Aloysius Sanjaya (PEN@ Katolik/pcp)
Aloysius Sanjaya (PEN@ Katolik/pcp)

Tanggal 9 Januari 2020, Pastor Mingdry Hanafi OP telah menerima Aloysius Aluinanto Sandjaya beserta isterinya Esther Widyawati dan beberapa orang lain menjadi postulan Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) Kelompok Thomas Aquinas Kelapa Gading, Jakarta.

Penerimaan itu berlangsung di kapel dalam rumah Aloysius Aluinanto Sandjaya yang seorang anaknya jadi imam Dominikan (OP) dan seorang lagi calon imam projo di Perancis. Di kapel itu berbagai kegiatan PDA dilakukan, termasuk 13 Februari 2020, saat seorang umat diterima sebagai postulan PDA dan saat Aloysius Sanjaya bersama para postulan PDA mengikuti pelajaran tentang Ibadat Harian yang dipimpin Pastor Andreas Kurniawan OP.

Namun, sebelum kelompok yang didirikan 26 Oktober 2019 dan dipimpin Yos E Susanto itu bergerak lebih jauh, Aloysius Aluinanto Sandjaya, yang merupakan pengurus kelompok itu meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tangerang, 4 April 2020, sekitar pukul 13.10.

Aloysius Sanjaya, yang merupakan Pengurus Yayasan Wacana Bhakti, yayasan pemilik sekolah Kolese Gonzaga, dan terlibat dalam Usahawan Katolik serta pembangunan Eco Camp, Bandung, itu meninggalkan isterinya Esther Widyawati dan dua anak, Pastor Edwin Bernard M Timothy OP, anggota Provinsi Dominikan Amerika, dan Frater Cornelius Leo Adrianus di Perancis.

Aloysius Sanjaya, seorang kontraktor konstruksi baja, yang merupakan umat dan prodiakon Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta, itu adalah alumnus Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Surakarta tahun 1974.

Sanjaya bersama Esther isterinya telah merelakan kedua anaknya, Edwin Bernard M Timothy dan Cornelius Leo Adrianus, yang sudah menyelesaikan studi sebagai master di bidang informasi bereferensi geografis untuk Edwin dan perdagangan internasional untuk Cornelius di Amerika Serikat, untuk tidak meneruskan usaha keluarganya atau bekerja sesuai pendidikan, tetapi menanggapi panggilan imam.

Tanggal 24 Mei 2013, Edwin, yang menjadi biarawan Dominikan (OP) Provinsi Amerika, ditahbiskan imam di Washington DC, AS, dan kakaknya Cornelius yang pernah menjadi frater Community of Saint John di Perancis, sebuah lembaga keagamaan yang didirikan Pastor Marie-Dominique Philippe OP tahun 1975, kini sedang mempersiapkan diri sebagai calon imam diosesan atau projo di Prancis.

Aloysius Sanjaya pernah mengatakan kepada PEN@ Katolik dalam sebuah wawancara bahwa ada pertanyaan yang harus dijawab, siapakah aku ini, saya dari mana, saya mau ke mana? Setiap orang, jelasnya, harus menjawab tiga pertanyaan itu. “Waktu dibaptis saya sudah menjadi anak Allah, milik Allah, ahli waris kerajaan. Saya bukan dari dunia ini. Saya mau pergi ke rumah Bapa, tujuannya jelas. Kalau fokus pada tujuan, pasti kita akan mencapainya, meski kita mampir sebentar di beberapa tempat,” katanya.

Untuk membaca kelengkapan wawancara yang belum pernah diterbitkan ini, berikut kami turunkan wawancara seputar apa yang dirasakan dan apa refleksi Aloysius Sanjaya mendengar keputusan kedua anaknya itu untuk menjawab panggilan Tuhan.

PEN@ Katolik: Dua anak Anda menjawab panggilan Tuhan, yang satu sudah menjadi imam. Bagaimana perasaan Anda bersama isteri Anda?

ALOYSIUS SANJAYA: Saya bersama isteri mengimani kemauan Allah untuk memakai kedua anak kami sebagai rahmat panggilan Allah. Oleh karena itu, kami senang dan bahagia. Memang Edwin lebih dulu merasa terpanggil setelah dia menyelesaikan master di bidang geography information.

Waktu itu, isteri saya yang menerima telepon saat dia mengutarakan keputusannya. Tentu, saat itu isteri saya belum mengerti, belum punya bayangan, dan tak ada pikiran bahwa anaknya mau menjalani hidup bakti. Tapi, sebagai orangtua kita tidak menolak. Kita merenung. Setelah direnungkan, kami menyadari bahwa ‘rencanaku, rencana isteri saya, berbeda dengan rencana Allah.’

Sebagai ayah yang menyekolahkan anaknya, saya pernah berencana secara dunia agar anak saya bisa meneruskan usaha orangtua atau menjalankan usaha yang memiliki hasil duniawi yang lebih daripada orangtua.

Kami belum tahu rencana Allah seperti apa. Tapi  kami yakin, rencana Allah pasti yang benar dan yang baik. Kami memang terus merenung dan bertanya kepada Allah, apa rencana Allah. Sedikit demi sedikit kami diberi petunjuk dan kami pun menerima ini sebagai rahmat. Sekarang kami sudah merasa bahagia dan senang karena saya sudah tahu rencana Allah itu luar biasa.

Sebagai orang tua, bagaimana Anda melihat panggilan hidup bakti itu?

Ada orangtua yang bersedia dan minta kepada Allah dan menyerahkan anaknya untuk menjadi imam atau suster. Tapi kenyataannya, Allah tidak memanggil. Saya sendiri, tidak berpikir sama sekali untuk menyerahkan atau bahwa anak saya mempunyai panggilan itu. Tapi ternyata, dia terpanggil dan dipilih Allah menjadi imam. Maka, saya meyakini bahwa panggilan hidup bakti itu adalah inisiatif Allah sendiri, bukan kemauan anak atau pun orangtua.

Hal itu terjadi pada saya. Allah berinisiatif dan manusia diberi kebebasan luar biasa memilih apakah menolak atau menanggapi panggilan itu. Anak saya, yang sudah saya anggap cukup dewasa, berani tinggalkan semua yang dicapai untuk menanggapi panggilan Allah. Saya membayangkan sebagai seorang pencari mutiara yang setelah menemukan mutiara itu dia pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu, seperti tertulis dalam Mat 13:46.

Keputusan anakku pastilah keputusan yang tidak mudah. Tapi, dia berani menanggapi dengan sungguh-sungguh atau serius, sehingga saya melihat sejak awal sampai ditahbiskan dia tidak terlalu mengalami keraguan.

Bagaimana dengan anak yang lainnya?

Kakak dari Edwin pun sama. Sekarang (saat wawancara dilakukan. Red.) Cornelius Leo Adrianus adalah frater dari Community of Sain John di Perancis. Dia pun sudah bergelar Doctor of Philosophy untuk International Trade dan juga master untuk geografic information system di bidang bisnisnya. Bahkan, dia sudah menjadi asisten dosen di Buffalo University.

Dia mungkin terpanggil karena melihat adiknya atau karena memang dia tertarik membaca buku-buku rohani tentang kehidupan santo-santa. Ya, kelihatanmya Allah itu memanggil orang-orang dengan segala dan beragam cara. Kalau dia senang membaca buku santo-santa, adiknya (Edwin) senang nonton film Bernadette.

Apakah suasana rumah saat mereka kecil ikut mendorong panggilan mereka?

Saya yakin, keputusan mereka untuk menentukan langkah itu pastilah tidak mudah, karena  mereka memiliki kecukupan dan modal secara duniawi. Keputusan mereka untuk berani meninggalkan semua demi hidup yang tertuju kepada Yesus, pasti karena mereka merasa Yesus sudah mencintai mereka lebih dahulu.

Ketika mereka kecil, saya hanyalah orang Katolik pas-pasan, yang minimalis. Siang malam saya aktif mencari harta duniawi. Ketika saya mendorong mereka menjadi misdinar pun mereka ngak mau.

Apakah keputusan mereka berdampak dalam kehidupan Anda?

Benar, langkah berani mereka membawa dampak kepada orangtua. Dulu, kalau saya bekerja mencari harta dunia siang malam, pasti pikiran saya semuanya untuk anak. Sebagai orang awam, tentu tidak salah kita mencari harta dengan mencurahkan segala cara, tenaga, pikiran dan waktu, lalu menikmatinya. Itu biasa. Tapi Allah mau lebih dari itu.

Ketika Allah memanggil kedua anak saya, Allah mengingatkan kita bahwa ana-anak saja tidak mau harta dunia. Maka, saya juga bertanya, Allah rencananya apa? Pelan-pelan saya mendapat jawabannya dan mulai membuka membuka hati dan menerimanya sebagai rahmat.

Saya ingat perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur dalam Lukas 16:1-13. Saya artikan ayat-ayat itu bahwa manusia di dunia hendaknya tidak hanya cerdik dan dengan segala cara mencari harta dan kehidupan dunia, tetapi hendaknya mencari harta yang kekal, kehidupan yang kekal, kebahagiaan yang kekal, dengan segala tenaga, pikiran, waktu dan cara.

Saya terus bertanya bagaimana dengan saya. Matius 7:21-23 mengingatkan saya untuk melakukan kehendak Bapa. Saya merenung, selama ini saya mencuri kemuliaan Allah. Kalau saya mencuri kemuliaan Allah, sama saja upahku sudah saya ambil di dunia dengan menikmati semua keberhasilan saya karena kehebatan atau jerih payah saya. Kalau juga saya memberikan donasi atau pelayanan supaya diketahui orang itu sama saja dengan mencuri kemuliaan Allah, berarti upahnya sudah diambil di dunia, jangan diminta double di sana.

Apa yang Anda harapkan dari orangtua Katolik demi masa depan Gereja?

Ada pertanyaan yang harus dijawab, siapakah aku ini, saya dari mana, saya mau ke mana? Setiap orang harus menjawab tiga pertanyaan itu. Waktu dibaptis saya sudah menjadi anak Allah, milik Allah, ahli waris kerajaan. Saya bukan dari dunia ini. Saya mau pergi ke rumah Bapa, tujuannya jelas. Kalau fokus pada tujuan, pasti kita akan mencapainya, meski kita mampir sebentar di beberapa tempat.

Berkaitan dengan anak-anak, kita harus menempatkan diri sebagai tukang parkir yang kerjanya hanya menjaga mobil milik orang lain. Kalau orang mau ambil mobilnya, masa ngak boleh sama tukang parkir? Anak juga bukan milik kita. Kalau Allah mau pakai, masak kita bilang tidak? Tugas kita hanya memperbesar anak itu, memberi dia fasilitas pendidikan. Kalau Allah mau pake, silahkan, bukan milik saya. Itu tukang parkir yang baik.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Master informasi bereferensi geografis dari Amerika berpaling jadi imam

sanjaya 3
Aloysius Sanjaya bersama isteri (berdiri) bersama dua anaknya Frater Cornelius Leo Adrianus (paling kiri) dan Pastor Edwin Bernard M Timothy OP (kedua dari kiri)
Sanjaya 5
Pastor Edwin Bernard M Timothy OP ketika Misa Pertama di Paroki Redemptor Mundi
Aloysius Sanjaya (ketiga dari kiri) ketika diterima menjadi Postulan PDA
Aloysius Sanjaya (ketiga dari kiri) ketika diterima menjadi Postulan PDA
Sanjaya 2
Aloysius Aluinanto Sandjaya (berdiri, ketiga dari kanan) bersama Persaudaraan Dominikan Awam Kelapa Gading Jakarta bergambar bersama Pengurus PDA Jakarta serta Pastor Andrei Kurniawan OP
Aloysius Sanjaya (paling kiri) sedang belajar dan mendoakan Ibadat Harian di kapel di rumahnya (PEN@ Katolik/pcp)
Aloysius Sanjaya (paling kiri) sedang belajar dan mendoakan Ibadat Harian di kapel di rumahnya (PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan