Master
Selamat Paskah untuk kalian semua, Alleluia (Dari kiri ke kanan Pastor Gerard Francisco Parco Timoner III, Pastor Bruno Cadoré OP, Pastor Carlos Azpiroz OP, Pastor Timothy Radcliffe OP)

Yohanes mengatakan kepada kita dalam Injil: Pada petang hari pertama minggu itu, ketika murid-murid berkumpul, dengan pintu-pintu dikunci karena takut kepada para pemimpin Yahudi, Yesus datang dan berdiri di antara mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!”

Master 4

Pastor Gerard Francisco Timoner III
(Master Ordo, 2019 – )

Saudara dan saudari terkasih, Tuhan telah Bangkit, Alleluia! Tetapi sama seperti para murid yang berada dalam ruangan dengan pintu terkunci ketika Yesus muncul, kita tetap berada di biara atau rumah kita dengan pintu terkunci karena itulah tindakan kasih guna membantu mencegah penyebaran cepat virus corona baru yang telah merenggut nyawa ribuan orang, termasuk beberapa saudara kita sendiri. Bahkan ketika kita menyanyikan Alleluia, kita tidak bisa memadamkan rasa takut di hati kita, atau menemukan jawaban atas pertanyaan di benak kita: kapan kita bisa memecahkan roti Ekaristi lagi bersama umat kita? Kapan kita bisa mengunjungi dan memegang tangan orang-orang lanjut usia dan rentan? Bagaimana umat kita bisa bertahan hidup kalau banyak pekerjaan hilang dan banyak orang mungkin akan mati kelaparan kalau bukan karena sakit? Berapa lama wabah ini akan bertahan? Saudara-saudara di sini di Santa Sabina mengatakan bahwa saya harus menyalami kalian dan memberikan kata-kata harapan dalam Paskah luar biasa ini di masa pandemi. Saya tidak bisa melakukannya sendirian. Maka, saya mengajak saudara-saudara kita yang pernah bertugas sebagai Dominikus bagi Ordo, simbol persatuan kita dalam Ordo. Mari kita dengarkan Brother (Saudara) Timothy, Fray (Saudara) Carlos dan Frére (Saudara) Bruno …

Master 5

Pastor Timothy Radcliffe OP
(Master Ordo, 1992-2001)

Selamat Paskah! Hampir dua puluh tahun setelah menyelesaikan masa jabatan saya sebagai Master, saya masih di sini, lebih tua, lebih gemuk dengan rambut lebih sedikit, tetapi masih hidup! Dan saya sangat berterima kasih atas ajakan Master kita, Saudara Gerard, untuk mengucapkan beberapa patah kata. Selamat Paskah! Beberapa hari lalu, saya menyelesaikan satu bulan studi di Ecole Biblique di Yerusalem. Saya turun ke Makam Suci untuk doa terakhir di makam Yesus. Karena pandemi, tidak ada orang lain di sana. Tidak ada turis. Hari ini kita merayakan ketidakhadiran yang lain. Yakni, Yesus tidak ada lagi di sana. Batu telah digulingkan dan makamnya kosong. Yesus terlepas dari kurungan gelap ini. Segera kita akan merayakan Kenaikan-Nya kepada Bapa, yang ada di mana-mana.

Hari-hari ini, milyaran orang terkunci di rumahnya karena pandemi mengerikan ini. Rumah mereka terasa seperti penjara. Kami tunggu tanpa tahu berapa lama ini akan berlangsung. Banyak orang merasa terisolasi dan sendirian. Hari ini kita memberitakan kabar Gembira bahwa Kristus Yang Bangkit membebaskan kita dari semua yang memenjarakan dan membatasi kita. Inilah yang dilakukan Keluarga Dominikan di seluruh dunia dengan ribuan cara berbeda. Hanya tiga contoh dari ratusan. Saya pikirkan saudara-saudara kita dalam persaudaraan awam di Lembaga Pemasyarakatan Negara Bagian Norfolk, Massachusetts, AS. Mereka semua dipenjara, beberapa di antara mereka dijatuhi hukuman panjang. Tetapi di tempat gelap ini, mereka adalah pembawa harapan, dan pewarta Injil. Tidak ada penjara yang bisa membatasi pesan mereka. Saya pikirkan saudara-saudari kita di Irak. Seringkali mereka kelelahan, hidup setiap hari dengan bahaya kekerasan dan penganiayaan. Tetapi mereka terus mengajar dan berkhotbah. Mereka menolak dipenjara karena takut.

Di seluruh dunia, kita dipanggil untuk membebaskan orang dari penjara. Untuk melakukan itu, kita masing-masing harus bertanya apa yang memenjarakan saya? Saya kira, selalu adalah rasa takut untuk mencintai sepenuhnya. Cinta itu berbahaya. Herbert McCabe OP pernah berkata, ‘Jika kamu suka, kamu akan terluka, mungkin terbunuh. Jika Anda tidak mencintai, Anda sudah mati.’ Kristus Yang Bangkit terluka. Kita tidak perlu takut terluka. Ambillah risiko mencintai lebih. Jangan kita tidak ditindas oleh rasa takut akan kematian. Salah satu teman terbaik saya di Ordo, David Sanders, baru-baru ini meninggal karena covid-19. Ketika dia tahu bahwa dia sedang sekarat, dia meminta kepada saya sebuah buku bagus tentang kematian! Dia tidak takut melihatnya. Dia berkata, ‘Kalau saya sudah mewartakan tentang kebangkitan selama bertahun-tahun, lebih baik saya menunjukkan bahwa saya percaya akan hal itu.’ Akhirnya, pada hari Paskah ini, marilah kita menjangkau saudara-saudari kita di komunitas kita yang tampaknya terisolasi. Jangan sampai ada yang merasa sendirian hari ini. Mari kita saling membuka pintu. Mari kita bernafas dengan bebas dari oksigen Allah, Roh Kudus yang akan segera dikirim. Seorang suster di Ecole Biblique menderita asma. Dia diberi oksigen. Dia berkata, ‘Inilah surga. Saya bisa bernafas.’ Mari kita dengan bebas menghirup oksigen Tuhan, Roh Kudus. Selamat Hari Paskah!

Master 3

Pastor Carlos Azpiroz OP
(Master Ordo 2002-2010)

Saya berterima kasih kepada saudara Gerard, Master kita, karena boleh menyatukan dan saling merangkul dari jauh, melampaui pengurungan atau isolasi melalui keindahan dan kedekatan iman, persekutuan dalam Kristus yang Bangkit. Dalam beberapa tahun terakhir … (mengingat hanya beberapa contoh) kami “terpengaruh” oleh berbagai epidemi (SARS, EBOLA, COVID-19) … Kami berdoa dengan Mazmur: Dalam lindungan Yang Mahatinggi, Engkau tak usah takut terhadap kedahsayatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang … [Mazmur 91 (90)]. Penderitaan dan kegelisahan dari masa-masa yang kita lalui ini hilang oleh kehangatan dan warna Paskah.

Di Malam Paskah, bahkan melalui media dan jaringan virtual, kita kembali menyaksikan tanda-tanda yang sangat mengesankan. Di antaranya saya garis bawahi hal-hal berikut: selebran “menandai” lilin Paskah, menggabungkan kata-kata ini dengan gerakan: + KRISTUS DAHULU DAN SEKARANG, AWAL DAN AKHIR (dengan menandai pada lilin garis vertikal dan horizontal dari salib), + ALPHA DAN OMEGA (menandai dua huruf alfabet Yunani di atas dan di bawah salib). + MILIK-NYALAH SEGALA MASA DAN SEGALA ABAD. KEPADANYALAH KEMULIAAN DAN KEKUASAAN, SEPANJANG SEGALA MASA. AMIN (menandai angka untuk tahun ini 2020). Akhirnya, begitu tulisan salib dan tanda-tanda lain yang disebutkan telah selesai, biji-biji dupa ditancapkan pada lilin dalam bentuk salib saat kita mendengarkan: + DEMI LUKA-LUKANYA YANG KUDUS DAN MULIA, SEMOGA KITA PUN DILINDUNGI DAN DIPELIHARA OLEH KRISTUS TUHAN: AMIN.

Imam menyalakan lilin Paskah dengan nyala api baru sambil berkata, “Semoga cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalau kegelapan hati dan budi.” Dengan lilin menyala ia akan mengatakan tiga kali: “Terang Kristus!” dan kita akan menjawab “Syukur kepada Allah.” Rasul Thomas mengaku “Ya Tuhanku dan Allahku” saat ia merenungkan luka-luka Tuhan. Itu bukanlah tanggapan terhadap mukjizat baru atau wacana agung oleh Yesus tentang arti rasa sakit, kematian atau kehidupan (lih. Yoh 20:28). Tuhan tidak datang untuk menjelaskan rasa sakit, kematian, kehidupan, tetapi untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya dari kelembutan dan belas kasihan Allah. Saudara Bruno selalu ingin mengingatkan kita tentang ini. Seperti Santo Dominikus, kami mewartakan belas kasihan Tuhan. Kami hidup dalam persekutuan dalam gairah yang sama. Pewartaan kami menunjukkan belaskasihan terhadap sesama.

Ini mencerahkan kita dari dua perspektif. Yang lebih aktif: Passion berarti kekuatan, dorongan, energi, kerinduan dinamisme! (Betapa banyak orang kudus berbicara dan mengalami kerinduan akan Allah sebagai motor kehidupan rohani). Saudara Timothy telah banyak mengatakan kepada kita tentang pentingnya kerinduan. Yesus mati didorong oleh kerinduan akan Bapa dan sesama. Perspektif lain mungkin lebih “pasif.” Passion dipahami sebagai sengsara, rasa sakit, air mata … karena tahu cara menanggung semua ini. Tuhan mati karena pria dan wanita mati. Dia mati karena kita pria dan wanita juga membunuh. Luka-luka dari Yang Bangkit adalah bukti dari sengsara Yesus. Kehidupan dan pewartaan Santo Dominikus diresapi oleh passion ganda untuk Tuhan ini, untuk sesama; dari passion untuk mengetahui bagaimana menderita. Pastor Damian Byrne biasa meringkasnya secara sederhana: menjual buku-bukunya karena cinta kepada orang miskin; mewartakan belas kasihan karena kasih kepada orang berdosa (menangis untuk mereka dan ingin tahu apa yang akan terjadi dengan orang berdosa?); memberikan dirinya kepada misi tanpa batas karena cinta akan orang-orang yang jauh dan tidak mengenal Allah, orang-orang kafir (tanpa aksen menghina) dan ingin mati jika perlu. Saudara Vincent De Couesnongle bertanya kepada Keluarga Dominikan, “Di mana orang-orang Cumans saya? Ketika berbicara tentang epidemi atau penyakit, ungkapan “mereka atau kita adalah pembawa virus ini atau itu” sering digunakan. Tetapi pada kenyataannya kita adalah pembawa Kabar Gembira: Yesus Hidup. Semoga Paskah ini mendapati kita para pembawa 3 tanda injili, yang mensintesiskan sukacita sejati, yang benar-benar tidak bisa kita tahan, kurung, batasi dan sebarkan tanpa batas: Cahaya yang tidak bisa kita letakkan di bawah meja karena Tuhan datang dan kita akan menemui-Nya! Musik yang setiap orang dengar dari kejauhan karena ada pesta! (juga kakak dari si anak yang hilang … yang tidak mau masuk ke pesta), dan Parfum Maria yang membanjiri seluruh rumah karena inilah aroma yang membuat orang mengenal para pewarta Injil. Saudara dan saudari terkasih dalam Santo Dominikus dan Santa Katarina, Selamat Paskah!

Master 6

Pastor Bruno Cadoré OP
(Master Ordo 2010-2019)

Selamat pagi untuk kalian semua, saudara dan saudari terkasih. Dengan sepenuh hati saya ikut bersama Saudara Gerard, Master Ordo kita, dan Saudara Timotius dan Saudara Carlos mengucapkan Selamat Paskah yang indah dan suci! Saat melakukannya, banyak wajah, banyak kenangan muncul di benak saya dan datang ke hati saya, terutama kalian yang lebih terdampak oleh pandemi yang hampir melumpuhkan seluruh dunia. Dan dalam cobaan ini, semoga kalian menikmati Paskah yang indah dan bergairah! Semoga Paskah semakin menguatkan iman di hati kita bahwa kehidupan Kristus Yang Bangkit lebih kuat dari semua kegelapan, ketakutan, dan kematian. Kita telah mengalami pendakian menuju Paskah di masa Prapaskah sangat aneh, ditandai ancaman pandemi, perkembangannya yang hampir tak terhindarkan dan kepiluan kerusakan di sekitar kita. Bagi banyak orang, itu berarti saat pengurungan, isolasi, jarak dari orang-orang yang kita cintai, agar bisa bersama mereka menikmati sukacita bertemu Yesus. Masa kegelisahan bagi saudara-saudari kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan semua orang di sekitar kita. Juga berarti masa sakit, penyakit dan berkabung; saat drama ekonomi akibat penutupan dan pengurungan, yang mendatangkan kesan tidak pasti dan berbahaya, dengan ketakutan akan merugikan lagi orang-orang yang hidupnya sudah sulit. Kami kuatir, saat kami pulih dari krisis, mereka akan sekali lagi menjadi orang pertama yang dilupakan, korban pertama. Memang, krisis pandemi ini lebih memperlihatkan ketidaksetaraan, perpecahan dan juga pilihan manajerial ekonomi dan politik yang sangat perlu dilawan agar kebaikan semua orang bisa benar-benar menjadi prioritas bersama kita.

Tentu saja, dunia akan keluar dari krisis ini. Tapi bagaimana caranya? Haruskah Paskah tidak menjadi kesempatan bagi umat Kristen untuk mengatakan bahwa jalan keluar dari krisis ini seharusnya tidak kembali ke cara hidup sebelumnya? Apakah kita tidak mengakui bahwa semua kehidupan baru muncul dari kenosis Kristus, yang kita lupakan terlalu cepat? Kita, diri kita sendiri, mampu melakukan transformasi ini, yang berawal dalam Kristus yang ikut merasakan kemanusiaan kita. Kita akan keluar dari pengurungan seperti para murid ketika keluar dari senakel. Sebelumnya mereka bingung oleh peristiwa Sengsara dan nyaris tidak berani mempercayai pengumuman para perempuan yang menemukan makam itu terbuka. Tetapi pria dan wanita ini tidak keluar seperti mereka masuk. Memang dorongan inilah yang ingin Dominikus tulis di hati Ordo sejak awalnya di sini di Prouilhe. Dari sinilah saya dengan senang hati menyalami kalian hari ini. Mereka keluar sebagai saksi-saksi perjamuan terakhir yang mereka rayakan bersama Master mereka. Mereka keluar sebagai saudara dan saudari untuk mengumumkan masa depan persaudaraan bagi umat manusia. Masa depan saat setiap orang peduli nasib satu sama lain. Pertama-tama bagi orang-orang yang dunia kembangkan kebiasaan bersalah untuk mengurung mereka “keluar dari dunia” kalau dikiranya itu baik. Masa depan ini tidak dapat direduksi menjadi perintah liberalisme ekonomi semata, atau perlindungan kehidupan biologis saja tanpa mempertimbangkan martabat global setiap orang. Tahun ini, Paskah adalah saat tepat untuk mengumumkan akhir dari kelalaian dan penolakan ini. Mereka keluar sebagai murid-murid yang diajarkan dalam Kitab Belaskasihan, dari kehidupan yang diberikan dan dibagikan dari salib, yang berubah dari alat penghinaan jadi mimbar yang pegangannya adalah Firman Kebenaran. Buku kehidupan ini mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat memberikan hidup tanpa melepaskan diri dari dirinya sendiri. Ini mengajarkan bahwa dunia tidak dapat memikirkan masa depan kehidupan dan kedamaian bagi semua orang tanpa secara radikal mengubah prioritas yang ingin diberikannya pada penyebaran kreativitas yang umat manusia gunakan untuk menghuni dan mengubah dunia guna menjadikannya dunia ramah bagi semua, dimulai dengan orang yang kini nyaris tidak punya tempat di dalamnya, nyaris tidak punya nama. Setelah kurungan, saatnya akan tiba untuk merubah, untuk benar-benar mengurus rumah bersama. Mereka keluar dari senakel sebagai murid misionaris, senang pergi keluar untuk bergabung dengan setiap bahasa dan setiap budaya, memperpanjang percakapan persahabatan yang diprakarsai oleh Firman Tuhan yang datang untuk menggenapi dengan kepenuhan perjanjian yang dibuat Allah pada awal semua permulaan. Ini menyiratkan percakapan yang tidak lagi bisa diperkecil menjadi permainan pengaruh dan kekuasaan antara bangsa-bangsa, yang tak lagi bisa mencampuradukkan kebenaran dan kebohongan dalam politik, yang tak bisa lagi disimpulkan dengan catatan keberhasilan yang menghancurkan orang paling terhina di dunia, yang tak bisa lagi menerima bahwa ketakutan di antara orang-orang merupakan satu-satunya matriks yang mungkin untuk membangun masa depan.

Mereka keluar sebagai murid-murid misionaris. Diperkuat oleh kehidupan Kristus yang Bangkit, mereka ingin mewartakan bahwa persekutuan di antara manusia tidak boleh menjadi buah konfrontasi kekuatan dan kekuasaan, persembunyian dari kerentanan dan ketidaktahuan, tetapi persekutuan itu justru merupakan buah dari penerimaan rendah hati yang tidak bisa semuanya dikuasai manusia. Para murid mengumumkan bahwa kebesaran manusia bukanlah dalam pembangunan sebuah dunia yang bisa dikuasai karena kebesaran manusia akan dibuat menurut ukuran dan citra manusia. Mereka umumkan, kebesaran manusia terletak pada keinginannya yang kuat untuk dengan rendah hati menghuni sebuah dunia yang dia terima dan bahwa dia memberikan secara bebas kepada mereka yang dekat dan jauh. Dunia ini terbuat dari persekutuan persaudaraan dan masa depan bersama. Itulah dunia tempat setiap orang bisa tumbuh bersama semua orang, dengan harapan bersama akan masa depan dengan semua orang dan untuk Allah. Mari merayakan Paskah untuk mengubah diri kita, di sekolah Dominikus, untuk menjadi saksi-saksi, pewarta dan promotor persekutuan ini. Selamat Paskah untuk kalian semua!

***

Thank you very much, brother Timothy! Muchas gracias fray Carlos! Merci beaucoup frére Bruno! Terima kasih atas pesan-pesan kalian bagi kita semua, anggota Keluarga Dominikan! Saya kira sumbangan kecil saya dalam ucapan selamat Paskah bersama yang luar biasa ini adalah mengatakan kepada kalian, saudara dan saudari, bahwa dengan menyetujui ikut bersama saya menyalami kalian di Paskah dalam masa pandemi ini, saudara-saudara ini telah menunjukkan kepada kita bahwa kalian tidak sendirian, bahwa kita tidak sendirian!

Master novis kita mengatakan kepada kita bertahun-tahun yang lalu: menjadi seorang Dominikan berarti masuk dalam satu Keluarga! Dan Keluarga ini ada di seluruh dunia. Saudara Timothy mengirim salam dari Oxford, Inggris, Fray Carlos dari Bahía Blanca, Argentina, frére Bruno dari Prouilhe, Prancis, dan saya di sini di kamar Santo Dominikus di Santa Sabina. Kita semua bersama-sama, menghadapi ancaman penyakit dan kematian, merawat mereka yang sakit, berduka atas meninggalnya beberapa anggota, menemukan cara-cara baru untuk berkhotbah dan berbagi renungan, mengajak orang ikut bersama kita secara online dalam doa dan liturgi, melakukan karya-karya belas kasihan yang konkret seperti berbagi makanan dan peralatan pelindung bagi mereka yang merawat orang sakit. Banyak umat Kristen merayakan Tri Hari Suci dalam ruangan-ruangan tertutup. Apakah hidup kita akan sama setelah pandemi? Lebih penting lagi, haruskah kehidupan kita sama setelah Paskah? Tuhan Yang Bangkit kita masuk melalui pintu-pintu terkunci, menyapa kita dengan damai sejahtera-Nya dan mengatakan kepada kita jangan takut. Ketika segalanya tampak tanpa harapan dan kita merasa tak berdaya, Tuhan kita yang Bangkit meyakinkan kita bahwa Dia akan bertemu kita di “Galilea”. Inilah tempat para rasul menemukan panggilan mereka. “Galilea” kita adalah kisah panggilan kita. Di situlah Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Sebagai pewarta, awam atau tertahbis, aktif atau kontemplatif, kita menjadi Dominikan karena kita berkata “ya” ketika mendengar pertanyaan yang sama dalam di hati kita. Dan Yesus mengatakan kepada kita: “beri makan domba-dombaku.” Ada begitu banyak kelaparan hari ini: kelaparan akan Roti Kehidupan, kelaparan akan Firman Tuhan, kelaparan akan makanan, kelaparan akan belas kasih dan solidaritas. Demi kasih Yesus, marilah terus memberi makan kawanan domba dari Tuhan yang Bangkit.(Diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/paul c pati dari op.org)

Rekaman ucapan selamat ini bisa didengar di

Master 7

Master 1

Tinggalkan Pesan