Paus Fransiskus dalam Regina Caeli  (Vatican Media)
Paus Fransiskus dalam Regina Caeli (Vatican Media)

“Semoga Perawan Maria, model Gereja, yang tahu bagaimana mendengarkan Firman Allah dan menyambut karunia Roh Kudus, membantu kita menjalankan Injil dengan sukacita karena tahu bahwa kita didukung oleh Roh Kudus, api ilahi yang menghangatkan hati kita dan menerangi langkah-langkah kita.

Doa itu dipanjatkan Paus Fransiskus dalam sambutan doa Regina Caeli hari Minggu, 17 Mei 2020, yang disiarkan langsung dari Perpustakaan Apostolik Vatikan, karena Paus yakin, suatu saat dalam hidup, “kita semua dihadapkan pada pengalaman kesalahan dan dosa, dan Roh Kudus yang membantu kita untuk tidak menyerah, dan memungkinkan kita memahami dan menjalani sepenuhnya makna kata-kata Yesus, ‘Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku’.”

Perintah-perintah itu, lanjut Paus, tidak diberikan kepada kita sebagai semacam cermin untuk melihat pantulan kesengsaraan dan ketidakkonsistenan kita. “Tidak, Sabda Allah diberikan kepada kita sebagai Sabda kehidupan, yang mengubah, yang memperbaharui, yang tidak menghakimi untuk menghukum, tetapi menyembuhkan dan ujungnya adalah pengampunan. Sabda yang ringan untuk langkah kita.”

Melalui karunia ini, tegas Paus, Tuhan membantu kita menjadi orang bebas, “orang yang ingin dan tahu bagaimana mengasihi, yang memahami bahwa hidup adalah misi untuk mewartakan keajaiban yang Tuhan kerjakan dalam diri orang yang percaya kepada-Nya.”

Paus juga menegaskan, Yesus minta kita untuk mengasihi-Nya, dan “menuntut kesediaan untuk mengikuti jalan-Nya, yaitu kehendak Bapa.” Itu, lanjut Paus, dirangkum dalam perintah saling mencintai, yang diberikan Yesus sendiri: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Dalam injil hari ini (Yoh 14: 15-21), Yesus menghubungkan mengasihi diri-Nya dengan kepatuhan terhadap perintah-perintah-Nya, sesuatu yang telah dia tegaskan dalam khotbah perpisahan-Nya dalam Perjamuan Terakhir ketika Dia berkata: “Jika kamu mencintai-Ku, kamu akan menaati perintah-perintah-Ku.” Dan lebih jauh lagi, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”

Paus menggarisbawahi bahwa  Yesus tidak mengatakan “Kasihilah Aku seperti Aku telah mengasihi kamu,” tetapi “supaya kamu saling mengasihi, seperti Alku telah mengasihi kamu.” Dengan demikian, tegas Paus, “Dia mengasihi kita tanpa minta kita membalasnya dengan melakukan hal yang sama, dan Dia ingin agar cinta-Nya yang gratis itu nyata dalam kehidupan di antara kita. Itulah kehendak-Nya,” kata Paus.

Paus kemudian menjelaskan, untuk membantu para murid menempuh jalan ini, Yesus berjanji akan berdoa kepada Bapa untuk mengirim “Parakletos yang lain” yaitu, penghibur, pembela, untuk menemani dan memberi mereka “kecerdasan untuk mendengarkan dan keberanian untuk mematuhi Firman-Nya.”

“Inilah Roh Kudus,” kata Paus, karunia cinta Allah yang turun ke hati umat Kristen. Maka, Paus, setelah Yesus mati dan bangkit kembali, kasih-Nya diberikan kepada mereka yang percaya akan Dia dan dibaptis “dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.”

Rohlah, kata Paus, yang membimbing, menerangi, menguatkan kita sehingga boleh maju dalam kehidupan bahkan “melalui kesengsaraan dan kesulitan, suka dan duka, tetap di jalan Yesus.” Ini mungkin, lanjut Paus, kalau kita tetap patuh kepada Roh Kudus, sehingga, melalui kehadiran-Nya yang bekerja dalam kita, Dia dapat menghibur dan mengubah hati kita, membukanya bagi kebenaran dan cinta.(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan