Iqbal Masih (tengah).  (Aneladgames)
Iqbal Masih (tengah). (Aneladgames)

Sudah 25 tahun Iqbal Masih, budak “mafia karpet” Pakistan, terbunuh. Dan selama 25 tahun gerakan kerasulan sekuler dalam Gereja Katolik di Madrid, Spanyol, dengan nama Movimiento Cultural Cristiano (Gerakan Budaya Kristen) melakukan kampanye melawan perbudakan anak di seluruh dunia atas nama Iqbal Masih.

Gerakan itu menegaskan bahwa Hari Internasional Melawan Perbudakan Anak 16 April tidak sama dengan Hari Menentang Pekerja Anak se-Dunia dari PBB yang dirayakan 12 Juni. Perbudakan anak, katanya, berbeda dengan pekerja anak.

Iqbal Masih lahir tahun 1983 di Muridke, kota komersial di luar Lahore, dalam keluarga Katolik yang miskin. Sebagai korban kerja paksa, ia dipekerjakan di usia 4 tahun oleh orang tuanya untuk melunasi hutang mereka sebesar 600 rupee (sekitar 122.500 rupiah) yang dipinjam dari seorang pemilik pabrik karpet.

Di pabrik itu, Iqbal dan sebagian besar anak lain harus bekerja berjam-jam dalam suasana sempit. Mereka diikat kuat dengan rantai ke mesin tenun permadani agar mereka tidak melarikan diri. Sadar bahwa utang keluarganya tidak akan lunas dalam waktu dekat, pada usia 10 tahun, bocah itu  melepaskan diri dan melarikan diri dari perbudakan itu.

Dia membongkar mafia karpet itu dan mendesak dunia untuk tidak membeli karpet yang dibuat oleh anak-anak budak. Meskipun kecil dan bungkuk sejak usia 6 tahun karena kekurangan gizi dan perbudakan dalam kondisi tidak manusiawi, Iqbal membantu lebih dari 3.000 anak Pakistan melarikan diri dari perbudakan terikat dan berbicara tentang pekerja anak di seluruh dunia.

Dia dibunuh tanggal 16 April 1995, diduga oleh mafia karpet, setelah menerima banyak ancaman karena mereka memiliki perusahaan tertutup yang menggunakan budak anak.

Menurut Gerakan Kebudayaan Kristen itu, ada 400 juta anak yang diperbudak antara usia 4 dan 14 tahun di seluruh dunia, 165 juta di bawah 5 tahun saat ini. Perang, pelacuran, eksploitasi tenaga kerja, kelaparan, perlakuan buruk … adalah biasa bagi jutaan anak di seluruh dunia.

Sementara eksploitasi anak dalam berbagai bentuk berlipat ganda di negara berkembang, praktik ini muncul kembali di negara-negara maju, kata gerakan itu.

Keaktifan Iqbal membuat dia menerima pengakuan internasional dan dia dianugerahi penghargaan di Stockholm dan Boston. Tahun 1994 ia menerima Reebok Youth in Action Award. Dia menginspirasi terbentuknya organisasi seperti “Free the Children,” di Kanada, dan Yayasan Anak-anak Iqbal Masih Shaheed, yang memiliki lebih dari 20 sekolah di Pakistan. “World’s Children’s Prize for the Rights of the Child” (Penghargaan Anak-Anak se-Dunia untuk Hak Anak) diberikan kepadanya setelah meninggal tahun 2000.

Sebuah alun-alun di Santiago de Compostela, Spanyol bagian barat laut, dinamai Iqbal Masih. Kantor Departemen Tenaga Kerja Tenaga Kerja Internasional Amerika Serikat memiliki penghargaan “Iqbal Masih Award for Elimination of Child Labor” (penghargaan Iqbal Masih untuk Penghapusan Pekerja Anak) yang diberikan setiap tahun.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan