Panitia Indonesia Bersatu dan Peduli

Setiap agama mengajarkan bahwa berbagi bukan hanya persoalan mengurangi harta benda, melainkan mengingatkan bahwa bumi dan segala kekayaan terkandung di dalamnya adalah milik kita dan untuk kepentingan bersama. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan kekayaan alam untuk semua manusia dan wajar jika dimanfaatkan bersama secara adil, terutama bagi orang yang membutuhkan.

Pernyataan itu tertuang dalam edaran yang diterima PEN@ Katolik tentang Panitia Indonesia Peduli dan Bersatu yang lahir di saat pandemi virus corona (Covid-19) melanda Indonesia dan ternyata masyarakat dengan level ekonomi rendah paling banyak merasakan dampaknya.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka saat social distancing, dan untuk ikut mensukseskan program social distancing yang diimbau pemerintah, serta untuk memberikan informasi tepat melalui medsos serta mengurangi siklus penyebaran pandemi itu, panitia itu pun membuat proyek dengan nama “Project Indonesia Peduli dan Bersatu.”

Proyek penanggulangan pandemi Covid-19 di Indonesia itu adalah program kolaborasi Gerakan Pemuda Ansor (organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama), Yayasan PenaMas Mulia (yayasan sosial kemanusiaan di Surabaya untuk mengentaskan kemiskinan secara material, sosial, emosional, dan spiritual melalui pendidikan yang berkesinambungan dan pembangunan budi pekerti), dan Yayasan Landak Bersatu (yayasan milik Keuskupan Agung Pontianak yang kini menjalankan STKIP Pamane Talino di Ngabang, Kabupaten Landak, Kalbar).

Menurut edaran itu, program ini “akan fokus penyediaan bahan makanan, alat kesehatan (AlKes) dan alat pelindung diri (APD), juga edukasi tentang Covid-19 serta pencegahan dan penanggulangannya.” Dengan sumbangan minimal Rp 100.000, tegasnya, mereka akan mendistribusikan 1.000.000 (satu juta) paket bahan makanan (senilai kurang lebih Rp 100.000,- per paket).

Target pendistribusian adalah “masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah” di Jabodetabek (35% sumbangan), di Surabaya dan sekitarnya (25% sumbangan), di Semarang dan sekitarnya (25% sumbangan) dan di Kalimantan Barat (15% sumbangan).

Selain sumbangan itu, tulis edaran itu, melalui team media yang dibentuk oleh Yayasan Landak Bersatu, Yayasan PenaMas Mulia dan GP Ansor, “akan diadakan edukasi yang tepat untuk masyarakat mengenai serba-serbi pandemi Covid-19 dan upaya pencegahan dan penanggulangannya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.”

Sebagai sesama anak bangsa, jelasnya, “kita mempunyai tanggung jawab sosial kepada masyarakat level ekonomi rendah yang terdampak, terlebih mereka adalah pihak yang akan menjadi barisan depan yang mendapat resiko kesehatan dan ekonomi yang sudah disebutkan di atas.”

Dari segi kesehatan misalnya, “ketika masyarakat miskin masih tidak bisa menjalankan anjuran social distancing karena tuntutan ekonomi, mereka akan jadi pihak yang sangat beresiko terinfeksi Covid-19 dan memperbesar kemungkinan meluasnya pandemi itu.”

Dalam sisi ekonomi, lanjutnya, “semakin banyak pihak terinfeksi Covid-19, maka akan memperlambat rehabilitasi ekonomi dan recovery-nya, yang pasti situasi dan kondisi sosioekonomi akan semakin memburuk, dengan harga social-impact semakin tinggi.”

Mereka yakin, apabila krisis semakin parah akan terjadi ketidakpastian dalam kehidupan berbangsa, “bahkan yang telah kita bangun puluhan tahun akan hancur berantakan, akhirnya semua pihak terkena efek negatif itu. Masyarakat miskin memang yang paling menderita, namun semua lapisan masyarakat tidak bisa mengelak dan tidak ada jalan lain selain menghadapi masalah bersama. Dengan kata lain, yang rugi adalah kita semua dengan semua modal sosial yang telah ada.”

Panitia Indonesia Peduli dan Bersatu berada di bawah lindungan Mgr Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak dan Ketua Pembina Yayasan Landak Bersatu), KH Yahya Cholil Staquf (Katib Aam PBNU), Totok Lusida (Ketua Umum REI/Penasehat Yayasan Landak Bersatu), dan Adrianus Asia Sidot (Pembina Yayasan Landak Bersatu). Dewan Pengawasnya, Pastor Johanes Robini Marianto OP (Ketua Yayasan Landak Bersatu), Pastor C.J Harry Liong Pr, Sujanto Tjokro (Ketua Yayasan PenaMas Mulia Surabaya).

Ketua Umum panitia, yang juga memiliki beberapa koordinator wilayah serta team media dan team hukum itu, adalah H Yaqut Cholil Qoumas (Ketua Umum GP Ansor), Sekjen Denny Hartono (Pembina Yayasan PenaMas Mulia Surabaya), Ketua Harian Faisal Saimima (Ketua PP GP Ansor), Wakil Ketua 1 Ditto Santoso, Wakil Ketua 2 BJ Doddy Vidhiantoro.

Sekretaris 1 adalah Mustika Aji Hertanto, 2 Trio Kurniawan, 3 Ria Laurent dan Bendahara adalah Pastor Andreas Kurniawan OP (Bendahara Keuskupan Agung Pontianak) dan Pastor Mindgry Hanafi Tjipto OP (Anggota Pembina Yayasan Landak Bersatu).

Alamat Sekretariat adalah Pimpinan Pusat GP ANSOR, Jl. Kramat Raya No. 65A, Jakarta Pusat, DKI Jakarta Telepon: (021) 3162929 Fax: (021) 3162929, dan “Surat Kesediaan Menjadi Donatur” bisa menghubungi Bank BCA KCP Gajah Mada, Nomor Rekening 512-5500002, Atas nama Keuskupan Agung Pontianak, Contact Person Romo Andreas Kurniawan OP, Telepon 081252338650 (PEN@ Katolik/pcp/aop)

Tinggalkan Pesan