Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC didampingi Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Pr di posko bantuan PSE/Caritas Keuskuan Manado di Lotta (foto diambil dari FB Komsos Keuskupan Manado)
Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC didampingi Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Pr di posko bantuan PSE/Caritas Keuskuan Manado di Lotta (foto diambil dari FB Komsos Keuskupan Manado)

Gereja Katolik Keuskupan Manado mengambil sikap satu hati dan satu gerakan dengan semua pihak lain yang peduli untuk menyelamatkan hidup manusia dari wabah Covid-19. Sikap ini secara nyata ditunjukkan dengan keluarnya surat Uskup Keuskupan Manado tertanggal 21 Maret 2020 tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19, yang disusul dengan keluarnya Kebijakan (Pedoman) Pastorał Keuskupan Manado, 1 April 2020.

Pernyataan itu ditulis oleh Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dalam surat gembala berjudul “Beriman di Masa Pandemi” tertanggal 22 April 2020, yang diterbitkan sebagai surat yang ketiga menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Dalam surat gembala itu, Mgr Rolly meminta para pastor, biarawan-biarawati, dan umat awam seluruhnya agar “mengikuti semua protokol yang dikeluarkan Pemerintah Pusat dan Daerah, dan semua Pedoman Pastorał yang dikeluarkan Uskup Keuskupan Manado, dan pastoral di wilayah kerja masing-masing sejauh tidak bertentangan dengan Protokol Pemerintah dan Pedoman Pastorał Keuskupan Manado.”

Semua protokol dan pedoman pastorał, lanjut uskup, hendaknya dilaksanakan dengan keutamaan sosial “saling menghormati” dan kerendahan hati mengakui ketidaktahuan kita siapa yang menjadi carrier Covid-19 sambil membangun kehendak baik tidak mau tertular dan tidak mau menularkan.”

Keutamaan sosial “saling menghormati,” tegas Mgr Rolly secara khusus perlu dinyatakan terhadap “saudara-saudari kita yang secara mendadak hadir dalam kehidupan kita baik sebagai pasien terkonfirmasi terinfeksi Covid-19, atau pun masih status PDP, bahkan ODP.”

Kepada mereka, usul Mgr Rolly, agar ditunjukkan sikap hormat yang dibangun dalam hati belas kasih Yesus yakni “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28), dan dalam hati keibuan Maria yang mendampingi Puteranya di jalan salib sampai Yesus menghembuskan nafas terakhir.

Karena itu, lanjut Mgr Rolly, kabar tentang kematian saudara-saudari kita dengan status di atas, harus diterima dengan penuh hormat dan kita bawa dalam doa dan iman. “Begitulah juga sikap hormat yang sama kita tunjukkan pada saudara-saudari kita yang pulang ke rumah sesudah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Kita tidak punya hak sedikitpun juga untuk mengeluarkan mereka dari persekutuan kita,” tegas uskup.

Kerendahan hati mengakui ketidaktahuan siapa yang jadi carrier Covid-19, “kita nyatakan dalam kebijakan untuk tidak membagikan Tubuh Kristus dari rumah ke rumah atau dengan cara apa pun juga,” kata Mgr Rolly seraya meminta para imam tetap menjaga kerendahan hati ini sambil menjaga kesatuan dalam menjalankan kebijakan keuskupan. “Umat sekalian perlu bersabar menantikan saat yang baik dan tepat untuk menerima Tubuh Kristus,” tulis Uskup Manado itu.

Dalam situasi sulit seperti ini, Mgr Rolly mengajak umatnya berpegang pada pertahanan Yesus dalam melawan godaan dengan mengutip Matius 4:4, “Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Mgr Rolly mengajak para imam tetap rayakan Ekaristi di gereja sedangkan umat beribadat di rumah masing-masing, dan komunitas hidup bakti di komunitas masing-masing dengan dua pilihan, “ibadat sabda sambil memaknai persekutuan ecclesia domestica (gereja rumah tangga),” atau “mengikuti perayaan yang disiarkan media keuskupan atau paroki dalam bentuk live streaming.” Jadi, jelas uskup, dianjurkan kepada keluarga yang tidak mungkin mengikuti live streaming untuk mengadakan ibadat sabda.

Untuk membantu ibadat sabda keluarga di hari Minggu dan hari raya, Mgr Rolly minta agar Komisi Kateketik Keuskupan Manado menyebarkan panduan secepat mungkin, dan pastor paroki “secepatnya mengedarkannya kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.”

Di bulan Mei, Mgr Rolly mengajak umat merasakan panggilan untuk menyatu dan berdamai dengan lingkungan hidup dengan mendoakan Doa Rosario Laudato Si. Maka, uskup minta semua pastor paroki mengkomunikasikan doa itu pada keluarga-keluarga di wilayah karya pastoralnya. Kolekte Rosario, lanjut uskup, bisa dijalankan saat Doa Rosario di rumah, dan “diharapkan para pastor mengatur waktu dan cara pengumpulan kolekte itu sebijaksana mungkin.”

Kebijakan tinggal di rumah juga jadi perhatian uskup. “Mari menanggapi positif dan kreatif kebijakan tinggal di rumah. Saatnya menata rumah dan lingkungan menjadi layak tinggal dan layak huni. Ada cukup banyak waktu untuk membersihkan rumah, perabot, bahkan halaman. Kita mengupayakan pola hidup sehat sambil menjaga kebersihan tubuh, makanan dan minuman, rumah, dan lingkungan kita,” tulis uskup.

Mgr Rolly juga menulis bahwa inilah saatnya membangun keluarga yang berdoa, karena “tersedia cukup banyak waktu bagi keluarga untuk berdoa bersama dan ada banyak bentuk doa yang dapat dipilih, ada banyak intensi yang dapat diungkapkan dalam doa bersama.”

Inilah juga saatnya meningkatkan kualitas kebersamaan dalam keluarga, kata Mgr Rolly sambil mengajak keluarga memperbanyak perjumpaan dan perbincangan. “Ada banyak hal serius bisa didiskusikan, ada banyak canda tawa yang bisa dibagikan,” tulis uskup.

Di akhir suratnya Mgr Rolly menulis, inilah saatnya memantapkan ekonomi rumah tangga dengan mengolah lahan sekitar rumah dan kebun. “Kita perlu mengupayakan ketahanan ekonomi keluarga dan paroki, sambil memberdayakan lahan sekecil apapun dengan tanaman untuk menjamin ketersediaan pangan.”(PEN@ Katolik/michael)

Tinggalkan Pesan