Para suster OP di jakarta membagikan makanan untuk driver ojek online atau Ojol (Dok Suster OP Pejaten)
Para suster OP di jakarta membagikan makanan untuk driver ojek online atau Ojol (Dok Suster OP Pejaten)

Berbagai pembatasan yang diberlakukan pemerintah demi menahan penularan virus corona ternyata memberikan lebih banyak waktu bagi para suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP) untuk berdoa dan berbagi serta membersihkan lingkungan dan biara.

“Yang pasti, waktu doa kami menjadi lebih banyak dan intens dengan intensi-intensi khusus untuk masa pandemi ini. Keadaan ini juga memberi waktu, tenaga, cinta untuk kebersihan lingkungan tempat kami tinggal atau lingkungan biara,” kata Superior Jenderal Kongregasi  Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Maria Elisabeth OP kepada PEN@ Katolik 25 April 2020.

Komunitas Pejaten, di mana Suster Elisabeth tinggal, misalnya, terlihat para suster “dalam kebersamaan dan sukacita” berkebun aneka sayur dan memelihara ikan nila dan lele. “Yang pasti dalam hidup normal yang lalu akan sulit menemukan waktu untuk merawat lingkungan,” jelas suster.

Memang, ketika sayur mulai tumbuh para suster harus “berjibaku dengan kreatif” untuk memerangi tikus, bekicot, dan ulat “yang rupanya membutuhkan makanan bernutrisi juga.” Meski demikian, suster mengaku, mereka “tetap semangat dan happy.” Mereka juga ternyata mendapat waktu berkreasi di dapur “untuk menghasilkan masakan yang membuat para suster komunitas tertawa.”

Gerakan sosial sedikit berbeda, kata Suster Elisabeth. “Tergantung keberadaan komunitas masing-masing. Ada komunitas yang memasak dan ada yang membagikan makanan ke orang-orang di jalan dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ada yang berbagi sembako kepada ojol, pemulung, tukang becak, pengamen, tukang parkir, tukang tambal ban, tukang sol, mahasiswa kurang mampu. Ada juga berbagi masker, vitamin, makanan sehat untuk anak,” jelas suster.

Suster Elisabeth mengakui, aneka berkat yang mereka bagikan kepada sesama yang membutuhkan “karena Allah yang sama telah menggerakkan hati para donatur dan pemerhati sehingga kami dapat menjadi alat-Nya untuk berbagi kasih.”

Suster berterima kasih untuk Dominikan Awam yang berusaha mencukupi kebutuhan APD di Rumah Sakit Elisabeth maupun klinik kami juga kebutuhan vitamin dan masker untuk masyarakat yang membutuhkan di sekitar komunitas Larantuka, NTT.

“Mereka dengan sigap langsung mengirim ke sana. Nyata bahwa bukan alam semesta saja yang merestorasi diri. Hidup sosial dan bela rasa terhadap yang tidak dikenal pun semakin tumbuh subur di mana-mana,” kata Suster Elisabeth dengan membayangkan, “betapa dunia dengan segala isinya akan berwajah baru sesudah wabah virus ini.” Meski kehilangan banyak akibat virus ini, suster ini percaya, dari situasi ini manusia belajar dan menghidupi nilai-nilai luhur lebih banyak dan menyeluruh.

Di sisi lain, Suster Elisabeth mengingatkan bahwa mereka juga memiliki sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit dan klinik “dan kami juga harus bertanggung jawab dengan banyak keluarga yang hidupnya tergantung pada kami, yakni para guru, karyawan, para murid dan orang tua murid, dokter, dan perawat.” Puji Tuhan, syukur suster itu. “Para suster di unit-unit karya juga berpikir dan berjuang keras untuk berbela rasa sehingga kebutuhan mereka semua tersapa dan tercukupi di masa sulit dan berat saat ini.”

Selain doa, hidup komuntas, dan pewartaan, lanjut suster, para suster secara komunal menjalankan pilar lainnya yakni studi. “Saat pandemi virus corona ini adalah saat kami mampu lebih menghidupi semua pilar itu dalam spiritualitas Dominikan,” tegas suster.

Beberapa hari terakhir, sejumlah anggota Dominikan juga meninggal dan sakit akibat Covid-19. Namun, saat mempersiapkan diri merayakan hari raya Santa Katarina dari Siena, 29 April 2020, para suster Dominikan pun belajar, ketika wabah menyerang Siena, banyak orang melarikan diri, “tetapi Katarina dan teman-temannya tetap tinggal, merawat yang sakit dan menguburkan yang mati.” Dialah sumber inspirasi besar bagi mereka yang mengenalnya, dan dia terus menginspirasi kita hari ini, tegas Suster Elisabeth.

Suster Elisabeth merefleksikan apa yang terjadi saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini dengan mengatakan, “kita semua dapat langsung merasa bahwa melalui peristiwa ini alam sedang beristirahat dan meregenerasi dirinya sendiri. Demikian juga kami sebagai religius, kami diposisikan pada ‘back to nature’ dengan hidup dan minum pada Sang Kebenaran Sejati yakni Kristus.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Semua foto di bawah ini adalah dokumentasi para Suster OP Pejaten, Jakarta

Pejaten 1Pejaten 8Pejaten 3Pejaten 9Pejaten 5Pejaten 7

Tinggalkan Pesan