “mengingatkan kita akan maksud dan tujuan hidup kita, yakni untuk mengenal, mencintai dan melayani Allah dan tugas itu diteruskan Sandjaya dalam keabadian, karena bagi kita hidup ini tidak diakhiri tetapi diubah. Hidup ini berlanjut dan tugas kita dalam keabadian adalah mencintai dan memuliakan Allah.”

“Beri pengampunan segala dosanya, kar’na mahamurah hati-Mu …” Lagu itu adalah lagu pembukaan Misa Mengenang Arwah Aloysius Aluinanto Sandjaya 6 April 2020 yang dipimpin Pastor Triatmoko. Aloysius Sandjaya, postulan Persaudaraan Dominikan Awam dan pendiri serta pemilik PT Gerbang Saranabaja meninggal dunia 4 April 2020.

Mengawali homili, imam itu mengatakan, “kalau mau merasakan betapa besar cinta Sandjaya kepada ATMI, datanglah ke tempat ini dan merasakan betapa kokohnya bangunan yang dibangun Sandjaya ini.” Kemudian imam itu memberi kesempatan bagi beberapa tokoh ATMI untuk memberi kesaksian tentang Sandjaya.

“Sandjaya adalah senior dan inspirator saya,” kata Mateus Bambang Maryono seraya menjelaskan bahwa “Keluarga besar ATMI telah ikut mendukung maksimal upaya penyembuhannya. Namun, Sang Khalik menetapkan perjuangan Sandjaya sudah cukup dan harus pulang.”

Maryono menjelaskan, dia semakin mengenal Sandjaya saat jadi pengurus IKAMI (Ikatan Keluarga Alumni Kolose Mikael) periode pertama 2003. “Beliau salah satu dari founding fathers PT ALMIK untuk pengikat awal alumni. Sandjaya mempunyai slogan sangat terkenal, ‘Ilang-Ilangan 25 juta rupiah sebagai kontribusi awal untuk modal dasar.’ Peran dan sumbangsih untuk kejayaan almamater dan alumni dari Sanjaya ini sungguh luar biasa dalam bentuk pikiran, waktu, tenaga dan bahkan uang yang tidak terhitung,” jelasnya.

Kasihnya bagi teman-teman seangkatan dan semua orang yang beliau jumpai menderita, termasuk komunitas-komunitas di sekitarnya, sungguh besar, lanjut Maryono. “Dia sering melambungkan rasa haru, pujian dan kebanggaan. Eco Camp di Bandung yang bukan habitatnya pun sempat menerima dukungannya yang sungguh besar,” jelasnya.

Menurut Martin Teiseran, “Sanjaya adalah plegmatis sejati. Musuh pun tak dapat menemukan kesalahannya untuk mau dikatakan. Kalau mendengar permintaan pasti diusahakan. Dia seorang plegmatis damai, seorang yang selalu memberi, memberi dan memberi.”

Perjalanan 12 tahun memberikan kenangan sangat mendalam tentang Sandjaya, lanjutnya.  “Sandjaya memanggil saya, Brother. Dan, saya juga memanggilnya Brother.” Dan, “saat Romo Casutt meninggal, ketika kami sedang melayat di Girisonta, tercetus pikirannya, ‘Pak Martin kalau saya mati lebih dulu, tolong nyanyikan lagu Requiem.” Dan Martin jawab, “Kalau saya mati lebih dulu, Sanjaya harus mempersiapkan.”

Bagi, Bambang Suwito, Sandjaya adalah kakak yang sangat baik dan aktif, “selalu membimbing dan memberi solusi serta terobosan baru dalam dunia usaha.” Suwito menambahkan, Sandjaya selalu “bekerja tanpa pamrih dan selalu berkorban untuk kepentingan alumni Mikael (Kampus Kolese Mikael berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah. Institusi yang dikelola oleh para imam Jesuit ini terbagi dalam dua lembaga pendidikan yaitu: Akademi Teknik Mesin Industri dan Sekolah Menengah Kejuruan Mikael).

“Sampai sekarang banyak alumni Mikael dibantu dalam dunia usaha. Sandjaya punya keinginan agar para alumni bekerja keras dan menjadi pengusaha yang handal. Ini belum terlaksana semuanya, tapi Tuhan mempunyai kehendak lain. Sekarang Sandjaya sudah berada di rumah Bapa. Saya bersama seluruh staf PT Almik dan seluruh alumni Mikael akan lanjutkan cita-cita Sandjaya untuk para almuni Mikael,” kata Suwito.

“Sandjaya itu super kreatif dalam memanfaatkan teknologi terkini dalam mencapai produktivitas dan efisiensi setinggi-tingginya.” Itu kesan dari Albertus Widiyanto. Menurut Widiyanto, Sandjaya adalah risk taker yang belum pernah saya jumpai. Bagi Sandjaya, lanjutnya, “kerugian adalah biaya sekolah yang perlu dikeluarkan dalam memenangkan persaingan yang semakin ketat.”

Siapa pun yang minta bantuannya, lanjut Suwito, selalu dikabulkan meskipun kadang kala tidak 100 persen dan “hampir semua yang diputuskan dipertimbangkan aspek dan dampak sosialnya.” Suwito juga mengagumi keberanian dan semangat Sandjaya dalam mengambil pekerjaan rumit dan hasil sangat memuaskan, “sehingga mendapat penghargaan dari PT Pertamina yang terkenal sangat ketat. Bulan Februari ini, PT Gerbang Saranabaja dipercayakan mengerjakan proyek di Pertamina dengan nilai tertinggi yang pernah dicapai sejak perusahaan ini berdiri.”

Perjumpaan Direktur ATMI Cikarang Richardus Henri Paul dengan Sandjaya dimulai tahun 2003 saat dia diutus oleh Pastor Casutt untuk menemani Sandjaya membangun ATMI Cikarang. “Saat itu Sandjaya sebagai pembina proyek pembangunan. Peran Sandjaya sangatlah besar. Saya masih ingat bagaimana kami harus pertemuan setiap Kamis untuk memonitor jalannya proyek. Di situ saya melihat Sandjaya sebagai seorang leader yang mampu menggerakkan semua stakeholders dan anggota tim  untuk mencapai target yang ditetapkan.”

Sampai-sampai, lanjutnya, Jababeka (pengembang kawasan industri pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia) di Cikarang menjadikan gedung ATMI sebagai benchmark atau standar bangunan pabrik Jababeka. Jababeka sadar, biaya membangun gedung berkualitas seperti ATMI pasti sangat mahal. Namun, “berkat kebaikan Sandjaya, gedung ATMI bisa berdiri dengan biaya relatif murah. Lagi-lagi sumbangsih Sandjaya. ATMI hanya membayar material, tapi seluruh tenaga kerja dan peralatan datang dari Sandjaya.”

Setelah pembangunan selesai, Henri bersaksi, peran Sandjaya tetap berlanjut. “Dia jadi salah satu anggota Yayasan Karya ATMI Cikarang. Berkat ketulusan dan kebaikan hati Sandjaya, PT ATMI Cikarang berdiri tahun 2015,” lanjutnya seraya berjanji akan selalu meneladani kebaikan hati Sandjaya dengan menjalankan apa yang sudah Sandjaya mulai dalam hidup dan tugas mereka sehari-hari.(PEN@ Katolik/paul c pati/aop)

Artikel terkait:

Banyak Misa dan intensi temani Aloysius Sandjaya kebaikannya melekat bagi kita semua

Almarhum Aloysius Aluinanto Sandjaya benar-benar ‘man for others’, Dominikan sejati

Misa dipimpin Ketua Yayasan Karya ATMI Pastor Bambang Triatmoko SJ
Misa dipimpin Ketua Yayasan Karya ATMI Pastor Bambang Triatmoko SJ

Sandjaja Misa ATMI

Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Cikarang (dok ATMI Cikarang)
Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Cikarang (dok ATMI Cikarang)

Tinggalkan Pesan