Pastor Victorius Rudy Hartono Pr
Pastor Victorius Rudy Hartono Pr

Awal mula saya mendengar Covid-19, perasaan saya biasa-biasa saja. Namun menurut informasi, penyakit itu menyebar ke berbagai negara. Menurut pemberitaan televisi, penyakit ini semakin mengerikan dan mengancam siapa saja, khususnya yang memiliki sakit bawaan seperti gula dan jantung. Saya semakin menyadari, setiap orang akan meninggal. Kita semua tahu itu. Masalahnya, kita sendiri tidak tahu kapan kematian itu menjemput. Saya pun merefleksikan, hidup ini bukan untuk selamanya. Menghadapi kegelisahan itu saya melawannya dengan mendaraskan Doa Koronka.

Itulah pernyataan Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Victorius Rudy Hartono yang juga staf Seminari Santo Yohanes Paulus II Jakarta itu dalam Talk Show Rohani Triduum Pekan Suci hari kedua bertema “Memahami Misteri Kematian Yesus Kristus” di Pusat Pastoral Samadi Klender, Jakarta Timur, 7 April 2020, yang disiarkan secara langsung melalui hidup.tv.

Selama masa pandemi itu, Pastor Rudy mengajak umat Katolik KAJ untuk selalu mematuhi anjuran pemerintah dengan cara belajar, bekerja dan berdoa di rumah. “Untuk kegiatan berdoa di rumah, selain mengikuti Ekaristi Kudus secara live streaming, dalam kesempatan ini hendaknya keluarga-keluarga Katolik melawan Covid-19 dengan memperbanyak devosi Kerahiman Ilahi atau yang lebih dikenal dengan Doa Koronka yang dipelopori Santa Faustina,” kata imam itu.

Mengawali talk show dengan moderat Direktur Puspas Samadi Pastor Yustinus Ardianto itu, Pastor Rudy mengatakan kisah Perjamuan Terakhir sesungguhnya menandakan Kisah Sengsara Yesus dimulai. “Sebagai manusia Ia merasa takut  akan kematian tapi secara Ilahi, Yesus sesungguhnya menunjukkan ketaatan kepada Bapa di Surga,” kata imam itu.

Dalam talk show itu, pastor Rudy juga menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan penonton. Tentang penciuman salib, sesuai larangan pemerintah guna menghindari keramaian, Pastor Rudy menganjurkan untuk mencium salib yang ada dalam rosario. “Situasi membuat keadaan seperti ini, jadi tidak dilakukan pun tidak mengurangi rahmat,” kata imam itu.(PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Tinggalkan Pesan