Dua murid ke Emaus

“Hari Sabat sesudah Yesus dimakamkan, dua orang murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.” (Lukas 24: 13-35)

Sahabat terkasih, kisah perjalanan dua orang murid Yesus menuju Emaus juga merupakan kisah perjalanan iman kita yang kadang mengalami ‘up and down’ (naik dan turun).

Hingga saat ini kita belum dapat menemukan di mana letak Emaus. Satu-satunya petunjuk adalah jarak 7 mil dari Yerusalem. Tetapi, para ahli Kitab Suci meyakini jarak 7 mil menunjukkan jarak tak terbatas atau tak terhingga. Sehingga, dapat disimpulkan, Emaus bukanlah nama tempat atau kota, melainkan tempat ‘pelarian’, atau kondisi tempat seseorang mengadakan perjalanan tanpa tahu pasti arah tujuan.

Maka, bacaan Injil Minggu Paskah III 26 April 2020, ingin mengajak kita untuk sejenak merenungkan dua hal.

Pertama, perlunya berbagi beban, kesusahan dan masalah. Dua murid yang sedang menuju Emaus membicarakan kekecewaan dan kesedihan tentang yang baru terjadi. Walau mungkin partner bicara atau sharing kita tidak dapat memberikan solusi, setidaknya keterbukaan merupakan langkah awal untuk mengalami kesembuhan atau pemulihan. Kita hanya perlu kembali kepada Alkitab, sebab segalanya telah tertulis di sana. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menjelaskan tentang Kitab Suci kepada kedua murid itu, dan membuat hati mereka berkobar-kobar.

Kedua, tetap menjadi murid pengikut Kristus yang baik apapun situasi kita alami. Setelah Yesus ditangkap dan wafat di salib, bukan hanya dua murid itu (Kleopas dan istrinya) yang meninggalkan Yerusalem, tapi banyak murid Yesus tercerai berai dan melarikan diri karena takut dan kecewa.

Tetapi, hanya mereka berdua yang mengalami penampakan Tuhan, karena mereka tetap memperlakukan Yesus yang menampakkan diri sebagai ‘orang asing’ dengan baik, bahkan mengundang-Nya tinggal bersama mereka, karena hari sudah hampir malam. Lain halnya jika mereka langsung mengenali Yesus sedari awal. Sebab, ‘sebagai murid Kristus, bukankah kita harus memperlakukan semua orang dengan baik?’

Apabila kita mau melakukan kedua hal itu, mujizat pasti akan terjadi dalam kehidupan kita, sebagaimana dikatakan, “Waktu duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia.”

Semoga, semua ini menginspirasi kita bahwa di setiap jalan kehidupan yang kita lalui Tuhan Yesus selalu menyertai dan senantiasa memberikan kita kekuatan dan semangat baru melalui hal-hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.

Kini, semua kembali kepada diri kita masing-masing, “maukah kita percaya dan berusaha merasakan kehadiran-Nya yang ‘ajaib’ dengan tetap menjadi seorang Kristiani sejati?”

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan