Santo Paus Yohanes Paulus II

Hari ini, 18 Mei 2020, adalah peringatan 100 tahun kelahiran Karol Wojtyła, yang kemudian menjadi Paus Santo Yohanes Paulus II. Paus Fransiskus, pada pagi hari, merayakan Misa di altar di atas makam orang kudus itu di Basilika Santo Petrus.

Santo Yohanes Paulus II terpilih sebagai Paus dalam konklaf kepausan kedua tahun 1978 yang dilaksanakan setelah kematian Paus Yohanes Paulus I, yang masa kepausannya singkat. Kepausan Santo Yohanes Paulus II berlangsung dari tahun 1978 hingga 2005.

Dalam sebuah wawancara dengan Vatican News, Kardinal Stanisław Dziwisz, sekretaris pribadi Santo Paus Yohanes Paulus II, dan Uskup Agung Emeritus dari Krakow, Polandia, berbicara tentang pengalamannya hidup dan bekerja dengan orang kudus itu.

Kardinal Dziwisz ingat, ia tinggal bersama orang kudus itu setelah ia diangkat menjadi Kardinal oleh Paulus VI tahun 1967, dan berlanjut setelah Wojtyla menjadi Paus. “Rahasia orangnya adalah kedalaman kehidupan rohaninya,” kata Kardinal Dziwisz. “Dia selalu berdoa, dia belajar nilai doa saat kecil dan aspek ini semakin mendalam setelah itu.”

Menurut Kardinal Dziwisz, “Kita tidak boleh melupakan kepribadiannya yang luar biasa.” Menurut catatannya, Santo Yohanes Paulus II memperlakukan semua orang dengan penuh hormat dan kasih meskipun mereka miskin, lemah atau sakit.

Contohnya, seorang anak penderita AIDS yang dijumpai orang kudus itu dalam kunjungan ke San Francisco, Amerika Serikat. Orang kudus itu, ingat kardinal, “mengambil tangan anak itu, menciumnya, memberkatinya lalu mengembalikan anak itu kepada keluarganya.” Sikap itu, kata kardinal, “sungguh lebih penting daripada khotbah, terutama waktu itu.”

Kardinal asal Polandia itu juga menunjukkan bahwa Santo Yohanes Paulus II menciptakan suasana keluarga dengan orang-orang yang tinggal bersama di apartemen kepausan. Kesederhanaan dan kebaikan santo yang hebat itu, lanjut Kardinal Dziwisz, menggerakkan setiap orang untuk lebih berdedikasi pada pekerjaan mereka. “Dia meninggalkan warisan besar bahwa yang penting bukan hanya untuk kemarin dan hari ini, tetapi untuk masa depan.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan