Paus Fransiskus berbicara pada audiensi umum di perpustakaan apostolik 22 April 2020. (Vatican Media)
Paus Fransiskus berbicara pada audiensi umum di perpustakaan apostolik 22 April 2020. (Vatican Media)

Hari ini kita rayakan Hari Bumi ke-50. Inilah kesempatan memperbarui komitmen kita untuk mencintai dan merawat rumah kita bersama dan anggota keluarga manusia yang lebih lemah. Seperti yang diajarkan oleh pandemi virus corona yang tragis, kita hanya bisa mengatasi tantangan global dengan menunjukkan solidaritas satu sama lain dan merangkul yang paling rentan di tengah-tengah kita.

Paus Fransiskus berbicara dalam katekese khusus Hari Bumi ke-50 yang juga HUT kelima Surat Ensikliknya, Laudato Si’, tentang perawatan rumah bersama (Kejadian 2:8-9,15), 22 April 2020. Audiensi Umum dari Perpustakaan Istana Apostolik Vatikan, yang disiarkan secara langsung itu, ditutup dengan doa Bapa Kami dan Berkat Apostolik dari Paus.

Hari ini, paus minta sesuai katekese yang diterbitkan oleh Kantor Pers Tahta Suci, “mari kita bersama merenungkan sedikit tentang tanggung jawab yang jadi ciri “persinggahan kita di bumi” (Laudato Si’, 160), minta Paus seraya menegaskan, kita harus tumbuh dalam kesadaran akan perawatan untuk rumah kita bersama.

Menurut Paus, kita diciptakan dari bumi, dan buah dari bumi menopang hidup kita. Tetapi, lanjut paus, seperti yang diingatkan oleh Kitab Kejadian, “kita bukan hanya ‘duniawi’, dalam diri kita ada juga nafas kehidupan yang datang dari Allah (lih. Kej 2: 4-7).” Dengan demikian, tegas Paus, kita hidup di rumah bersama ini sebagai satu keluarga manusia dalam keanekaragaman hayati dengan makhluk-makhluk Tuhan lainnya.

Sebagai imago Dei, rupah Allah, lanjut Paus, kita dipanggil untuk peduli dan menghormati semua makhluk, dan untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada saudara-saudari kita, terutama yang paling rentan di antara kita

Karena keegoisan, tegas Paus, kita gagal dalam menjalankan tanggung jawab kita sebagai penjaga dan pengurus bumi. “Kita hanya perlu melihat fakta untuk tahu bahwa rumah kita bersama mengalami kerusakan parah” (ibid., 61). Kita telah mencemari dan merusaknya, dan membahayakan hidup kita.

Maka, tegas Paus, berbagai gerakan internasional dan lokal bermunculan untuk berseru ke hati nurani kita. “Saya sangat menghargai prakarsa-prakarsa ini. Anak-anak kita masih perlu turun ke jalan guna mengajari kita hal yang jelas: kita tak punya masa depan kalau kita hancurkan lingkungan yang menopang kita,” kata Paus.

“Kita telah gagal merawat bumi, rumah taman kita. Kita telah gagal merawat saudara-saudari kita. Kita telah berdosa terhadap bumi, terhadap sesama, dan akhirnya terhadap Sang Pencipta, Bapa yang baik hati yang memberi bagi semua orang, dan menginginkan kita hidup dalam persekutuan dan berkembang bersama,” kata Paus.

Dan bagaimana reaksi bumi? Pertanyaan Paus dijawab sendiri dengan mengutip pepatah Spanyol, “Allah selalu mengampuni. Kita manusia kadang-kadang memaafkan. Bumi tidak pernah mengampuni.” Bumi tidak pernah memaafkan, kata Paus. “Jika kita merusak bumi, responsnya akan sangat buruk.”

Paus mengakhiri katekese dengan mengajak umat membangkitkan rasa estetika dan kontemplatif yang diberikan Tuhan” (Nasihat Apostolik Pasca-Sinode Querida Amazonia, 56). Kita bisa mempelajari karunia kontemplasi profetis terutama dari masyarakat adat. Mereka mengajarkan bahwa kita tak bisa menyembuhkan bumi kecuali kita mencintai dan menghormatinya. Mereka memiliki kebijaksanaan “hidup baik”, tidak dalam arti bersenang-senang, tidak, tetapi hidup dalam kerukunan dengan bumi. Mereka menyebut kerukunan ini “kehidupan yang baik.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan